Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 11 Desember 2011

diposkan pada tanggal 10 Des 2011 15.53 oleh Essy Eisen
“Jadilah Tuhan Kehendak-Mu!”

2 Samuel 7:1-11. 16, Mazmur 89:1-4, 19-26, Roma 16:25-27, Lukas 1:26-38

Kehadiran Yesus adalah bukti Allah menepati janji-Nya (2 Sam 7:16, Mzm 89:1-4, 19-26 ). Paulus menegaskan bahwa kehadiran Yesus sudah diberitakan melalui tulisan-tulisan para nabi. Melalui kehadiran Yesus di Bumi, orang menerima kabar baik, bahwa Allah adalah kasih, dan Dia setia kepada janji-Nya. Melalui pengajaran Yesus, orang yang percaya kepada-Nya beroleh hikmat Allah untuk hidup dengan penuh ketaatan kepada-Nya. (Rm 16:25-27). Kita bersyukur karena kehadiran Yesus Kristus di Bumi. Sebab melalui-Nya kita mengetahui kehendak Allah dengan benar untuk kita hidupi.

Namun dalam Kitab Suci, kita mendapati bahwa kehendak Allah bukanlah kehendak yang sepihak. Allah berkenan untuk memanggil dan memakai setiap orang yang dipilih-Nya untuk terlibat dalam pemenuhan kehendak-Nya itu. Maria adalah salah satu orang yang mau terlibat. Saat malaikat Allah memanggil dan menyatakan tugas yang harus diembannya, Maria dengan penyerahan diri yang penuh mau percaya akan pemeliharaan Allah dan bersedia memposisikan diri sebagai hamba Tuhan, untuk menjadi alat di tangan Allah menyalurkan kebaikan-Nya melalui kehadiran Yesus (Luk 1:38).

Apa yang membuat Maria mampu menerima dengan lega namun serius panggilan Allah itu? Jika kita melihat secara utuh kisah penyataan malaikat Allah terhadap Maria, ternyata kisah itu didahului juga dengan peristiwa-peristiwa dan petunjuk-petunjuk yang terang berangkat dari janji Allah dalam kitab suci. Sebagai famili dari Elisabet dan Imam Zakharia (orang tua Yohanes Pembaptis), Maria tentu adalah orang yang membaca dan memaknai kitab suci dengan benar. Ini memberikan kepekaan spiritual tersendiri baginya saat menjumpai pengalaman-pengalaman hidup dalam percakapan dengan Elisabet, dalam menyikapi relasi pertunangannya dengan Yusuf, semua terjalin erat dengan apa-apa yang sudah ditulis para nabi jauh hari sebelumnya. Oleh sebab itu bersama-sama dengan segenap orang yang setia menantikan kehadiran Mesias/Kristus, pada zamannya, Maria menjadi pribadi yang sigap dan mau rendah hati saat mendengar panggilan Allah untuk menjalankan kehendak-Nya, menjadi ibu bagi Juruselamat.

"Saya ini hamba Tuhan; biarlah terjadi pada saya seperti yang engkau katakan." (Luk 1:38). Inilah yang dikatakan Maria kepada malaikat Allah, tanda penyerahan total untuk mau dibentuk Allah dan berjalan bersama Allah dalam menghadapi tantangan kehidupan. Tidakkah kata-kata itu juga tepat kita ucapkan saat kita memasuki masa-masa Adven, dalam penantian kedatangan Kristus sebagai Hakim yang adil dan juga saat kita kembali mengenang kehadiran-Nya di Bumi ini?

Pengakuan untuk menjadi hamba Tuhan, bukanlah semata-mata soal status, tetapi fungsi. Pengikut Kristus di seluruh Dunia terpanggil untuk memiliki semangat seperti Maria ini. Jiwanya adalah jiwa menghamba, yang ingin memberikan yang terbaik bagi yang lain. Hatinya adalah hati yang merendah, mengikis pementingan diri demi kebaikan yang lain. Sikapnya adalah sikap yang terbuka kepada pembaruan hidup berangkat dari pengharapan yang teguh bahwa Allah senantiasa membentuk anak-anak-Nya untuk menjadi yang terbaik dalam pandangan dan rencana-Nya yang setia.

Saat kita memiliki semangat, jiwa, hati dan sikap seperti Maria, dengan hikmat-Nya kita berproses bersama Allah dalam penyataan kehendak-Nya yang baik bagi hidup kita dan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak lagi menjadi orang yang terlalu cepat menuntut, namun bersabar. Kita tidak lagi menjadi orang yang memaksa dan memerintah-merintah Allah, tetapi menjadi anak-anak-Nya yang percaya dan taat dalam didikan-Nya yang membangun. Mengatakan “Jadilah Tuhan Kehendak-Mu” memang butuh kerendahan hati, bahkan merendahkan diri/ego. Tetapi bukankah itu juga yang menjadi cara Allah yang kita jumpai dalam momen Natal-Nya, saat Allah memilih hadir dalam sosok bayi mungil untuk berproses, terlibat aktif, bersama manusia membarui Bumi ini? Selamat menjadi hamba Tuhan! (Pdt. Essy Eisen)
Comments