Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 11 Nopember 2012

diposting pada tanggal 9 Nov 2012 08.07 oleh Essy Eisen
Ada apa di balik setiap pemberian?

1 Raja-Raja 17:8-16, Mazmur 146, Ibrani 9:24-28, Markus 12:38-44


Tentu ada alasan saat seseorang memberikan sesuatu. Hati yang dipenuhi sukacita dan kehangatan cinta kasih, merupakan sebab yang mulia dan benar. Saat kita menyerahkan diri kepada Allah untuk dikuasai kasih-Nya, maka diri kita seutuhnya, bukan lagi menjadi milik kita, tetapi menjadi milik Allah. Kita dimampukan-Nya untuk menularkan kasih-Nya. Akan selalu ada kerelaan untuk memberi diri dalam melakukan kasih bagi setiap orang yang sudah menyerahkan diri-Nya untuk dipimpin oleh Kristus melalui Firman dan Roh-Nya.

Kristus merindukan kita memberikan hati kita. Sebab jika hati kita menjadi milik-Nya, segenap perhatian, waktu, sumber daya, kemampuan, kelebihan, dikelola dan didayagunakan sejalan dengan apa yang Kristus inginkan. Saat Kristus menjadi prioritas utama, prioritas lain dikelola dengan menggunakan hikmat-Nya sehingga bermuara pada tindakan kasih yang memuliakan Allah.

Jika kita memberikan sesuatu, entah itu uang, tenaga, waktu, tidaklah itu dianggap sebagai pembayaran tagihan atau tunggakan, tetapi dilakukan sebagai sebuah rasa syukur. Selagi Gereja turut serta mengerjakan apa yang menjadi misi Allah bagi dunia ini, kita terpanggil untuk terlibat di dalamnya sebagai salah satu bentuk dalam mendayagunakan talenta yang Allah percayakan bagi kita.

Apa yang ada di balik setiap pemberian? Hati yang terarah kepada Allah! Itulah yang Kristus lihat dari persembahan janda yang miskin dalam kisah Injil hari ini. Memberi dari kekurangan adalah pemberian yang nilainya besar di mata Kristus, sebab di baliknya ada iman, pengharapan dan kasih kepada Allah. Ibu janda miskin ini menyerahkan dirinya dalam pemeliharaan Allah yang diimaninya setia. Ia bersyukur, beriman dan menunjukkan kasih yang besar kepada Allah. Pemberiannya ialah pemberian yang sampai “sakit”. Pemberian total dan yang terbaik yang dapat ia berikan kepada Allah dari segala usahanya.

Sikap ibu janda yang sederhana ini sungguh sangat berharga di mata Kristus ketimbang orang yang memberi dalam jumlah yang besar tetapi tanpa kemurahan hati dan dengan tinggi hati. Sikap ibu janda ini seolah-olah ingin menunjukkan dengan jelas perbandingan antara dia dengan para ahli taurat yang suka tampil ke muka untuk menerima apresiasi sosial dari khalayak demi kemuliaan diri sendiri dan bukan kemuliaan Allah. Dalam tindakan yang seperti itu, mereka tidak sedang memberi, tetapi sedang ingin “mendapatkan”. Di balik pemberian diri mereka, ternyata ada kebusukan dan kejahatan pementingan diri sendiri.

Tentu kita terus berproses, supaya kita selalu menemukan sukacita dalam memberi. Tentu kita terus belajar, supaya di balik setiap pemberian kita, ada hati yang tulus, tanpa mengharapkan apapun, tetapi semata-mata karena syukur kita kepada Allah yang sudah begitu banyak memberi berkat-Nya dalam berbagai bentuk yang sudah kita sadari sesadar-sadarnya. Melaluinya iman kita ditolong Roh Kudus untuk terus bertumbuh dewasa dan melihat bahwa sejatinya kita ini hanyalah pengelola dan bukan pemilik dari apa yang kita miliki saat ini. Allahlah yang sudah mempercayakannya kepada kita. Dialah pemilik sejati kehidupan kita. Kalau kita memberi, sebenarnya kita tengah mengembalikan kepada-Nya apa yang memang menjadi milik-Nya. Mari renungkan. Apa yang ada di balik setiap pemberian kita selama ini?

(Pdt. Essy Eisen)
Comments