Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Melihat tetapi buta

diposting pada tanggal 24 Mar 2017 09.54 oleh Admin Situs
1 Samuel 16:1–13; Mazmur 23; Efesus 5:8–14; Yohanes 9:1–41

Pendeta Jeremiah Steepek, mengisahkan pengalamannya pada saat dia diperkenalkan pada satu jemaat dimana dia nanti menjadi gembala jemaat di gereja itu. Satu jam lebih awal, ia datang ke gereja dengan berpura-pura berpenampilan sebagai seorang gelandangan. Ia berjalan keliling mencari tempat duduk dan mendekati umat yang mulai berdatangan, tetapi sayang hanya tiga orang yang menyapa “Hello“ kepadanya. Tidak lama setelah itu, iapun maju ke depan dan duduk dikursi paling depan, iapun segera diusir dan duduk di barisan belakang. Banyak mata yang menatapnya dengan pandangan yang sangat merendahkan dan menghakiminya.

Tiba saatnya diumumkan Gembala baru yang akan bertugas di gereja tersebut, dan hal ini sangat dinanti-nantikan oleh umat yang hadir, mereka berdiri dan bertepuk tangan. Seorang yang berpenampilan gelandangan berdiri dan berjalan menuju mimbar. Semua mata terbelalak dan kaget. Orang yang maju ke depan itu tidak lain adalah seorang pendeta senior “Jerimiah Steepek“. Mereka semua tertunduk malu.

Nabi Samuel hampir terperangkap pada penampilan fisik anak-anak Isai yang lain karena tampak gagah dan berperawakan tinggi dibanding Daud yang masih muda belia. Allah menegur nabi Samuel “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”. Allah mengajak Samuel untuk tidak menggunakan cara pandangnya sendiri, tetapi Allah ingin Samuel menggunakan cara pandang Allah.

Orang Farisi gagal melihat karya Yesus sebagai anak Allah yang datang dari sorga atas penyembuhan orang yang buta sejak lahir, sebaliknya orang yang buta matanya melihat Yesus yang sesungguhnya dan mengakuinya sebagai Tuhannya (Yohanes 9 : 38).

Kenyataannya, kita kadang bersikap dan bertindak seperti Samuel dan orang Farisi. Dalam mengambil keputusan, kita acapkali menggunakan cara pandang kita. Benarkah demikian?

Pertanyaan :
  1. Kemana Samuel diutus oleh Allah? misinya untuk apa? 
  2. Mengapa hanya Daud, anak bungsu yang disuruh diurapi oleh Tuhan dan bukan salah seorang dari saudaranya Daud?
  3. Daud menulis pengalamannya sendiri karena dia telah menjalani tahun-tahun awalnya dengan menggembalakan domba. Mengapa Daud menggambarkan Tuhan itu sebagai gembala? 
  4. Bagaimana kita menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang baik (Yohanes 10 : 11) dan Gembala Agung (Ibrani 13 : 20), dan kita adalah domba-domba-Nya?
  5. Mengapa Tuhan menyuruh setiap orang yang percaya harus hidup sebagai anak- anak terang ? (Efesus 5 : 8) 
  6. Ketika Yesus mengoleskan tanah yang telah diaduk di mata orang buta itu dan disuruh pergi membasuh dirinya dalam kolam Siloam, kesembuhan belum terjadi (Yohanes 9 : 6). Dan setelah membasuhkan dirinya dalam kolam, baru terjadi penyembuhan, melek matanya (Yohanes 9 : 7). Bagaimana kita memaknai peristiwa itu di dalam kehidupan kita? 
  7. Mengapa orang Farisi selalu gagal melihat Tuhan Yesus dalam karya-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh segenap umat Israel? 
Minggu 26 Maret 2017
JMW
Comments