Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Jika Anda ingin berlangganan isi renungan warta melalui email, silahkan daftarkan email anda di sini.

Melepaskan Maaf

diposting pada tanggal 14 Sep 2017 00.18 oleh Admin Situs

Kejadian 50:15-21

Tidak ada orang yang menyimpan keranjang yang penuh sampah yang sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun di dalam kamar tidurnya sendiri. Sebab selain berbau, sampah itu akan menimbulkan masalah kesehatan bagi yang ada di dalam kamar itu. Demikian juga kekesalan, amarah, kebencian, sakit hati, apalagi dendam, tidak boleh disimpan di dalam pikiran dan hati berlarut-larut. Apa-apa yang tidak memberikan damai dan sejahtera itu harus dilepaskan, harus dibuang.

Melepaskan maaf, atau tepatnya memberikan pengampunan adalah bentuk yang paling nyata dari kasih yang berkorban. Kasih yang suci. Ini bukan perkara yang mudah, tetapi bukan mustahil untuk dilakukan. Orang yang sudah mengalami “perjumpaan” dengan Tuhan, menikmati kuasa kasih, berkat dan pengampunan dari Tuhan, biasanya tidak sulit untuk memberikan pengampunan. Orang-orang yang sedemikian tidak hidup di masa lampau, tetapi hidup pada masa kini dan berpengharapan untuk “membangun jembatan damai sejahtera” ketimbang “meninggikan tembok dendam” yang hanya akan menyusahkan dirinya sendiri dan orang lain.

Memang, memberikan pengampunan tidak berarti menerima dan mengabaikan tindakan kejahatan. Keadilan dan kebenaran selalu harus ditegakkan. Orang yang memberi pengampunan tentu sadar akan hal ini. Tetapi di dalam memberikan pengampunan, ia “melampaui” apa yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Dengan memberikan pengampunan, ia sedang menolong orang yang bersalah kepadanya untuk turut merasakan pengampunan dari Tuhan dan memberikan kesempatan yang baru untuk sungguh-sungguh bertobat dalam menjalani masa depan yang baru dengan mental dan sikap hidup yang baru, sebagaimana yang Tuhan Yesus ajarkan dan teladankan.
  1. Apa yang dikhawatirkan saudara-saudara Yusuf? (Kej. 50:15) Jalan apa yang kemudian mereka tempuh? (Kej. 50:16-18) 
  2. Jika Anda sudah melakukan kesalahan kepada orang lain, apa-apa saja yang akan Anda tempuh untuk berbaikan dengan orang yang telah Anda sakiti itu? 
  3. Apa yang kemudian dilakukan Yusuf kepada saudara-saudaranya? (Kej. 50:19-21) 
  4. Jika orang yang sudah bersalah kepada Anda memohonkan maaf dan ampunan kepada Anda, apakah yang Anda lakukan terhadapnya? 
  5. Menurut Anda sendiri, apakah Anda itu termasuk orang yang pemaaf dan pengampun atau pembenci dan pendendam? Mengapa demikian?
Minggu 17 September 2017
EE

Menolak diam

diposting pada tanggal 14 Sep 2017 00.14 oleh Admin Situs

Yehezkiel 33:1-20 

Banyak orang memilih diam terhadap kejahatan, pilihan untuk diam mungkin terjadi karena takut dan tidak mau repot, apalagi mengambil resiko akan memiliki musuh dan mendapat tekanan. Sementara itu pada saat yang sama, mereka membicarakan perbuatan jahat tersebut, sembari tidak jarang mengutukinya.

