Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Mengendalikan lidah, membangun kehidupan

diposting pada tanggal 1 Des 2015 00.42 oleh Admin Situs
Yakobus 3:1-12

Tidak sedikit masalah yang terjadi di dalam rumah tangga, gereja maupun masyarakat berawal dari perkataan yang kurang bijak. Sesama anggota keluarga bisa terLibat konflik berkepanjangan karena lidah yang tak terkendali menghasilkan perkataan kasar dan menyakitkan. Tidak sedikit orang yang mengundurkan diri dari gereja karena suara-suara miring muncul keluar dari bibir yang sama yang kerapkali mengeluarkan puji-pujian kepada Allah. hubungan kerja dapat menjadi berantakan hanya karena mulut yang tak dikekang dengan bijak.

Maka benarlah falsafah jawa yang berbunyi “Ajining diri soko ing lathi” yang berarti “Setiap orang dihargai dan dihormati karena lidahnya, dalam pengertian bisa menjaga tutur kata dengan senantiasa berbicara benar, dapat dipercaya dan tidak berlebihan”. Lidah mempunyai kekuatan untuk merusak sekaligus kekuatan untuk membangun kehidupan.
  1. Apakah saudara pernah merasa sakit hati karena perkataan seseorang melukai hati dan perasaan saudara? Apa tindakan saudara? 
  2. Sebaliknya, apakah perkataan saudara pernah membuat orang sakit hati? Apa tindakan saudara? 
  3. Mengapa Yakobus menasehati agar pembacanya tidak menjadi guru jemaat? 
  4. Dengan apakah Yakobus menggambarkan kekuatan Lidah? 
  5. Apakah maksud ucapan Yakobus bahwa “Lidah mampu memegahkan perkara besar” (ayat 5)? 
  6. Apakah maksud ucapan Yakobus bahwa “Lidah adalah kejahatan yang dinyalakan oleh neraka”(ayat 6)?
  7. Siapakah yang harus bisa menjaga lidah dalam kehidupan berjemaat? Mengapa? 
  8. Apakah dapat dibenarkan jika seseorang ingin “memperbaiki tatanan kehidupan” tetapi tidak mengendalikan lidahnya? Bagaimana tanggapan saudara? 
  9. Apa wujud konkrit tindakan umat Tuhan dalam mengendalikan lidah? 
  10. Apakah upaya yang bisa dilakukan gereja sebagai sebuah institusi dalam menggunakan “lidahnya”? 

Minggu, 13 September 2015
Pnt. Noerman Sasono, S.Si. (Teol.)
Comments