Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Setia meskipun tertekan

diposting pada tanggal 20 Jun 2017 07.19 oleh Admin Situs   [ diperbarui22 Jun 2017 01.05 ]
Yeremia 20:1-18
Pergumulan batin Yeremia menunjukkan kontras dengan Pasyhur. Keberanian luar biasa dari Yeremia mengumumkan penghukuman Tuhan atas Pasyhur dan umat Yehuda (Yeremia 20:3-6) berubah total pada perikop berikutnya (Yeremia 20:7-18). Yeremia menuduh telah sangat dipaksa Tuhan untuk menyatakan penghukuman bagi bangsa yang bebal (7a). Pesan dan nubuat yang Allah percayakan untuk Yeremia sampaikan telah membuat ia menjadi olokan orang sebangsanya (7b). Pada saat tentangan dan penolakan bahkan fitnahan datang menerpanya, sepertinya Tuhan tidak membela Yeremia.

Ini membuat Yeremia seperti dalam situasi serba salah. Ingin meninggalkan pelayanan, hati nuraninya menderita (Yeremia 20:5). Setia terus melayani, ancaman dan tekanan bahaya terus harus ia tanggung. Puncak pergumulan batin ini terungkap dalam bentuk keluhan pedih ingin mati mirip yang Ayub utarakan (Yeremia 20:14, 15: bdk. Ayub ps. 3).

Di sini kita mendapat secercah gambaran seperti apa rasanya menjadi pengikut Tuhan. Bukan seperti para penguasa dunia yang menikmati kekuasaan, kelimpahan, dan kemapanan. Yeremia menunjukkan risiko menjadi orang yang hidup dekat dengan Tuhan: sebuah kehidupan yang penuh tarik-ulur, penuh kejutan, naik dan turun layaknya wahana roller coaster.

Akan tahankah hamba Tuhan apabila pemberitaannya terus-menerus ditolak bahkan dirinya diancam dengan kekerasan bila ia masih terus berbicara menyampaikan kebenaran firman Allah dengan setia. Masalah bertambah berat, bila tampaknya Tuhan juga bungkam saat si hamba Tuhan mengadu kepada-Nya akan tekanan tersebut.

Alkitab menyodorkan satu contoh kehidupan pelayan Tuhan yang setia. Hidupnya sama sekali tak mudah, penuh pergumulan dan kejutan, tetapi di dalam kehidupan itu dan di tengah kekelamannya, Tuhan berkarya. Mari kita bercermin pada kehidupan Yeremia: bagaimana karya Kristus nyata di dalam hidup kita segamblang karya itu nyata dalam hidup Yeremia.

Hamba Allah adalah manusia biasa namun berbeda dari mereka yang tidak dalam Tuhan dan tidak dalam ketaatan kepada rencana Allah. Meski mengalami kelemahan, penderitaan, kepedihan, ketertekanan seberat apa pun, hamba-hamba Tuhan seperti Yeremia mengalami juga kekuatan, penghiburan, keberanian bahkan kemampuan menyanyikan pujian. Puncak dari pergumulan derita pelayanan ini kita jumpai dalam Yesus Kristus. Dialah model dan sumber kekuatan kita dalam pelayanan.

Renungkanlah :
  1. Peristiwa apa yang Saudara simpulkan dari Yeremia 20 : 1 – 18?
  2. Apakah Saudara mengalami kehidupan mirip dengan Yeremia?
  3. Apakah Saudara melihat kasih Allah di tengah kesesakan hidup Saudara?
  4. Apa arti pengharapan, jika Saudara berjalan bersama Tuhan ternyata kehidupan Saudara bertambah susah?
  5. Mengapa Saudara begitu yakin bahwa Tuhan menyertai Saudara walaupun hidup Saudara susah?
Minggu 25 Juni 2017
BM
Comments