Kita membutuhkan lebih banyak lagi orang yang peka terhadap kejahatan/dosa. Bukan hanya menegur, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, meski jalan itu tidak mudah dan beresiko. Indonesia tidak kekurangan orang baik. Persoalannya, banyak orang baik hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa. Menjadi orang baik saja, ternyata tidak cukup. Kita harus menolak kejahatan, termasuk menegur dan bertindak atas para pelaku kejahatan.
  1. Tugas apa yang TUHAN berikan kepada Yehezkiel? 
  2. Apa makna dari perumpamaan penjaga kota bagi umat saat itu? 
  3. Apakah peringatan TUHAN melalui Yehezkiel berarti berita tentang penghukuman? Atau justru berita pengampunan dosa? 
  4. Di tengah kondisi Indonesia yang saat ini dipenuhi “silent majority” apa tindakan konkrit menolak diam terhadap kejahatan yang dapat saudara lakukan? 
Minggu 10 September 2017
NS

Memahami Allah?

diposting pada tanggal 6 Sep 2017 08.34 oleh Admin Situs

Yeremia 15:15-21

Apakah kita dapat memahami Allah? Jawabannya tidak sederhana. Tentu saja dapat. Allah telah memperkenalkan diri-Nya melalui kehadiran Anak-Nya, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat Dunia. Jika kita ingin memahami-Nya, maka lihatlah apa yang dikerjakan, dikatakan dan diajarkan Tuhan Yesus.

Tetapi meskipun demikian, sejatinya kita tidak dapat dengan penuh memahami Allah. Allah memiliki rencana-Nya sendiri. Allah memiliki kehendak-Nya sendiri juga. Lalu apakah kita menjumpai jalan buntu dalam memahami Allah sepenuhnya? Melalui pengalaman nabi Yeremia, kita tahu, bahwa memahami Allah sangat amat mungkin.

Tetapi kita memang harus berproses. Proses yang dijalani dengan serius dan penuh pemaknaan. Proses yang ditempuh melalui peristiwa kehidupan yang kita alami. Pada saat-Nya, Allah akan menyatakan dengan jelas bagaimana Ia harus dipahami dan betapa bahagianya kita bahwa saat itu terjadi ternyata semuanya berujung pada apa yang baik di dalam hidup kita.
  1. Apa yang terjadi dengan Yeremia di dalam bacaan kita hari ini? Apa yang menjadi kegelisahan dalam dirinya? (Yer. 15:15) 
  2. Bagaimana Yeremia menjalankan kehidupannya selama ini? (Yer. 15:16-17) Tetapi apa yang Yeremia rasakan? (Yer. 15:18) 
  3. Apa jawaban Tuhan kepada Yeremia? (Yer. 15:19-21) 
  4. Dalam keseharian hidup, bagaimana Anda menjalankan proses untuk memahami Allah? 
  5. Adakah peristiwa hidup yang membuat Anda semakin memahami cara Allah bekerja? 
  6. Bagaimanakah Anda menjelaskan kepada orang lain tentang bagaimana cara memahami Allah dan bagaimana cara Ia bekerja dalam kehidupan manusia?
Minggu 3 September 2017
EE

GKI Berkarya Dalam Keberagaman

diposting pada tanggal 26 Agt 2017 10.58 oleh Admin Situs

Roma 12: 1 - 8

Gereja Kristen Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Konteks GKI adalah konteks Indonesia, kita hidup bertumbuh dan berkarya di Indonesia karena kita adalah bagian dari Indonesia. Karena itu hal yang tak bisa dipungkiri adalah keragaman. 

Indonesia dianugerahi oleh Tuhan dengan keragaman yang mewujud dalam kebudayaan, bahasa dan nilai-nilai hidup yang khas di masing-masing tempat. Demikian pula dengan GKI, meskipun awalnya adalah gereja berbasis Tionghoa, namun seiring berjalannya waktu GKI melebar melampaui batasan basis satu etnis, keragaman menjadi sesuatu yang niscaya dalam GKI. 

