Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Dari Meja Perjamuan Menuju Tempat Perutusan

diposting pada tanggal 9 Jul 2016 11.16 oleh Admin Situs
Lukas 10:1-20

Di akhir setiap kebaktian, kita menerima perutusan. Maksudnya tentu sangat jelas. Sebagai pengikut Kristus, kita yang sudah menerima berkat kebaikan Allah di dalam persekutuan dengan Firman Allah dan saudara-saudara seiman, harus meneruskan kebaikan Allah itu melalui hidup yang telah dibaharui-Nya.

Hari ini kita mengingat kembali kebaikan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Roh Kudus menolong dan meneguhkan kita bahwa Kristus sangat dekat dalam hidup kita. Sakramen Perjamuan Kudus menjadi salah satu pemberian Allah yang mengukuhkan kita untuk ambil bagian dalam pekerjaan baik Allah bagi dunia ini, khususnya di tempat di mana kita dipercayakan Allah untuk berkarya.

Di tempat itu, dengan kekuatan kasih-Nya, kita dimampukan untuk menjadikan Allah menjadi Raja di dalamnya. Nilai-nilai hidup yang berujung pada damai sejahtera kita hidupi dan perjuangkan. Tentu kita tidak sendiri, sebab “Tuan pemilik tuaian” dan “Sang Gembala Agung” beserta dengan kita dengan kuat kasih-Nya.
  1. Seandainya, Anda diberikan kesempatan untuk berjualan dari pintu ke pintu, kira-kira produk apakah yang Anda jual? Mengapa? 
  2. Mengapa Tuhan Yesus mengutus murid-murid berdua-dua? Apa yang mereka kerjakan? (lihat ayat 2).
  3. Apa artinya jika dikatakan seorang murid Kristus yang diutus seperti “seorang pekerja dengan tuaian” dan “anak domba ke tengah-tengah serigala”? 
  4. Mengapa mereka diarahkan untuk berkelana/berjalan dengan membawa sedikit beban? (lihat ayat 4). Mengapa mereka diperintahkan untuk berdoa terlebih dahulu? (lihat ayat 2). 
  5. Apa yang harus mereka lakukan saat memasuki sebuah rumah? (lihat ayat 5). Apa alasan Tuhan Yesus menyarankan demikian? 
  6. Apa yang harus mereka lakukan saat memasuki sebuah kota? (lihat ayat 8-12). Apa pesan utama yang harus mereka sampaikan? 
  7. Renungkanlah lingkungan di sekitar kehidupan Anda. Jika diibaratkan sebagai “ladang”, apakah orang-orang di sekitar Anda sudah “matang untuk dituai”? Apa yang akan Anda lakukan untuk lebih terlibat dalam proses “penuaian” itu? 
  8. Apakah Anda pernah berada di dalam situasi seperti “anak domba di tengah-tengah serigala”? Apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu? 
  9. Bagaimana Anda membahasakan kembali tema kebaktian hari ini “Dari Meja Perjamuan Menuju Tempat Perutusan” menurut kata-kata dan pergumulan Anda sendiri saat ini?
Minggu 3 Juli 2016
Pdt. Essy Eisen
Comments