Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 10 Juli 2011

diposkan pada tanggal 7 Jul 2011 11.28 oleh Essy Eisen   [ diperbarui7 Jul 2011 11.34 ]
Jangan Enggan Berproses!

Yesaya 55:10-13, Mazmur 65:1-13, Roma 8:1-11, Matius 13:1-9, 18-23

Kisah pertobatan hidup seseorang tidak sama. Ada yang tiba-tiba. Ada yang melalui proses bertahap. Ada yang melalui proses yang panjang. Semuanya tentu bermakna dan berharga. Terlepas dari beragamnya kisah pertobatan hidup itu, yang harus menjadi tujuan ialah pertobatan yang tulus dan sejati. Pertobatan yang bukan sekedar “di kulit” saja, tetapi yang merasuk sampai ke “pusat jiwa”. Saat seseorang menghidupi pertobatan yang sejati itu, banyak hal berubah karena-Nya. Diri sendiri berubah, orang lain berubah, lingkungan berubah.

Perumpamaan Tuhan Yesus tentang penabur yang menaburkan benih (Matius 13:1-9, 18-23) bukan saja mengajak kita untuk menjadi seperti tanah yang baik, gembur dan subur bagi benih Firman Allah, tetapi juga mengajak kita untuk melihat kenyataan bahwa ada begitu banyak tantangan yang menghalangi Firman Allah untuk dapat berakar, bertumbuh dan berbuah. “Pinggiran jalan, tanah yang berbatu dan semak duri” pada zaman sekarang ini dapat diidentikan dengan kemalasan untuk belajar, ketidak-seriusan, kekuatiran, materialisme, dan ketidak-setiaan. Kelas PA di jemaat-jemaat sepi peminat. Kotbah minggu hanya diingat sampai hari minggu berakhir saja atau yang lucu-lucu saja. Dalam melakukan pilihan-pilihan tindakan hidup acapkali Firman Allah dikesampingkan. Pengabaian-pengabaian dilakukan dengan alasan-alasan yang berujung pada pementingan dan kenyaman diri sendiri.

Hal-hal ini terjadi karena banyak orang enggan berproses. Acapkali begitu melihat “benih” langsung ingin “buah”. Orang lupa bahwa untuk dapat menjadi pohon yang berbuah-buah, benih harus menempuh proses dalam wadah yang baik dengan pemeliharaan yang tekun dan setia. Karya pembaruan Allah senantiasa berlangsung dalam proses. Perhatikan Yesaya 55:10-13 dan Mazmur 65:1-13. Ingat juga proses penyelamatan Allah dalam Kristus yang diungkapkan Paulus dalam Roma 8:1-11. Allah mengutus Anak-Nya, menjadi manusia, dibangkitkan melampaui maut, menghadirkan jalan relasi yang mendamaikan bagi manusia, memberikan Roh Kudus sehingga orang yang percaya kepada Kristus memilki kebangkitan hidup, memiliki spiritualitas yang menghidupkan. Allah ternyata berkarya dalam proses.

Jika karya pembaruan Allah melalui Firman-Nya membutuhkan proses yang harus dijalani dengan tekun, maka tidak bisa tidak, semua orang yang ingin menikmati buah-buah kehidupan yang Allah karuniakan harus mencermati apa-apa saja yang dapat menghentikan proses itu dan sesering mungkin menghindarinya. Apa saja yang harus dihindari? Kengganan mengerti dan memahami Firman Allah, melupakan Firman Allah dan menganggap remeh Firman Allah. Kepada setiap orang yang mau berproses Allah mengaruniakan buah. Jadi, jangan enggan berproses!

(Pdt. Essy Eisen)
Comments