Di ulang tahun penyatuan GKI yang ke 29, GKI harus semakin berdampak terhadap Indonesia dalam keberagamannya. DIRGAHAYU GEREJA KRISTEN INDONESIA

  1. Perbedaan-perbedaan apa yang biasanya muncul di gereja dan menjadi sumber konflik?
  2. Konflik apa yang nampak dalam Roma 12: 1 - 8?
  3. Bagaimanakah tanggapan Paulus tentang keragaman yang ada di jemaat Roma?
  4. Di tengah kondisi Indonesia yang semakin retak akibat lunturnya pluralitas, hal apakah yang dapat gereja lakukan untuk memperkokoh persatuan bangsa? 
Minggu 27 Agustus 2017
NS

Indonesia Bersyukur

diposting pada tanggal 19 Agt 2017 11.08 oleh Admin Situs


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya. Bangsa ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah baik di laut dan daratan. Selain itu, keragaman suku, etnis, budaya, bahasa, keyakinan, dan sebagainya menambah kekayaan bangsa Indonesia.

Namun, rasa syukur tersebut belum cukup jika kita melupakan panggilan utama gereja di tengah dunia untuk mempersaksikan cinta kasih Allah di tengah-tengah dunia. Indonesia, yang menjadi tempat Tuhan menempatkan kita, merupakan tempat bagi kita mempersaksikan cinta kasih Allah. Maka sudah sepatutnya kehadiran kita sebagai gereja membuat warga Indonesia bersyukur atas cinta kasih Allah yang mereka rasakan lewat kehadiran kita.

Refleksi atas Mazmur 67 justru menyadarkan kita mengenai rasa syukur. Ketika kita sudah merasakan berkat Allah atas bangsa Indonesia, maka ungkapan syukur kita seharusnya diwujudkan ketika kita mengerjakan segala hal yang bermanfaat bagi negara ini, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di tanah Indonesia. Rasa syukur kita seharusnya mendorong diri untuk bekerja dan berkontribusi memperbaiki dan membenahi kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki bangsa ini. Dengan demkian, kehadiran kita sebagai anak-anak Tuhan membuat Indonesia semakin menyatakan syukurnya kepada Allah. Inilah ungkapan syukur yang sejati.

Oleh karena itu, moment peringatan HUT RI ke-72 ini mengajak kita untuk menyadari bahwa ungkapan syukur terhadap Indonesia diwujudkan dengan kehadirannya yang dapat memberi dampak bagi Indonesia, termasuk bagi masyarakat yang ada di sekitar. Seperti para pahlawan yang menempatkan kehadirannya di Indonesia supaya berguna untuk segenap rakyat Indonesia, kita pun diajak untuk memiliki spirit yang serupa. Kita dapat mewujudkannya melalui dua sikap.
  1. Pertama, menyatakan keadilan. Menyatakan keadilan dapat dilakukan ketika kita tidak membeda-bedakan orang lain, tidak mem-bully orang yang berbeda dari kita, tidak memilih-milih rekan karena perbedaan etnis, budaya, agama, dan sebagainya. Kita perlu belajar untuk menjadi kita yang tidak mudah merendahkan atau menyalahkan orang lain tetapi justru tampil sebagai kita yang mau menolong orang lain. 

  2. Kedua, menuntun kehidupan bangsa dengan cara membantu pembangunan bangsa ini. Hal ini dapat kita lakukan dengan cara bangga menggunakan produk-produk dalam negeri, menyekolahkan anak ke luar negeri bukan karena ingin “gaya” tetapi karena ingin mereka membawa pulang ilmu yang lebih luas ke Indonesia dan menggunakannya untuk membangun negeri. Kita juga dapat membantu masyarakat yang ada di sekitar kita (tetangga, orang-orang yang sering kita temu sesehari, dan sebagainya.) supaya mereka dapat merasakan hidup yang lebih damai dan sejahtera. 
Jika hal-hal tersebut telah dan sedang kita lakukan, maka dengan bangga kita akan dapat berteriak: “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA”

