Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Ketika Yesus juga dibaptiskan

diposkan pada tanggal 9 Jan 2016 12.31 oleh Admin Situs   [ diperbarui9 Jan 2016 12.33 ]
Yesaya 33:1-7; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 8:14-17; Lukas 3:15-17, 21-22

Allah seperti apakah yang disembah oleh manusia? Barangkali banyak orang beranggapan bahwa Allah yang mereka sembah itu adalah Allah yang sangat tinggi dan jauh di sorga, sehingga hampir tidak ada interaksi antara Allah dan manusia? Bagi mereka, mustahil Allah hadir dalam kehidupan manusia.

Lalu, Allah yang bagaimana yang kita (orang Kristen) sembah? Alkitab memperkenalkan Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang melulu jauh, tapi Allah yang sangat dekat dengan manusia. Lebih dari itu, Alkitab menegaskan bahwa Allah pencipta semesta itu adalah Allah yang bersedia memasuki kehidupan kita yang penuh dosa. Penegasan tentang kepedulian dan keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia itulah yang kita lihat dalam peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan (Lukas 3:21-22).

Peristiwa Yesus dibaptis memang terasa luar biasa. Bagaimana tidak? Dalam pemikiran orang awam, Yesus tidak perlu menjalani ritual baptisan itu sebab Dia adalah Anak Allah. Bagaimana mungkin Anak Allah dibaptis oleh manusia yang bernama Yohanes Pembaptis. Tapi, justru cara inilah yang Allah pilih untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya. Kita bisa melihat beberapa hal yang ingin disampaikan melalui peristiwa ini:
  1. Baptisan Yohanes, sebagaimana kita baca di ayat-ayat sebelumnya, merupakan baptisan untuk pertobatan. Baptisan ini diberikan bukan kepada orang asing, melainkan kepada umat Allah. Dengan ini Yohanes menyatakan bahwa Allah tidak melihat status seseorang, melainkan dari buah yang dihasilkan sesuai pertobatan. Dengan kata lain, hidup sebagai umat Allah tidak ditunjukkan oleh status dan ritual, melainkan melalui perubahan batin yang diwujudkan dalam tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. 

  2. Peristiwa pembaptisan Yesus itu memperlihatkan kesudian Allah untuk datang ke dalam dunia yang cemar oleh dosa. Allah dalam diri Yesus bersedia menjalani hidup manusiawi (dibaptis, salah satunya) untuk menyatakan solidaritas-Nya kepada manusia. Melalui peristiwa pembaptisan ini Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Yesus merupakan wujud pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan manusia. 
Keselamatan itu Allah berikan tidak terbatas kepada mereka yang punya status sebagai “anak Allah”, melainkan kepada semua orang yang mau menerima. Dalam Kisah para Rasul 8:14-18 kita melihat bahwa Roh Kudus diberikan juga kepada orang Samaria, yang oleh orang Israel selama ini dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Para rasul menyampaikan solidaritas Allah itu, yang salah satunya terlihat dalam peristiwa pembaptisan Yesus, dengan cara memberitakan Injil kepada semua orang, tanpa terkecuali.

Pertanyaan refleksi:
  1. Bagaimana saudara memahami baptisan yang sudah saudara terima? 
  2. Menurut saudara, dalam hal apa (atau dengan cara bagaimana) saudara dapat memberitakan solidaritas Allah kepada manusia? 

Minggu, 10 Januari 2016
Mathyas Simanungkalit
Comments