Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Renungan Warta, 8 Mei 2011

diposting pada tanggal 5 Mei 2011 11.09 oleh Essy Eisen   [ diperbarui24 Mei 2011 09.26 ]
Menjumpai dan Mengenali Dia yang Bangkit

Lukas 24: 13-35

Minggu lalu, kita bertemu dengan Tomas dan keraguannya akan Tuhan Yesus yang bangkit. Minggu ini kita menemui dua orang murid yang juga ragu akan kebangkitan Yesus. Salah satu murid itu bernama Kleopas dan satu lagi tidak diperkenalkan kepada kita. Mereka dalam perjalanan menuju Emaus dari Yerusalem.

Di tengah perjalanan itu, tiba-tiba datanglah Yesus bergabung dengan mereka. Namun, kedua murid itu tidak mengenali-Nya sekalipun mereka telah berjumpa dengan Dia. Mungkin kita bertanya-tanya, kalau memang itu Yesus dan kalau memang kedua murid ini betul-betul kenal Yesus, bagaimana mungkin mereka tidak mengenali-Nya ketika berjumpa dalam perjalanan itu? Akan tetapi, karena kabar kebangkitan itu begitu kontroversial, wajar saja mereka tidak mudah percaya akan kabar itu. Saya pikir, kalau kita ada di posisi kedua murid itu, kita barangkali juga tidak akan mengenali orang yang di hadapan kita adalah Yesus. Dia sudah mati dan telah tiga hari ada dalam kubur.

Anehnya, Yesus tidak langsung dengan segera memperkenalkan diri-Nya. Ia malah menghardik mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk 24: 25). Lalu Tuhan Yesus mulai menjelaskan kepada mereka tentang segala nubuatan, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Penjelasan semacam ini pasti sangat panjang lebar, karena itu berarti membahas 39 kitab, dari Kejadian sampai Maleakhi. Namun, tetaplah kedua murid itu tetap tidak mengenali Yesus. Di sini agaknya Yesus lebih memilih menjelaskan perihal penderitaan dan kebangkitan-Nya dengan merujuk pada apa yang telah dibicarakan sepanjang Perjanjian Lama. Dia tidak ingin kedua murid itu mengenali-Nya langsung agar mereka boleh diyakinkan oleh Firman Allah yang tertulis dan yang tersedia saat itu, yaitu Alkitab Perjanjian Lama. Kebangkitan Yesus bukanlah suatu peristiwa di luar rencana Allah. Allah sejak lama melalui perantaraan para nabi telah mengkomunikasikan kisah penderitaan yang akan ditanggung Yesus dan kebangkitan-Nya yang mulia.

Hal ini penting bagi kita yang saat ini mengikut dan mengimani Yesus tanpa pernah menjumpai-Nya dan tanpa kesaksian pribadi langsung dari saksi mata peristiwa itu. Kita memang beriman melalui tuntunan Firman Allah yang tertulis, yaitu Alkitab. Bagi kita sekarang ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Keduanya sama-sama berpusat pada Yesus Kristus yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama dan telah disaksikan oleh Perjanjian Baru. Kalau kita sungguh ingin mengenali dan memahami Tuhan Yesus, kenalilah dan pahamilah Alkitab.

Kembali lagi ke perjalanan menuju Emaus, ketika telah mendekati tujuan, Yesus seolah-olah ingin melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, kedua murid itu mendesak-Nya untuk tinggal bersama mereka. Hanya setelah Ia memecahkan roti dan mengucap syukur, kedua murid itu dapat mengenali Yesus. Memecahkan roti dan mengucap syukur adalah kebiasaan Yesus dengan murid-murid-Nya. Dari hal yang sederhana dan akrab ini, kedua murid mengenali Tuhan Yesus.

Sekarangpun, kita tidak hanya menjumpai Tuhan Yesus dari catatan Alkitab saja. Dia yang bangkit mau menjumpai kita dalam praktik hidup sehari-hari kita, melalui hal-hal yang akrab dengan kita. Ketika kita bekerja, ketika kita bersama keluarga, atau ketika kita berkumpul untuk makan. Yesus yang bangkit mau menjumpai kita, asalkan kita cukup peka untuk mengenali Dia dan cukup bijak untuk mengundang Dia tinggal bersama kita. Untuk menjumpai dan mengenali-Nya, salah satu cara adalah berefleksi akan apa yang kita lakukan dan memaknai tiap tindakan dalam penghayatan bahwa Tuhan yang bangkit ada beserta dengan kita. Ia sesungguhnya mau memakai tiap kesempatan untuk berkomunikasi dengan kita, tentunya sambil tak lupa membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Praktik disiplin rohani yang sederhana ini—refleksi harian, doa dan pembacaan Alkitab—menolong kita mengenali kehadiran Yesus dalam keseharian hidup kita, bahkan dari rumah kita masing-masing. Di rumah salah seorang mantan anggota GKI Halimun terdapat sebuah kaligrafi, “Christ is the head of this house, the silent listener of every conversation, the unseen guest in every meal.” “Kristus adalah kepala keluarga ini, penyimak yang tak bersuara akan setiap percakapan, tamu yang tak terlihat dalam setiap jam makan.” Kita tidak mendapatkan kehormatan seperti kedua murid di Lukas 24 untuk mendengarkan langsung percakapan Yesus membahas Kitab Suci, untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Ia memecah-mecahkan roti dan mengucap syukur, untuk menjumpai Dia di perjalanan menuju Emaus. Namun, kita beroleh kehormatan yang tak kalah besar ketika kita dapat menjumpai dan mengenali Dia di tengah perjalanan hidup kita sehari-hari tanpa pernah melihat-Nya dengan mata kepala sendiri dan tanpa pernah mendengar-Nya dengan telinga kita sendiri.

(Agustian N. Sutrisno)
Comments