Minggu 20 Agustus 2017
NS

Harmoni dalam keberagaman

diposting pada tanggal 12 Agt 2017 08.25 oleh Admin Situs

Yesaya 11: 1 - 10

Tuhan Allah menciptakan manusia dengan beragam keunikannya. Tidak ada manusia yang kepribadiannya sama persis, sekalipun mereka kembar. Dalam peristiwa Menara Babel (Kejadian 11:1-9), tercatat Tuhan mengacaukan bahasa manusia dan menyerakkan mereka ke seluruh bumi. Keberagaman suku, bangsa, dan bahasa dipandang oleh penulis Alkitab awal sebagai suatu akibat ketidakpatuhan manusia. Namun, dalam tulisan nabi- nabi Israel kemudian hari (seperti Yesaya), keberagaman tersebut dipandang lebih positif. Bahkan suatu hari nanti mereka yakin segala bangsa akan dapat hidup rukun kembali dan inilah yang sebetulnya dikehendaki Tuhan.
  1. Siapakah tunas dari tunggul Isai yang dibicarakan dalam ayat 1? 
  2. Bagaimanakah tunas tersebut bertindak dalam menghadapi orang lemah dan orang fasik (ayat 4)
  3. Apakah dampak dari tindakan sang tunas bagi segala ciptaan (ayat 6-8)? 
  4. Apakah gambaran dalam ayat 6-8 tersebut merupakan suatu kiasan ataukah suatu deskripsi kenyataan? Jika merupakan suatu kiasan, apa kira-kira maknanya? Jika suatu deskripsi kenyataan, apa maksudnya? 
  5. Apa yang dimaksudkan oleh Yesaya dengan, “seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN”? Apakah itu sudah mulai terjadi atau sudah semakin jauh dari kenyataan? 
  6. Apakah perbedaan peran dari “taruk Isai” pada ayat 10 dengan peran yang dicatat dalam ayat 4? Mengapa ada perbedaan itu?
Minggu 13 Agustus 2017
AS

Oikumene dan Karya Bersama

diposting pada tanggal 2 Agt 2017 14.04 oleh Essy Eisen   [ diperbarui 2 Agt 2017 14.06 oleh Admin Situs ]

Yohanes 17:20-26, Yeremia 29:7

Oikumene berasal dari bahasa Yunani “oikos” (rumah) dan “monos” (satu). Maksud “rumah” di sini adalah dunia. Jadi Oikumene itu artinya: dunia yang satu, yang didiami oleh umat manusia yang memiliki banyak keragaman. Tidak mudah untuk berkarya bersama dalam hubungan saling memberi dan menerima di tengah keragaman. Tetapi jiwa “Oikumene” ini tidak boleh diabaikan. Itulah sebabnya “Oikumene” juga menjadi sebuah gerakan yang terus menerus diperjuangkan.

Sebagai gereja-Nya kita didoakan oleh Tuhan Yesus untuk ada di dalam satu kasih, baik dengan sesama orang percaya, juga dengan sesama ciptaan. Di dalam kasih, sebagai gereja-Nya kita mendapat kekuatan untuk menjalin kerja sama juga dengan segenap warga bangsa Indonesia untuk menghasilkan karya-karya baik yang mendatangkan kesejahteraan bersama.
  1. Sebelum menuju salib untuk menunaikan karya kasih-Nya, Tuhan Yesus mendoakan murid-murid-Nya dan juga segenap orang yang percaya kepada-Nya. Apa isi doa-Nya (Yoh. 17:20-26)? 
  2. Di dalam doa itu, apa yang diberikan Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya? Untuk apa itu diberikan-Nya? 
  3. Apa peranan dari “kasih” yang banyak disinggung Tuhan Yesus dalam doa-Nya ini? 
  4. Apa perintah Allah bagi umat Israel yang ada dalam pembuangan (Yer. 29:7)? Menurut Anda, mengapa Allah memerintahkan mereka demikian? 
  5. Sebagai bagian dari gereja-Nya, apa yang akan Anda kerjakan setelah menyimak doa Tuhan Yesus ini, terkait dalam karya Anda bersama saudara seiman? Lalu bagaimana dengan karya Anda juga dengan sesama saudara sebangsa dan setanah air?
Minggu 6 Agustus 2017
EE

