Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 10 Juni 2012

diposkan pada tanggal 9 Jun 2012 08.46 oleh Essy Eisen
Allah itu Baik!

Kejadian 3:8-15; Mazmur 130; 2 Korintus 4:13-5:1, Markus 3:20-35

Perhatikan Kejadian 3:8-15. Manusia tidak mati! Memang, setelah memakan buah yang dilarang untuk dimakan, manusia akhirnya menerima didikan yang tegas dari Allah, tetapi dibalik ketegasan-Nya, Allah baik. Allah pembebas dan pengampun, kasih-Nya setia dan tidak suka mengingat-ingat kesalahan orang (Mzm 130).

Rasul Paulus mensyukuri kelemahannya. Sungguh sebuah sikap iman yang dewasa. Mengapa? sebab kekuatan yang ia harus beritakan bukan kekuatan dirinya, melainkan kekuatan kasih setia Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Dengan mengakui kelemahan, ia menghindarkan diri untuk menjadi lebih terkenal ketimbang Yesus Kristus. Di dalam iman kepada Yesus Kristus ia mendapatkan pengharapan akan suasana kehidupan yang dilimpahi dengan kebaikan Allah sesuai dengan waktu dan rencana-Nya (2 Korintus 4:13-5:1).

Di dalam karya Tuhan Yesus Kristus kita menjumpai bukti yang kuat bahwa Allah tidak menghendaki “kesakitan” manusia. Allah tidak rela umat-Nya dirasuk oleh kuasa dan keinginan yang jahat. Allah setia dalam membarui ciptaan-Nya. Orang banyak yang menyaksikan karya Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus memiliki pengharapan yang besar kepada Kristus sebagai pembawa perubahan kenyataan kehidupan yang pedih ke arah yang lebih baik. Dialah Mesias! Penyelamat! Pembebas! Karena Kristus mereka dapat melihat kenyataan hidup secara baru. Berbeda dari mereka, keluarga Yesus sepertinya mengambil sikap yang “menyerah” terhadap kenyataan. Mereka tidak ingin Yesus mengambil langkah yang pada waktu itu berseberangan dengan para pemimpin keagamaan Yahudi. Rupanya keluarga Yesus “gagal” untuk melihat bahwa Yesus sedang melakukan gerakan pembaruan kerohanian yang buruk dari kalangan para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu. Di banyak kasus dalam kisah Injil kita mendapati betapa hati para pemimpin agama itu adalah hati yang tidak murni, saat umat Tuhan dibebani dengan rupa-rupa ritual tetapi tanpa lahir dari kasih yang tulus kepada Allah dan sesama. Ingat misalnya saat Kristus menyatakan kebaikan Allah pada hari sabat? Mereka malah mementingkan sabat, ketimbang kebaikan Allah. Kristus datang untuk melakukan reformasi spiritual bagi umat Tuhan! Jika kita memahami ini dengan jelas, maka kita dapat memahami mengapa para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu begitu terganggu dengan tindakan Yesus, bahkan sampai menuding Yesus dengan sangat keji sebagai “antek-antek” penghulu setan.

Tanggapan Yesus terhadap para pemuka agama yang takut kehilangan bisnis rohani mereka itu tegas. Apa yang dilakukan Yesus saat Ia menyembuhkan orang yang sakit sebenarnya mereka pasti sudah tahu. Sebab mereka mengenal Kitab Suci. Beragam kejadian di dalamnya nyata tentang bagaimana Allah bertindak memulihkan umat-Nya. Jadi sebenarnya mereka tengah memutarbalikan kebenaran dengan mengatakan bahwa karya kebaikan Kristus itu berasal dari roh jahat. Mereka seolah-oleh membutakan hati untuk melihat bahwa karya kebaikan Kristus adalah bukti bahwa Roh Kudus hadir dan memberikan pembebasan bagi mereka yang terikat dan tertindas. Menjadi jelas, dengan menyinggung soal “dosa menghujat Roh Kudus”, Yesus sedang mengajak para pemuka agama yang salah kaprah itu untuk tidak menyalahgunakan kemurahan Allah dengan memutarbalikan kebenaran. Mereka diajak untuk tidak mengeraskan hati saat mata mereka sudah melihat kebaikan Allah dinyatakan bagi umat-Nya.

Sebagai pengikut Kristus kita bersyukur akan kebaikan Allah yang nyata dalam kemurahan hati-Nya. Kita tidak lagi menjalankan kehidupan beriman kita dengan rasa takut, yang pada akhirnya dapat berdampak kepada sikap hidup yang mudah menghakimi sesama. Tetapi kita juga tidak menganggap remeh kemurahan hati Allah dengan memutarbalikan kebenaran demi kepentingan diri sendiri dan hidup meladeni hawa nafsu dosa. Namun, karena kebaikan Allah dan pengampunan-Nya, kita berjalan tegap dalam kenyataan hidup untuk terus mencari kehendak-Nya dan hidup di dalam-Nya. Bahkan kitapun dimampukan-Nya untuk memiliki semangat Injili Kristus yang membebaskan orang dari penderitaan dan perbudakan.

Pertanyaan Aplikasi:

  • Apa bukti kebaikan Allah bagi manusia saat manusia melakukan kesalahan?
  • Setujukah Saudara jika dikatakan sikap Paulus adalah sikap iman yang dewasa? Mengapa? (2 Kor. 4:13-5:1) 
  • Dalam penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus (Mrk. 3:20-35), apa yang dapat kita pelajari dari sikap orang banyak, sikap keluarga Yesus dan sikap para pemimpin agama Yahudi pada waktu itu? 
  • Allah itu baik! Kapan terakhir kali Saudara mengalami kebaikan Allah? Bagaimana kebaikan Allah menjadi nyata bagi orang lain melalui kehadiran hidup Saudara?
Comments