Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 21 April 2013

diposting pada tanggal 19 Apr 2013 00.42 oleh Merry Takasowa   [ diperbarui 20 Apr 2013 11.14 oleh Essy Eisen ]
"Karena begitu besar kasil Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supa setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal” ( Yoh 3:16) ayat berikut sering kali dijadikan dasar bagi orang Kristen mengenai anugerah hidup kekal.

Apa itu hidup yang kekal? Dalam KBBI, kekal berarti tetap, untuk selama-lamanya, abadi, lestari. Namun tentunya yang dimaksud anugerah hidup kekal disini bukan berarti hidup abadi tanpa mengalami kematian, hidup yang tidak pernah berakhir yang tanpa ada batas waktu. Hidup kekal dalam yang menjadi dominan dalam dogma Kristen adalah kehidupan yang akan dialami oleh manusia setelah kematian. Dimana setelah kematian, manusia akan bersama-sama lagi dengan Allah dan tidak ada lagi penderitaan melainkan sukacita yang terus melimpah. Anugerah hidup kekal sendiri telah kita terima secara cuma-cuma karena Kasih Allah kepada kita. Allah memberikannya tanpa pamrih, tanpa meminta balasan kepada kita. Anugerah yang begitu mahal yang Ia tebus dengan darah-Nya.

Namun sering kali kita sebagai manusia yang memiliki ego duniawi, mebuat anugerah yang sangat berharga itu menjadi anugerah yang murahan karena dalam hidup setelah tahu kita akan mendapatkan anugerah tersebut, kita tetap jadi batu sandungan bagi orang lain, dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Yang menarik dalam kekristenan, kekekalan hidup tidak bisa diupayakan sendiri olah manusia. Bukan karena kita berbuat baik maka kita mendapatkan anugerah tersebut, bukan karena kita hidup tanpa cacat cela lalu kemudian kita mendapatkan anugerah sebagai hadiah, melainkan karena Allah, hanya karena kasih Allah, Ia menganugerahkan bagi kita untuk dapat hidup yang kekal bersama Dia. Cukup dengan PERCAYA kepada Dia, maka kita diberikan Keselamatan tersebut. Namun sering kali rasa percaya ini tidak dibarengi dengan sikap dan perbuatan. Jika kita mengaku bahwa kita percaya dan mengimani janji Tuhan kepada kita maka, iman tersebut seharusnya membuahkan perbuatan yang baik yaitu meneladani Kristus dalam hidup dan melakukan kehendak-Nya. Seperti yang tertulis dalam Matius 7:21 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan,Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga.”

Memang bukan karena perbuatan kita, kita memperoleh keselamatan tetapi karena kasih-Nya, tapi bukan berarti kita hanya mengaku percaya saja dan tidak berbuat apa-apa karena bukankah “iman tanpa perbuatan hakikatnya adalah mati”. Jadi, kesimpulannya adalah kita ketika kita percaya dan mengimani bahwa Tuhan adalah Juruselamat, maka kita harus mengungkapkan rasa percaya kita melalui persekutuan dengan Dia, melalui tindakan kita dalam meneladani perbuatan-Nya, dan percaya kepada-Nya tanpa syarat. Sama seperti Dia yang juga mengasihi kita tanpa syarat.

Refleksi:

“Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan surga Jika surga dan neraka tak pernah ada Masihkan kau bersujud kepada-Nya Jika surga dan neraka tak pernah ada Masihkah kau menyebut nama-Nya Bisakah kita semua Benar-benar sujud sepenuh hati Kar`na sungguh memang Dia Memang pantas disembah Memang pantas dipuja”

Diatas adalah lirik lagu yang berjudul “jika surga dan neraka tak pernah ada” yang dipopulerkan oleh Chrisye dan Ahmad Dani. Lirik tersebut begitu menohok karena begitu jujur, dan tanpa kenaifan. Membawa kita pada perenungan “apakah kita menjadi seorang Kristen karena ingin memperoleh hidup yang kekal?” ataukah “kita memang benar-benar menjadi penganut Kristus karena kita memang sungguh mencintai-Nya karena Dia sungguh layak untuk kita sembah?”, “apakah Kita melayani-Nya karena bentuk ungkapan syukur kita?” ataukah “karena rutinitas belaka”, “apakah kita bersekutu dengan Tuhan? Ataukah “karena sekedar karena kita orang Kristen?”

(Merry Takasowa, S.Si (Teol.)
Comments