Kerajaan Allah

diposting pada tanggal 30 Jul 2017 11.29 oleh Admin Situs

Matius 13: 31 - 33, 44 - 52 

Dalam Injil Matius Yesus mengajarkan 7 perumpamaan mengenai Kerajaan Sorga. Bahan perumpamaan yang digunakan senantiasa terkait dengan kehidupan keseharian masyarakat, tujuannya supaya para pendengar lebih mudah memahami. Dalam perumpamaan ini Yesus hendak menunjukkan bahwa hal kerajaan Allah senantiasa memulihkan kehidupan umat-Nya serta membebaskan dari kuasa yang menindas. Gereja masa kini harus menghadirkan kerajaan Allah, dalam artian berkarya demi kemanusiaan, membebaskan manusia dari segala bentuk kejahatan dan penindasan. 
  1. Apa maksud Yesus dengan menggambarkan Kerajaan Allah seperti biji sesawi dan ragi? 
  2. Apa makna perumpamaan Biji sesawi dan Ragi pada masa kini? 
  3. Apa makna yang saudara tangkap dari perumpamaan harta terpendam dan mutiara yang berharga? 
  4. Apa yang dapat gereja lakukan untuk memberitakan Yesus dan kerajaan Allah di tengah pluralitas keyakinan di Indonesia?
Minggu 30 Juli 2017
NS

Allah Sang Penyabar

diposting pada tanggal 20 Jul 2017 11.26 oleh Admin Situs

Matius 13:24-30, 36-43

Sabar atau kesabaran adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh, untuk tetap sesuai dengan peraturan atau hukum-hukum walaupun, untuk “tetap sesuai” tersebut membutuhkan komitmen, rela berkorban dan ketahanan mental.

Bagi masyarakat di pedesaan, sikap sabar masih sering kita jumpai, sebaliknya masyarakat di perkotaan? Sangat jarang kita melihat orang yang sabar, baik di jalan, maupun di tempat perbelanjaan dan pekerjaan sering kali orang tidak sabaran, mengapa? Menunggu adalah suatu yang tidak mengenakkan, menjengkelkan namun apakah jalan pintas sungguh menyenangkan?

Ada lagi anggapan-anggapan yang keliru tentang kesabaran, ada yang mengatakan orang sabar itu “nrimo” tidak gigih, kuno dan milik orang-orang tua, atau ada juga yang mengatakan “kesabaran” lambang kelemahan.

Kesabaran berguna untuk membuat hidup teratur tidak kacau balau, mampu menahan diri terhadap suatu kebutuhan, memiliki pertimbangan yang matang sehingga tidak salah pilih dan akhirnya membuat matang pribadinya.

Namun kecenderungan diri kita adalah ketidaksabaran, bukan hanya sekarang bahkan sejak jaman Abraham (mengambil Hagar sebagai istrinya), kesabaran itu bukan hal yang mudah. Bacaan kita tadi mengatakan bahwa si jahat yang menanam ilalang, artinya iblis atau si jahat adalah sumber yang membuat kita tidak sabaran. Sikap alami kita adalah manusia berdosa, yang kecenderungannya lebih mudah terbawa rayuan si jahat dari pada mendengar firman-Nya.

Satu-satunya cara untuk memiliki sifat kesabaran adalah dengan memohon kepada Allah yang merupakan pemilik kesabaran itu. Mengapa? Karena dari dalam diri kita sulit untuk memiliki sifat kesabaran, kecuali dalam bimbingan Allah kita dapat menjadi sabar.

