Kegiatan‎ > ‎Renungan Warta‎ > ‎

Bahagia dalam penderitaan

diposkan pada tanggal 3 Des 2015 11.01 oleh Admin Situs   [ diperbarui3 Des 2015 11.10 ]
2 Korintus 6: 1 - 10

Bisakah seseorang berbahagia dalam penderitaan? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab. Kebahagiaan
dan penderitaan adalah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya bagaikan air dan minyak yang masing-masing substansinya tidak dapat saling melarutkan. Tetapi iman percaya kepada Kristus akan membawa kita pada pemaknaan yang mendalam tentang penderitaan. Yesus menderita supaya orang lain memperoleh keselamatan dan penghiburan. Dalam cara yang sama, kita orang percaya juga mengalaminya. Kita akan menderita melalui pelayanan kita, supaya penghiburan dan keselamatan itu dialami oleh orang lain. Namun demikian, di dalam penderitaan kita, Allah telah menghibur kita. Biarlah kita menderita karena kesetiaan kita, sebagai konsekuensi logis ketika kita menerima salib dan dalam kerelaan mengikuti jalan salib itu.

Beberapa pertanyaan reflektif di bawah ini kiranya menuntun setiap keluarga Kristen untuk memaknai jalan salib yang ditempuhnya.
  1. Menurut Saudara mengapa Paulus berkata: “...supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” (ayat 1) 
  2. Tunjukkan beberapa konsekuensi yang harus kita ditanggung dalam pelayanan (ayat 4, 5, dan 8) dan mengapa kita harus menanggungnya? 
  3. Menurut Saudara apakah semua penderitaan yang dialami orang Kristen adalah kehendak Allah atau pilihan manusia? 
  4. Apa tanggapan saudara ketika seseorang mengatakan bahwa penderitaan orang percaya tidak akan sia-sia, karena ia akan diberkati Tuhan berlimpah-limpah, baik di bumi maupun di sorga? 
  5. Berikan contoh kegiatan pelayanan yang Saudara lakukan di masa lalu atau sekarang yang telah mengakibatkan saudara ikut menderita, namun tetap bersukacita di dalam Tuhan? 
Minggu 25 Oktober 2015
Melny Nova Katuuk
Comments