Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 10 November 2013

diposkan pada tanggal 10 Nov 2013 23.58 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Mei 2014 01.40 ]
Allah orang yang hidup

Ayub 19:23-27; Mazmur 17:1-9; 2 Tesalonika 2:1-5, 13-17; Lukas 20:27-38

Apa yang dipercayai atau diimani seseorang akan mempengaruhi cara hidup dan cara orang tersebut bertindak. Misalnya, Si A percaya bahwa Allah yang dia sembah adalah Allah yang akan melimpahi seseorang dengan berkat jika orang tersebut rajin menjalankan ritual ibadah dan banyak memberi persembahan. Pemahaman seperti itu mungkin akan mendorong si A menjadi rajin menjalankan ibadah dan banyak memberi persembahan, namun dengan tujuan agar Allah melimpahinya dengan berkat.

Contoh lain, sekelompok orang percaya bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang penghukum dan mereka adalah sekelompok orang saleh yang dipilih Allah untuk menegakkan kemurnian ajaran dan menghukum siapa saja yang hidup tidak sesuai dengan ajaran yang murni tersebut. Pemahaman seperti itu akan membuat sekelompok orang tersebut menjadi polisi iman, yang kerjanya memata-matai kehidupan semua orang yang dijumpainya dan menghukum siapa saja yang menurut mereka melakukan pelanggaran. Pemahaman bahwa Allah adalah Allah yang penghukum seperti ini membuat penganutnya tidak bisa melihat aspek Allah yang pengampun, pengasih, dan penyayang. Keyakinan semacam itu dapat mendorong mereka bertindak sewenang-wenang dan tidak adil.

Bacaan Injil hari ini memperlihatkan ada banyak pemahaman tentang Allah dan tentang hidup di jaman Yesus saat itu. Dalam Lukas 20: 27-33 digambarkan adanya sekelompok orang yang tidak mengakui adanya kebangkitan setelah kematian. Karena itu, bagi orang Saduki ini, Allah hanya punya sangkut paut dengan manusia selama manusia itu hidup di dunia ini saja. Benarkah demikian? Di ayat 34-38 Yesus menyatakan adanya kebangkitan setelah kematian. Karena itu, hubungan Allah-manusia berlangsung tidak melulu pada kehidupan di dunia ini saja, melainkan dalam kekekalan. Mereka yang dibangkitkan itu, yang disebut anak-anak Allah, tidak dapat mati lagi. Keyakinan semacam ini juga dimiliki oleh Ayub : “Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah,” (Ayub 19: 26)

Pernyataan Yesus, dan juga pengakuan iman Ayub, menegaskan setidaknya dua hal:

Allah adalah Allah dari orang-orang yang hidup, bukan Allah dari orang-orang yang mati;
Allah adalah sumber kehidupan bagi siapa saja yang hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Penegasan Yesus ini merupakan kabar gembira bagi kita semua yang bersedia menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mendengar perkataan Yesus ini kita semua diingatkan kembali bahwa ada kebangkitan yang menanti kita sesudah kematian, dan dalam kehidupan yang kemudian itu kita semua hidup sebagai anak-anak Allah. Artinya, kita akan hidup bersama Allah dalam kekekalan.

Namun, pernyataan Yesus itu juga berarti sebuah ajakan bagi setiap orang percaya untuk memberitakan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa Allah yang kita kenal adalah Allah orang yang hidup dan Allah yang menghidupkan. Berkenaan dengan itu kita selayaknya memiliki cara hidup yang khas, hidup kudus, yang mencerminkan iman kita tentang Allah yang menghidupkan. Iman seperti itu selayaknya juga mendorong setiap orang percaya untuk senantiasa menjaga persekutuan dengan Allah sang sumber hidup. Persekutuan dengan Allah yang hidup itu pada gilirannya akan mendorong kita menjadi pemberita kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita. Di saat banyak orang menghadirkan kehidupan beragama yang disertai dengan kekerasan dan kematian, kiranya kita sebagai orang percaya dapat hadir sebagai pembawa kehidupan yang Tuhan tawarkan.

(Mathyas Simanungkalit, S.Si. (Teol.))
Comments