Pertanyaan fakta :
  1. Dalam perumpamaan ini hal kerajaan surga disamakan dengan apa? (24) 
  2. Benih apa yang ditaburkan di ladangnya ? (24) 
  3. Apa yang terjadi ketika semua sedang tidur? (25) 
  4. Ketika gandum tumbuh dan mulai berbulir apa yang nampak ? (26) 
  5. Apa kata hamba-hamba tuan itu dan apa jawab tuannya? (27,28) 
  6. Apa yang akan dilakukan hamba-hambanya itu (28) dan jawaban tuannya? (29,30) 
  7. Siapa orang yang menaburkan benih yang baik? (37) 
  8. Apa artinya ladang? Benih yang baik? Lalang? Musuh yang menaburkan lalang?(37,38,39) 
  9. Bagaimana nasib orang-orang yang melakukan kejahatan? Sebaliknya orang-orang benar? (42,43) 
Pertanyaan interpretatif:
  1. Menurut saudara, kerajaan surga disamakan dengan orang yang menabur benih yang baik, dalam hal apa disamakan (sebagai tempat, bentuk atau regulasi)? 
  2. Mengapa si musuh datang untuk menanam benih lalang? 
  3. Mengapa permintaan hamba-hambanya untuk mencabut lalang tidak dikabulkan? 
  4. Mengapa Yesus menjelaskan arti perumpamaan setelah orang banyak pulang? 
  5. Menurut saudara kapan akhir jaman itu terjadi? 
  6. Apakah ada kesempatan “orang yang melakukan kejahatan” untuk bertobat? 
  7. Ada perbedaan “keinginan manusia” dengan “keinginan Tuhan” mengenai waktu mencabut lalang, apa artinya? 
Pertanyaan aplikatif :
  1. “Allah sang penyabar” seringkali membawa kita pada pengertian Allah yang rela menunggu, dalam waktu yang tak terbatas, selalu memaafkan kesalahan dan dosa manusia. Namun Mat. 13:30 bagaimana anda mengartikannya? 
  2. Kitapun diminta untuk menjadi penyabar, sesuai dengan Galatia 5:22 (buah Roh), bila dihubungkan dengan suatu permohonan doa yang belum juga dikabulkan, bagaimana kita mengartikan pajang sabar? 
  3. Bila kita diperlakukan tidak adil, lalu supaya kita tidak marah, ada yang memberi nasehat “sabar, sabar”, apakah hal seperti ini disebut kesabaran? 
  4. Darimana kita tahu saatnya “musim menuai” sesuai dengan ayat 30? 
Minggu 23 Juli 2017
PT

Hidup untuk berbuah

diposting pada tanggal 14 Jul 2017 10.00 oleh Admin Situs

Matius 13: 1 - 9; 18 - 23

Pohon mangga akan dikatakan tumbuh baik apabila menghasilkan buah. Tak peduli sebesar dan serimbun apapun pohonnya, jika pohon mangga tidak menghasilkan buah maka pohon itu belum bisa dikatakan berhasil ditanam. Pohon mangga tugasnya untuk menghasilkan buah yang ranum dan manis. 

Bagaimana dengan kita? Ada banyak orang tidak menyadari apa yang menjadi tujuan hidupnya. Mereka hanya menjalani sekenanya saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Bukankah hidup kita pun seharusnya senantiasa menghasilkan buah?
  1. Mengapa Yesus sering mengajar menggunakan perumpamaan? 
  2. Apa arti dari perumpamaan benih yang jatuh di jalan? 
  3. Apa arti dari perumpamaan benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu? 
  4. Apa arti dari perumpamaan benih yang jatuh di tengah-tengah semak berduri? 
  5. Apa arti dari perumpamaan benih yang jatuh di tanah yang baik? 
  6. Buah apakah yang sudah saudara hasilkan dari benih firman yang Tuhan sudah taburkan?
Teruslah bertumbuh dan hasilkan buah-buah yang manis dalam kehidupan

Minggu 16 Juli 2017
NS

1-10 of 373