Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 10 Maret 2013

diposkan pada tanggal 8 Mar 2013 23.44 oleh Essy Eisen
Diampuni Untuk Menjadi Pembawa Damai

Yosua 5:9-12, Mazmur 32, 2 Korintus 5:16-21, Lukas 15:11-32

Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang (Yos. 5:9). Gilgal (nama ini bunyinya seperti kata dilenyapkan dalam bahasa Ibrani), menjadi monumen peringatan kasih anugerah Allah yang mengampuni dosa umat. Umat merayakan paska (peristiwa pembebasan dari belenggu perbudakan di Mesir) dan juga hari raya roti tidak beragi. Mereka tidak lagi makan manna, tetapi hasil negeri Kanaan. Pembebasan yang dilakukan Allah memampukan umat untuk menjalani kehidupan yang baru.

Allah memang penuh kasih. Pemazmur meyakini itu dengan sungguh. Ia berkata: Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku (Mzm. 32:5).

Bagi setiap orang yang mau mengakui kesalahan dan menyesal, bertobat, berbalik kepada Allah, statusnya sebagai anak dikembalikan oleh Allah. Dalam kisah “anak yang hilang”, atau sebenarnya lebih tepat, kisah “Bapa yang penuh kasih” Tuhan Yesus menceritakan bahwa, si anak yang menyesal dan merasa tidak layak disebut anak bapanya, ingin jadi upahan saja.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria
(Luk. 15:21-24). Sungguh mengaggumkan kasih bapanya. Ia mengenakan jubah, cincin, sepatu dan mengadakan pesta. Bagi si bapa, anaknya selalu menjadi anaknya, bukan upahan. Memang pernah hilang, tetapi kini si anak telah sadar. Ia kembali menikmati segala yang baik yang dikaruniakan bapanya. Bukankah kasih Allah di dalam Yesus Kristus juga seperti itu?

Bagi Paulus, “..siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami (2 Kor. 5:17-19). Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5:21).

Karena kasih Tuhan Yesus Kristus, setiap orang mendapat kesempatan yang baru untuk mengisi hidupnya sebagai pelayan-pelayan-Nya. Bukan sekedar cinta damai, tetapi menjadi pembawa damai bagi dunia. Bukankah itu yang terjadi dengan Paulus? Dulu namanya Saulus, penganiaya jemaat Kristus. Kini Paulus, menjadi pelayan pendamaian. Ia menjadi ciptaan baru. Hidup lama ditinggalkannya. Hidup yang baru ditempuhnya. Ia sudah berbaikan dengan Allah dan dimampukan untuk berbaikan dengan sesamanya.

Di minggu prapaska ke empat ini kita mendapat kabar baik, bahwa pengampunan itu memulihkan. Cara kita berelasi dipulihkan Allah. Bagi yang menyesal dan bertobat, akan diampuni Allah. Bahkan bukan saja diampuni. Pikiran dan perasaan kita dibarui Allah untuk dapat mengampuni sesama! Setelah menerima kasih Allah di dalam karya Tuhan Yesus Kristus, kita juga pasti dimampukan Roh Kudus untuk mengasihi sesama ciptaan Allah dengan kasih yang besar juga!

Pertanyaan Aplikasi
  1. Ada apa di Gilgal? Apa dampak peristiwa Gilgal bagi umat Israel selanjutnya?

  2. Apa maksud Yesus menceritakan kisah “anak yang hilang” ini? Saat ini siapa saja dalam hidup Anda yang menjadi “anak yang hilang”, “bapa yang pengasih”, “anak yang sulung”?

  3. Apa ada kaitan antara diampuni dan menjadi pembawa damai? Apakah itu yang terjadi dengan kehidupan Paulus? Bagaimana dengan kehidupan Anda saat ini?

(Pdt. Essy Eisen)

Comments