Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Kasih: Kekayaan Yang Mempersatukan

diposkan pada tanggal 30 Nov 2015 12.30 oleh Admin Situs
2 Samuel 1:1, 17-27; Mazmur 130; 2 Korintus 8:7-15; Markus 5: 21-43

Akhir-akhir ini, banyak di antara kita menjadi sangat cemas tentang masa depan. Apakah kita akan meraih kesuksesan dan hidup sehat, atau sebaliknya. Kita cemas karena masa depan tidak dapat diprediksi dan tinggal dalam ruang misteri. Dari pengalaman hidup orang lain, kita belajar bahwa masa depan yang sukses butuh proses yang melibatkan kerja keras, komitmen, kreatifitas, dan iman yang teguh. 

Namun kenyataanya, banyak di antara kita yang tidak mau melewati proses tersebut. Alhasil, banyak pula yang tergoda meraih kesuksesan dengan cara; menipu, melakukan pemerasan, dan lain sebagainya. Kalau sudah begini, mungkin kita perlu bertanya; kemanakah kasih? Tahukah Saudara, tanpa kasih, hidup menjadi tidak bermakna. Kasih ibaratnya sebuah untaian tali, karya Allah, yang mengikat dan mempersatukan seluruh umat percaya ke dalam persekutuan dengan Allah dan sesama.

Dari bacaan kita hari ini, pengalaman tokoh-tokoh Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru akan mengantarkan kita pada perziarahan iman yang kaya akan makna hidup dan kasih. Agar kita sebagai umat percaya berani menyongsong masa depan dengan pengharapan dan sukacita.

2 Samuel 1:1, 17-27
  1. Kepada siapa nyanyian ratapan Daud ditujukan? (Ayat 17) 
  2. Seperti apa Daud menggambarkan Saul dan Yonatan dalam nyanyian ratapan itu (ayat 23-27) 
  3. Tunjukkan makna kasih yang mempersatukan dalam kisah Daud ini? 
Mazmur 130
  1. Dalam ayat 1-4 Pemazmur berseru dan menaikkan permohonannya kepada Tuhan, apa yang menjadi tujuan Pemazmur dalam permohonannya itu? 
  2. Siapakah sumber kasih setia yang dimaksudkan Pemazmur dalam ayat 7? 
  3. Seberapa sering kita memohon kepada Allah sumber kasih setia untuk membebaskan kita dari kesalahan kita? 
2 Korintus 8:7-15
  1. Apa nasehat Paulus kepada kita dalam ayat 7, dan mengapa kita harus melakukan nasihat itu? (ayat 9)
  2. Mengapa perbuatan kasih yang diwujudkan dalam bentuk pemberian dapat menciptakan keseimbangan dalam kehidupan? (Ayat 13-15) 
  3. Apakah kita mau berbuat kasih di setiap kondisi kehidupan kita; dalam keadaan kaya maupun miskin; susah maupun senang? 
Markus 5:21-43
  1. Bagaimana sikap Yesus kepada perempuan yang mengidap sakit pendarahan dalam Ayat 34?
  2. Selain menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan, siapa lagi yang disembuhkan Yesus dalam pembacaan ini?
  3. Bagaimana kita menilai sikap para murid kepada Yesus dalam ayat 31? 
  4. Apakah kita menemukan sikap kasih yang mempersatukan dalam bacaan ini? Kalau ya, jelaskan. 
Perbuatan Yesus menjadi contoh yang sempurna dalam pelayanan kasih persaudaraan. Ia memakai kasih untuk mengambil beban orang lain dan dipindahkan kepada diri-Nya supaya orang lain merasakan kelegaan. Kasih yang diteladankan Kristus Yesus juga adalah salah satu upaya untuk mempersatukan perbedaan dan perselisihan dalam persekutuan.


Minggu, 28 Juni 2015
Melny Nova Katuuk
Comments