Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 10 Februari 2013

diposkan pada tanggal 6 Feb 2013 23.20 oleh Essy Eisen   [ diperbarui6 Feb 2013 23.24 ]
Retreat + Karya dari Yesus 

Keluaran 34:29-35, Mazmur 99:1-9, 2 Korintus 3:12-4:2, Lukas 9:28-43a

Retreat atau dalam bahasa Indonesia sering disebut retret, adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang berarti: tindakan atau proses mengambil waktu khusus untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang akan membahayakan kehidupan. Biasanya retret diadakan di tempat yang sunyi, segar, dekat dengan alam, yang akan membantu menenangkan pikiran, jiwa dan tubuh.

Retret dapat dan harus diadakan setiap hari. Tentu dalam pengertian retret pribadi di rumah sendiri saja. Kita telah mengenal istilah “saat teduh”. Saat di mana kita mengkhususkan waktu untuk berdoa dan merenungkan Firman Allah di tempat yang sunyi di rumah kita. Tindakan itu dapat disebut retret juga. Dengan hati yang rindu dan terbuka kepada sapaan Allah yang menuntun hidup melalui pembacaan Firman dan perenungan yang terfokus, kita akan mendapatkan manfaat yang besar. Kita akan mendapat pikiran yang jernih, jiwa yang segar dan tubuh yang relaks. Hal ini memberikan berkat yang besar saat kita hendak memulai aktivitas keseharian maupun dalam menutup hari.

Bagi Yesus, waktu khusus untuk berdoa, untuk “retret” itu penting. Dalam karya penginjilan-Nya, terlebih lagi saat Ia hendak maju menuju Kalvari, relasi yang akrab dan berkualitas dengan Bapa-Nya akan meneguhkan komitmen, mempermurni motivasi, dan menjaga fokus tujuan pelayanan dengan baik. Pada pembacaan Injil hari ini, kita menjumpai Yesus yang mengajak Petrus, Yohanes dan Yakobus, kelompok kecil dari murid-murid, ke atas gunung untuk berdoa.

Ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan jubah-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Lalu tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk. 9:29-31).

Dalam doa yang berkualitas, Yesus mendapatkan pengalaman kerohanian berupa peneguhan dari dua tokoh besar Perjanjian Lama yaitu: Musa, Nabi Allah yang menerima 10 Hukum di Sinai. Lalu Elia, Nabi Allah yang berjuang melawan kedegilan hati Raja Ahab dan Izebel, penyembah Baal. Kehadiran dua sosok hamba Allah ini seolah-olah ingin mengajak kita melihat bahwa karya Yesus Kristus adalah penggenapan dari segenap Hukum Allah dan kitab-kitab para Nabi.

Apa yang terjadi dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus? Kelompok kecil murid-murid itu? Mereka tertidur! Mungkin kelelahan? Mungkin bosan? Mungkin tidak mengerti? Malas? Kita tidak tahu pasti. Memang akhirnya mereka terbangun, dan mereka turut menyaksikan pengalaman kerohanian yang dialami Yesus. Petrus yang ceplas-ceplos bereaksi. Petrus ingin mengabadikan momen itu. Momen yang sebenarnya belum sepenuhnya dipahami dengan utuh olehnya.

Allah-pun bereaksi. Allah ingin mengabadikan momen itu bagi Petrus dan kawan-kawannya. Awan menyelimuti mereka, dan ada suara: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." Selepas suara itu, Yesus tinggal seorang diri. Peneguhan Bapa terhadap karya Anak-Nya jelas. Perintah Bapa terhadap murid-murid Yesus, juga jelas. Petrus, Yohanes, Yakobus, diperintahkan untuk mendengarkan Yesus! Mereka diajak untuk bukan sekedar menyaksikan kemuliaan Yesus dalam pengalaman rohani yang membuat mereka terkesima saja, tetapi juga menyimak apa yang diajarkan Yesus, meniru apa yang diteladankan Yesus, melanjutkan karya Yesus.

Pengalaman di atas gunung, atau pengalaman “retret” itu, menjadi pengalaman pribadi yang awalnya mereka simpan untuk sementara. Tetapi rasanya pengalaman itu tidak tinggal sebagai pengalaman rahasia. Sebab pengalaman itu pada saatnya menjadi pendorong bagi mereka untuk terus berproses memahami apa yang sebenarnya Yesus sedang kerjakan bagi dunia ini, bagi mereka juga, terlebih lagi setelah peristiwa kebangkitan Kristus.

Seusai “retret” itu, Yesus melanjutkan karya-Nya. Seorang anak yang sakit disembuhkan-Nya. Kuasa setan dikalahkan-Nya. Takjublah semua orang yang melihat, pada kebesaran Allah. Tentu penyembuhan itupun dilihat Petrus, Yohanes dan Yakobus. Tentu merekapun belajar, untuk hidup dalam Perjanjian Baru, untuk tidak sekedar melihat kemuliaan-Nya di atas gunung, tetapi juga kemuliaan-Nya yang dinyatakan dalam kepedulian-Nya di tengah-tengah keseharian hidup orang-orang yang lemah. Dan pada saatnya, merekapun akan dimampukan, untuk ikut serta melanjutkan karya-Nya.

(Pdt. Essy Eisen)
Comments