Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta 16 Juni 2013

diposting pada tanggal 13 Jun 2013 20.10 oleh Merry Takasowa   [ diperbarui 9 Mei 2014 01.47 oleh Admin Situs ]
Pengakuan dan Pertobatan Titik Balik Menuju Kehidupan Yang Lebih Baik

2 Samuel 11:26-12:10-15; Mazmur 32; Galatia 2:15-21; Lukas 7:36-8:3

Bertobat adalah hak semua orang. Ketika seseorang telah melakukan kesalahan, lalu ia ingin berubah dan memperbaiki hidupnya maka ia layak bertobat. Tapi pernahkah terpikir oleh kita bahwa kita menjadi penghalang ketika seseorang ingin bertobat? Bagaimana hal itu bisa terjadi?

“ nila setitik, merusak susu sebelanga”

Adalah sebuah peribahasa yang seringkali merujuk kepada satu kesalahan dapat merusakkan kebaikan yang dibangun seseorang selama bertahun-tahun. ya memang hal inilah yang sering kali terjadi dalam kehidupan kita. Walaupun orang tersebut dalam kehidupan kita telah melakukan berbagai kebaikan, lalu kemudian orang tersebut melakukan kesalahan yang membuat hati kita sakit, otomatis kejadian yang menyakitkan tersebut seakan terhapus dari memori kita dan akhirnya kitapun hanya tertuju pada kesalahan yang dilakukannya. Lalu kitapun menutup pintu maaf dan tidak memberikan kesempatan kedua bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukannya. Alkisah seorang pemudi yang begitu rajin ke gereja, ia menjadi anggota paduan suara, menjadi bagian dalam kepengurusan di gereja, dan menjadi teladan bagi semua orang, menjadi kebanggaan setiap orang, lalu kemudian ia pun melakukan sebuah kesalahan yang mengejutkan orang disekelilingnya. Ia hamil diluar nikah. Seluruh kebaikan yang ia bangun dalam masa-masa pelayanannya hancur, bahkan gereja tidak mau menikahkannya bahkan memberikannya talak. Ia pun terkucil karena tak satupun orang yang mau menerima kesalahan yang ia perbuat. Padahal ia sangat ingin mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan menikah dan membesarkan anak tersebut, bukannya menutupi kesalahannya dengan menggugurkan kendungannya dan tetap menjadi panutan semua orang. Karena tidak ada yang mau menikahkannya akhirnya, ia pun menikah dengan jalan yang paling mudah yaitu pindah agama, dan menikah sesuai dengan aturan dalam agama yang kini dia anut dan agama tidak mempermasalahkan kesalahannya dan mau menerimanya apa adanya.

Kisah diatas adalah satu dari beragam kisah yang memperlihatkan bahwa terkadang kita sebagai umat yang telah diampuni namun tidak memberikan pengampunan. Sikap kita memperlihatkan bahwa sering kali kita bersikap layaknya orang Yahudi yang menganggap diri sebagai kaum yang eksklusif, dan memandang rendah orang lain. Dalam tradisi Yahudi, orang Yahudi tidak tiperbolehkan untuk duduk makan bersama-sama dengan orang kafir, sehingga Petrus, dan Barnabas yang tadinya mau berbaur dengan orang diluar Yahudi akhirnya terpengaruh akan tradisi tersebut. Tetapi tidak dengan Paulus, Paulus yang memahami bahwa dirinya telah diberikan pengampunan oleh Tuhan dan tetap memberikan pengajaran kepada orang-orang yang diluar Yahudi , karena ia sadar bahwa ia telah mengalami perubahan setelah mendapatkan kesempatan untuk bertobat yang menjadi titik balik perubahan kehidupannya.

Bagitu juga dengan Yesus yang memberikan kesempatan kepada perempuan yang disisihkan oleh masyarakat pada masa itu karena perempuan tersebut adalah seorang pelacur. Yesus malah memberikan kesempatan kepada perempuan tersebut untuk melayaninya dengan mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi. Ia memberikan kesempatan bagi perempuan tersebut untuk merasa bahwa dirinya berharga, walaupun ia sudah melakukan dosa, tetapi Yesus membikakan pintu pertobatan bagi perempuan tersebut.

Pertobatan adalah momen dimana seseorang yang tengah berada dalam kerusakan menuju dalam proses perbaikan hidup. Anugerah yang telah kita dapatkan melalui Kayu Salib adalah pintu masa depan untuk bertindak lebih baik dan memaknai hidup agar lebih berarti. Bacaan kita pada minggu ini mengajak kita untuk menyelami makna anugerah dalam kehidupan orang yang diampuni.

Pertanyaan aplikatif:
  1. Apakah kita pernah menghalangi seseorang untuk bertobat dengan tidak memberikan kesempatan kedua? 
  2. Bagaimanakah posisi kita jika kita berada dalam posisi ingin bertobat namun tidak mendapatkan kesempatan? 
  3. Sudahkah kita sebagai orang yang telah diampuni dan diberikan anugerah, juga mengampuni orang lain seperti doa yang selalu kita panjatkan “ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami”? 
Merry Takasowa, S.Si. (Teol.)
Comments