Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 11 Agustus 2013

diposting pada tanggal 17 Sep 2013 22.55 oleh Essy Eisen
Hari terarah pada Tuhan dan memegang janji-Nya

Kejadian 15:1-6; Mazmur 33:12-22; Ibrani 11:1-3, 8-16; Lukas 12:32-40

Seorang teman pernah bertanya: “Apa bedanya pergi ke gereja dengan pergi ke klub hiburan?” Secara bercanda saya jawab bahwa seseorang harus membayar kalau masuk ke klub hiburan. Tapi teman saya ini membantah dengan mengatakan bahwa ke gereja pun orang harus keluar uang untuk persembahan dan ucapan syukur.Saya manggut-manggut tanda dapat memahami argumentasinya. Lalu terjadilah diskusi antara kami berdua.

Saya : “Orang datang ke klub tanpa ikatan dan komitmen tertentu. Sedangkan di gereja mereka terdaftar sebagai anggota dan punya komitmen. Di gereja ada ibadah rutin, ada persekutuan, ada saling berbagi.”

Teman : “Siapa bilang di klub tidak ada hal seperti itu? Banyak orang bertahun-tahun terdaftar sebagai anggota tetap dengan membayar iuran tahunan.Mereka punya kesetiaan kepada klub, punya komitmen, punya jadwal pertemuan rutin dan saling berbagi. Bahkan kadang-kadang mengadakan aksi sosial bersama.”

Saya : “Hmm..., tapi orang pergi ke gereja untuk beribadah, untuk bertemu dengan Tuhan.”

Teman : “ Ah, apa benar semua orang pergi ke gereja untuk bertemu Tuhan? Apa Tuhan hanya

ada di gereja? Apa Tuhan tidak bisa ditemui di klub hiburan?”

Saya : “Maksudku, orang pergi ke klub untuk mencari hiburan demi kepuasan pribadi. Kalau mereka tidak suka, mereka dapat pindah ke klub lain kapan saja mereka mau.”

Teman : “Sama dong. Orang pergi ke gereja juga untuk mencari kepuasan pribadi, kan? Buktinya banyak orang pilih-pilih pendeta yang menurut mereka khotbahnya cocok dengan selera mereka.Banyak jemaat berpindah-pindahgereja karena merasa tidak dapat apa-apa di gereja asalnya, merasa suasana ibadahnya tidak pas, merasa tidak ada urapan.Bukankah itu juga namanya mencari kepuasan pribadi?”


Analisa teman saya inimungkin ada benarnya. Tapi benarkah tidak ada bedanya antara pergi ke gereja dengan ke klub hiburan? Kalau ada, apa bedanya?

Dalam Lukas 12:32-40 Yesus menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya seperti hubungan seorang tuan dan hamba.Setiap orang yang mengaku percaya kepada-Nya digambarkan sebagai hamba-hamba yang sedang ditinggal pergi tuannya ke perkawinan. Para hamba itu diingatkan supaya berjaga-jaga dengan sikap waspada, menanti kembalinya sang tuan dari perkawinan. Lewat perumpamaan itu Yesus mengingatkan para murid bahwa yang menjadi pusat dalam kehidupan orang percaya adalah Allah sendiri, dan bukan manusia.Respon umat terhadap kekuasaan Allah itu adalah hidup dengan hati yang terarah kepada Tuhan, hidup dengan sikap berjaga-jaga menunggu kedatangan Sang Tuan.

“Kedatangan sang tuan” disini tidak harus selalu dimaknai sebagai kedatangan Yesus yang kedua kali pada akhir jaman (parousia). “Kedatangan sang tuan” dapat juga dialami sebagai perjumpaan seseorang dengan Allah di berbagai kesempatan dalam kehidupannya sehari-hari. Kisah Abraham dalam Kej.15: 1-6 mengisahkan bagaimana Abraham mengalami perjumpaan dengan Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Sejak Kejadian 12 digambarkan hubungan Allah dengan Abraham adalah hubungan yang bersifat perjanjian. Allah menampakkan diri kepada Abraham dan memanggilnya. Allah mengikat perjanjian dengan Abraham lalu Abraham percaya kepada Allah dan janji-Nya. Sejak perjanjian itu seluruh hidup Abraham berpusat kepada Allah. Abraham berangkat dari kampung halamannya dan mengembara sesuai dengan petunjuk Allah. Abraham meninggalkan semua kenyamanan dan hidup berdasarkan perintah Allah. Dan sejak itu pula Abraham berkali-kali mengalami “kedatangan Sang Tuan” dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam perjumpaan itu Allah memberi janji kepada Abraham, menguatkan, menghibur, melindungi. Abraham merespon ikatan perjanjian itu dengan cara hidup dalam sikap batin yang selalu waspada menanti-nanti Allah yang dapat sewaktu-waktu datang dan berfirmankepadanya.Abraham selalu membuka diri terhadap kehendak Allah bagi dirinya.

Apakah kita sebagai umat Allah di masa kini masih dapat mengalami perjumpaan seperti yang dialami Abraham? Kapan dan dimana perjumpaan dengan Allah itu dialami? Belajar dari pengalaman Abraham dan orang-orang beriman sebelum kita, perjumpaan dengan Allah secara umum dapat dialami dalam berbagai pengalaman hidup sehari-hari. Namun secara khusus perjumpaan itu dialami dalam liturgi dan khotbah ibadah hari Minggu, dalam sakramen, dalam pendalaman Alkitab Kelompok Kecil dan persekutuan wilayah, melalui berbagi pengalaman iman dalam Kelompok Tumbuh Bersama, dalam perjamuan kasih, dalam doa dan saat teduh pribadi.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, dalam iman kita mengakusebagai umat perjanjian.kita semua, sebagaimana Abraham, percaya kepada Allah dan janji-Nya. Kita mengaku bersedia hidup sesuai dengan firman-Nya.Belajar dari bacaan hari ini kita selayaknya hidup dengan sikap batin yang berjaga-jaga sebagaimana diajarkan Yesus Kristus agar saat Dia datang kita menyadari dan mengalami kehadiran-Nya, entah dalam ibadah, khotbah, sakramen, Kelompok Kecil, pendalaman Alkitab, maupun saat teduh dan doa pribadi.Melalui perjumpaan itu setiap kita ditumbuhkan, dikuatkan, ditegur, dipulihkan, dituntun, serta dibentuk oleh Tuhan.Melalui perjumpaan itu setiap kita semakin tahu apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika Ia datang....” (Luk.12:37a).

Komitmen:

Menyiapkan hati dan berjaga-jaga akan perjumpaan dengan Allah melalui setiap kesempatan
saat menjalankan ibadah hari Minggu, pendalaman Alkitab, Kelompok Kecil, doa dan saat teduh pribadi.



(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments