Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Kebangkitan-Nya menjawab keraguanku

diposkan pada tanggal 19 Apr 2017 11.39 oleh Admin Situs

Lukas 24:33-45

Ragu terhadap sesuatu adalah hal yang dapat dialami oleh siapapun. Persoalannya adalah apakah yang kemudian kita lakukan di kala berada dalam posisi yang seperti itu? Apakah kita membiarkan keraguan itu terus menguasai hidup, atau kita segera berupaya mencari jawab atas keraguan itu? Keraguan bukanlah hal yang tabu. Bahkan keraguan dapat menuntun seseorang pada kebenaran yang lebih dalam dari sebelumnya. Asalkan keraguan itu tidak dibiarkan berlarut menguasai hidup, melainkan dipakai sebagai jembatan untuk mencari jawab dan kebenaran.
  1. Pernahkah saudara meragukan karya Yesus dalam kehidupan ini? 
  2. Apa dampak keraguan tersebut bagi hidup saudara? 
  3. Bagaimana cara mengatasi keraguan yang timbul dalam hati saudara? 
  4. Langkah-langkah apa yang biasanya saudara lakukan untuk meyakinkan diri kembali? 
  5. Apa kaitan peristiwa kebangkitan Yesus dengan keraguan saudara akan karya Allah di masa kini? 
Minggu 16 April 2017
NS

Penderitaan yang memerdekakan

diposkan pada tanggal 8 Apr 2017 10.03 oleh Admin Situs

Mazmur 118:1-2, 19-29; Matius 21:1-11

Minggu ini merupakan peringatan Minggu Palmarum, yakni peristiwa masuknya Yesus Kristus ke dalam Kota Yerusalem. Di Kota dan minggu inilah, Tuhan Yesus menjalani penderitaan-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Minggu ini juga memulai Pekan Suci yang berisi hari-hari peringatan paling penting bagi karya Yesus Kristus di dunia: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Mazmur 118: 1-2, 19-29
  1. Apakah gambaran yang terdapat di Mazmur ini bisa digolongkan sebagai nubuat dari peristiwa masuknya Yesus ke Kota Yerusalem? 
  2. Siapakah yang dimaksud dengan “Batu yang dibuang oleh tukang tukang bangunan”? 
  3. Mengapakah Pemazmur membuat ajakan untuk bersorak-sorak dan bersukacita? 
Matius 21: 1-11 
  1. Apa persiapan yang Yesus lakukan sebelum masuk ke Yerusalem? Apa peran murid-murid-Nya dalam persiapan itu? 
  2. Mengapa Ia perlu membuat persiapan itu? 
  3. Apa makna sambutan orang banyak kepada Yesus (ayat 9)? 
  4. Bagaimanakah sikap Yesus dalam menghadapi penderitaan yang pasti akan menimpa-Nya di Yerusalem? 
  5. Persiapan apa yang kita, sebagai murid-murid Yesus, perlu buat dalam rangka menyambut Pekan Suci? 
  6. Bagaimanakah sikap kita menghadapi penderitaan yang mungkin muncul dalam rangka menjadi murid Yesus Kristus? 
Minggu 9 April 2017
AS

Hidup dalam kasih-Nya

diposkan pada tanggal 29 Mar 2017 12.46 oleh Admin Situs

Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-45

Kasih Allah itu berkuasa memulihkan kehidupan yang rusak karena kebodohan dosa. Karena kuasa kasih Kristus yang nyata melalui kehadiran Roh-Nya, setiap orang yang percaya tetap memiliki pengharapan untuk bangkit dari keterpurukan hidup. Bukan hanya itu. Roh Kristus memampukan orang yang percaya untuk cakap memilah dan memilih segenap tindakan yang berujung pada kehidupan. Orang yang mau hidup dalam kasih-Nya itu akan dianugerahkan Allah kekuatan untuk tangguh menghadapi segenap penderitaan yang datang dan tetap setia melakukan kasih. Tidak ada yang dapat menghentikan kasih Allah dinyatakan. Bahkan maut sekalipun tidak dapat menghentikan kasih Allah yang memulihkan itu.
  1. Pada waktu umat Israel berada negeri lain karena dibuang penjajah, jauh dari kampung halaman, berpotensi kehilangan pengharapan, berlarut-larut dalam kesedihan, nabi Yehezkiel mendapatkan penglihatan. Apa yang diperlihatkan Allah kepadanya? (Yeh. 37:1-10) Apa arti dari penglihatan itu? (Yeh. 37:11-14) 

  2. Saat Anda kehilangan semangat karena melihat keadaan yang menjengkelkan atau mengalami situasi yang tidak Anda harapkan, hal apa yang membuat semangat Anda bangkit kembali? Apakah Firman Allah memiliki andil dalam membangkitkan semangat Anda? Dengan cara seperti apa? 

  3. Ada yang diserukan Pemazmur saat ia mengalami kesusahan. Apa yang menjadi penyebab kesusahannya? (Mzm. 130:3-4) Apa yang akan dilakukan Pemazmur seiring permohonannya kepada Allah? (Mzm. 130:5-6) Apa pesannya kepada saudara-saudaranya saat mengalami kesusahan? (Mzm. 130:7-8) 

  4. Menurut Anda apa manfaat yang didapat dari seseorang yang memiliki pengharapan? Apa yang membedakan pengharapan dengan khayalan? 

  5. Paulus menasihatkan gereja Tuhan untuk mewaspadai tabiat manusia yang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menolak bimbingan Roh Allah (Rm. 8:6-9) Bagi Paulus, gereja Tuhan harus memilih kehidupan. Bagaimana caranya? (Rm. 8:10-11) 

  6. Apakah Anda cukup peka untuk mengendalikan keinginan yang buruk dan jahat dalam diri Anda selama ini? Bagaimana caranya? 

  7. Walaupun banyak orang yang keras hati di Yudea berhasrat untuk melenyapkan Yesus, Ia tetap datang ke sana untuk menjenguk Lazarus yang sakit. (Yoh. 11:8, Yoh. 11:1-4) 

    Karena kasih-Nya, Yesus selalu memberikan apa yang baik menurut kehendak Bapa bukan hanya untuk Lazarus dan keluarga, tetapi bagi banyak orang yang mau diajar-Nya. (Yoh. 11:9-16)

  8. Dalam duka cita yang dialami keluarga Lazarus, kepedulian Yesus nyata. Ia menghadirkan pengharapan dan kasih yang memulihkan. (Yoh. 11:17-36) Apa yang Yesus lakukan untuk memulihkan kehidupan Lazarus, Marta dan Maria? (Yoh. 11:37-44). Apa dampak dari karya Yesus bagi orang yang menyaksikan pemulihan hidup itu? (Yoh. 11:45) 

  9. Kabar baik apa yang Anda dapatkan dari kisah ini? Apa yang menjadi bekal hidup bagi Anda saat menghadapi peristiwa duka cita? Hikmat apa yang Anda dapat saat menyimak kisah ini terkait tentang bagaimana seseorang bangkit dari keterpurukan hidup? 
Minggu, 2 April 2017
EE

Melihat tetapi buta

diposkan pada tanggal 24 Mar 2017 09.54 oleh Admin Situs

1 Samuel 16:1–13; Mazmur 23; Efesus 5:8–14; Yohanes 9:1–41

Pendeta Jeremiah Steepek, mengisahkan pengalamannya pada saat dia diperkenalkan pada satu jemaat dimana dia nanti menjadi gembala jemaat di gereja itu. Satu jam lebih awal, ia datang ke gereja dengan berpura-pura berpenampilan sebagai seorang gelandangan. Ia berjalan keliling mencari tempat duduk dan mendekati umat yang mulai berdatangan, tetapi sayang hanya tiga orang yang menyapa “Hello“ kepadanya. Tidak lama setelah itu, iapun maju ke depan dan duduk dikursi paling depan, iapun segera diusir dan duduk di barisan belakang. Banyak mata yang menatapnya dengan pandangan yang sangat merendahkan dan menghakiminya.

Tiba saatnya diumumkan Gembala baru yang akan bertugas di gereja tersebut, dan hal ini sangat dinanti-nantikan oleh umat yang hadir, mereka berdiri dan bertepuk tangan. Seorang yang berpenampilan gelandangan berdiri dan berjalan menuju mimbar. Semua mata terbelalak dan kaget. Orang yang maju ke depan itu tidak lain adalah seorang pendeta senior “Jerimiah Steepek“. Mereka semua tertunduk malu.

Nabi Samuel hampir terperangkap pada penampilan fisik anak-anak Isai yang lain karena tampak gagah dan berperawakan tinggi dibanding Daud yang masih muda belia. Allah menegur nabi Samuel “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”. Allah mengajak Samuel untuk tidak menggunakan cara pandangnya sendiri, tetapi Allah ingin Samuel menggunakan cara pandang Allah.

Orang Farisi gagal melihat karya Yesus sebagai anak Allah yang datang dari sorga atas penyembuhan orang yang buta sejak lahir, sebaliknya orang yang buta matanya melihat Yesus yang sesungguhnya dan mengakuinya sebagai Tuhannya (Yohanes 9 : 38).

Kenyataannya, kita kadang bersikap dan bertindak seperti Samuel dan orang Farisi. Dalam mengambil keputusan, kita acapkali menggunakan cara pandang kita. Benarkah demikian?

Pertanyaan :
  1. Kemana Samuel diutus oleh Allah? misinya untuk apa? 
  2. Mengapa hanya Daud, anak bungsu yang disuruh diurapi oleh Tuhan dan bukan salah seorang dari saudaranya Daud?
  3. Daud menulis pengalamannya sendiri karena dia telah menjalani tahun-tahun awalnya dengan menggembalakan domba. Mengapa Daud menggambarkan Tuhan itu sebagai gembala? 
  4. Bagaimana kita menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang baik (Yohanes 10 : 11) dan Gembala Agung (Ibrani 13 : 20), dan kita adalah domba-domba-Nya?
  5. Mengapa Tuhan menyuruh setiap orang yang percaya harus hidup sebagai anak- anak terang ? (Efesus 5 : 8) 
  6. Ketika Yesus mengoleskan tanah yang telah diaduk di mata orang buta itu dan disuruh pergi membasuh dirinya dalam kolam Siloam, kesembuhan belum terjadi (Yohanes 9 : 6). Dan setelah membasuhkan dirinya dalam kolam, baru terjadi penyembuhan, melek matanya (Yohanes 9 : 7). Bagaimana kita memaknai peristiwa itu di dalam kehidupan kita? 
  7. Mengapa orang Farisi selalu gagal melihat Tuhan Yesus dalam karya-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh segenap umat Israel? 
Minggu 26 Maret 2017
JMW

Hidup dalam anugerah Allah

diposkan pada tanggal 24 Mar 2017 09.47 oleh Admin Situs

Mazmur 95

Mazmur 95 merupakan mazmur puji-pujian dan juga undangan untuk beribadah kepada Tuhan. Mazmur ini masuk juga kedalam kumpulan mazmur 90-106 yang memberikan penekanan pada ibadah umat Allah untuk menyampaikan pujian syukur dalam bait Allah. Mazmur 95 ini menjadi panggilan beribadah dan persiapan untuk memasuki bait Allah, Mazmur ini memberikan suatu pengajaran agar tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan nenek moyang Israel.
  1. Mengapa pemazmur mengajak umat untuk menyembah Allah? 
  2. Menurut pemazmur, Apakah yang menjadi respon nenek moyang Israel terhadap karya keselamatan Allah? 
  3. Apa respon Allah terhadap reaksi nenek moyang Israel? 
  4. Apa yang menjadi respon kita terhadap karya keselamatan Allah? 
  5. Apa yang saudara pahami tentang hidup dalam anugerah Allah? 
Minggu 19 Maret 2017
NS

Tak Mudah Jalanku

diposkan pada tanggal 11 Mar 2017 14.09 oleh Admin Situs   [ diperbarui11 Mar 2017 14.12 ]

Kejadian 12: 1-4; Mazmur 121; Roma 4: 1-5, 13-17; Yohanes 3: 1-17

Jalan hidup manusia seringkali tak terduga. Ada manusia yang awalnya kelihatan akan baik-baik saja, ternyata kemudian menempuh kehidupan yang sulit. Ada yang sekarang sangat kesusahan, tetapi kemudian menjadi sangat senang.

Dalam hidup-Nya di dunia, Tuhan Yesus juga menempuh perjalanan yang tidak senantiasa diisi dengan kebahagiaan dan kesenangan. Pengakuan Iman Rasuli merangkum kisah hidup Tuhan Yesus dengan kata-kata, “…yang menderita sengsara…”Dalam minggu-minggu Pra-Paskah, kita mengingat persiapan-Nya menempuh jalan sengsara yang mengarahkan-Nya ke Golgota. Semua itu dilalui-Nya sambil bersandar kepada Allah, Bapa-Nya. Tatkala melewati jalan kehidupan yang tidak mudah, kita dipanggil untuk tetap berpegang pada tuntutan Alkitab dan mengikuti teladan Tuhan Yesus yang bersandar kepada Allah.

Kejadian 12: 1-4
  1. Ke manakah Tuhan memanggil Abram? Mengapa Abram pergi? 
  2. Apakah jalan hidup Abram akan lebih mudah jika ia tinggal di negerinya atau jika ia pergi mengikuti Tuhan? 
Mazmur 121
  1. Siapa yang menjadi penolong bagi pemazmur saat jalan hidupnya sulit? 
  2. Apa sajakah bentuk pertolongan yang pemazmur yakini akan diterimanya? 
Roma 4: 1-5, 13-17
  1. Mengapa kepercayaan Abraham diperhitungkan sebagai kebenaran? 
  2. Apa peran kepercayaan/ iman kepada Tuhan dalam menghadapi jalan hidup yang tidak mudah? 
Yohanes 3: 1-7
  1. Apa alasan Nikodemus datang menjumpai Tuhan Yesus? 
  2. Mengapa Tuhan Yesus mengharapkan orang dilahirkan kembali? 
  3. Apakah kelahiran kembali itu menuntun pada jalan hidup yang mudah atau yang sulit?
Minggu 12 Maret 2017
ANS

Bersama Allah Dalam Pencobaan

diposkan pada tanggal 2 Mar 2017 03.20 oleh Admin Situs

Kejadian 2:15-17, 3:1-7; Mazmur 32; Roma 5:12-19; Matius 4:1-11

Tetap ada dalam kasih karunia Allah dan menolak segala godaan untuk meninggalkan-Nya adalah panggilan iman yang akan kita lakukan pada Minggu Prapaskah 1 ini. Dalam menghadapi pencobaan itu kita mendapat kekuatan dari hikmat Firman Allah. Sebagaimana Tuhan Yesus cakap dan tangguh untuk memegang Firman Allah dan tetap tinggal dalam kasih Bapa, kita pun akan dikuatkan oleh Roh-Nya untuk menang dalam pencobaan dan ujian iman di dalam hidup ini.
  1. Apa saja yang diberikan Allah kepada kepada manusia? (Kej. 2:15-17) Apa yang dikatakan Ular kepada perempuan? (Kej. 3:1) Bagaimana tanggapan perempuan? (Kej. 3:2-3) Bagaimana Ular membalas jawaban itu? (Kej. 3:4-5) Apa yang kemudian terjadi? (Kej. 3:6-7) 

  2. Apa saja yang sudah diberikan Allah kepada Anda di dalam hidup ini? Menurut Anda mengapa Allah memberikan larangan-larangan di dalam hidup ini? Mengapa manusia melanggar larangan yang diberikan Allah? 

  3. Siapa yang disebut berbahagia oleh Daud? (Mzm. 32:1-2) Apa yang terjadi saat orang melanggar perintah Allah menurut Daud? (Mzm. 32:3-4) Apa yang kemudian dilakukan Daud saat ia berdosa? (Mzm. 32:5-11) 

  4. Menurut Anda apa manfaat orang mengakui dosa dan kesalahan-kesalahannya? Kapan terakhir kali Anda mengakui dosa Anda kepada Allah dan kesalahan Anda kepada sesama? Apa yang terjadi?

  5. Bagaimana dosa ada di dalam dunia ini menurut Paulus? (Rm. 5:12-14) Apa yang Yesus Kristus lakukan terkait dosa itu? (Rm. 5:15-19) 

  6. Apakah Anda setuju jika dikatakan bahwa semua orang di dunia ini berdosa? Bagaimanakah jalan keluar supaya manusia tidak mengalami akibat buruk dari dosa menurut Anda? 

  7. Apa yang Yesus alami di padang gurun? (Mat. 4:1) Apa yang Ia kerjakan di sana? (Mat. 4:2) Apa yang dilakukan si pencoba saat Yesus lapar? (Mat. 4:3) Apa jawaban Yesus? (Mat. 4:4) Apa yang terjadi di bubungan Bait Allah? Bagaimana Iblis menggunakan Firman Allah untuk mencobai Yesus? (Mat. 4:5-6) Apa tanggapan Yesus? (Mat. 4:7) Apa ajakan Iblis kepada Yesus di atas gunung yang sangat tinggi? (Mat. 4:8-9) Bagaimana Yesus menangkalnya? (Mat. 4:10) 

  8. Hawa nafsu, kekuasaan dan kekayaan. Tiga hal ini kita jumpai dalam pencobaan yang dialami Yesus. Belajar dari apa yang Yesus lakukan dalam menangkal cobaan Iblis, bagaimana cara Anda menangkal cobaan terkait hawa nafsu, kekuasaan dan kekayaan yang akan membuat Anda menjauhi kasih karunia Allah? 
Minggu 5 Maret 2017
Pdt. EE

Kemuliaan Tuhan, Memulihkan Kehidupan

diposkan pada tanggal 2 Mar 2017 03.15 oleh Admin Situs

Keluaran 24:12-18; Mazmur 2; 2 Petrus 1:16-21; Matius 17:1-9

Pada jaman era presiden Sukarno, ada panggilan khusus untuk beliau yaitu : Paduka Yang Mulia, pada jaman sekarang istilah yang sama seperti itu kita dengar dalam persidangan-persidangan di pengadilan, dengan istilah “Yang Mulia” untuk menyebut Hakim. Apakah makna kata “Mulia” itu?. Bagi beberapa orang mengartikannya berbeda-beda. Menurut G Bromiley (1971), Mulia bisa ditujukkan ke manusia mengandung arti sesuatu yang nampaknya mengesankan dan menuntut pengakuan akan kewibawaan orang tersebut dimana kedudukannya yang penting dan mencolok. Kalau “mulia” ditujukan untuk Tuhan Allah mengandung arti kemahakuasaan, mahaindah dan maha dasyat yang bersifat kekal.

Pengakuan dan keyakinan kita, bahwa Tuhan kita mahamulia, akan mempengaruhi iman dan sikap kita. Karena dengan keyakinan seperti itu dapat merubah arah hidup, apa yang kita kejar dan kita dewa- dewakan didalam hidup ini apakah Tuhan atau kehidupan duniawi, seperti materi, kedudukan dan tingkat sosial.

Daftar Pertanyaan :
  1. Mengapa kemuliaan Tuhan dilambangkan dalam bentuk awan dan api yang menghanguskan dipuncak-puncak gunung, oleh bangsa Israel ? (Keluaran 24:16.17) 
  2. Apa beda raja-raja dari dunia dangan raja-raja yang diurapi Tuhan (Mazmur 2) 
  3. Atas dasar apa Petrus mengatakan : Yesus Kristus sebagai Raja dengan segala kehormatan dan kemuliaanNya? (2 Petrus 1: 17, 19) 
  4. Apa maksud Petrus berkata : ”Tuhan betapa bahagianya kami berada ditempat ini, jika Engkau mau.......(Matius 17: 4). 
  5. Mengapa murid-murid tersungkur dan sangat ketakutan, ketika mendengar :”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17: 5, 6) 
  6. Menurut saudara kalau dikatakan Tuhan mahamulia, secara pribadi artinya apa? 
  7. Kalau kita memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu mahamulia, dapatkah keyakinan tersebut merubah perilaku dan sikap kita terhadap kehidupan ini ? Coba jelaskan bila dapat karena apa? Kalau tidak dapat karena apa? 
Minggu 26 Februari 2017
Pnt. PT

Balas Dendam

diposkan pada tanggal 18 Feb 2017 21.07 oleh Admin Situs

Matius 5: 38 - 48

Menyerang total adalah falsafah sepak bola yang diusung Zinedine Zidane saat menukangi Real Madrid. Dia mengubah citra sepakbola Madrid di era pelatih sebelumnya yang gemar bertahan dan mengandalkan serangan balik. Bagi Zidane, pertahanan terbaik adalah ketika menyerang. Jika tim serasa tertekan akibat serangan lawan maka cara tercepat untuk mengatasinya adalah dengan sesegera mungkin mengambil kontrol permainan, dan itu hanya bisa dicapai dengan cara menyerang pertahanan lawan.

Menariknya, sejak zaman Yesus pun cara-cara pertahanan diri dengan menyerang, menuntut atau membalas orang lain pun sudah lazim dilakukan. Dan mereka yang melakukan itu menemukan pembenarannya lewat kitab suci. Yesus hadir memutarbalikkan sikap orang-orang terhadap kitab suci. Bagi Yesus yang penting bukan semata-mata yang tertulis secara harafiah, melainkan memahami jiwa dari apa yang tertulis itu. Yesus membongkar ulang esensi hukum taurat, sehingga orang akan memahami bahwa moralitas kerajaan Allah yang diajarkan Yesus itulah yang mampu memberikan jawaban tuntas terhadap persoalan yang dihadapi manusia. 

Sebagai pengikut Kristus, apa sikap saudara saat berhadapan dengan peristiwa: 
  1. Seseorang menyerang dan menghina saudara 
  2. Seseorang menuntut saudara atas hak miliknya 
  3. Seseorang memaksa saudara melakukan sesuatu 
  4. Seseorang meminta sesuatu terhadap saudara 
  5. Setiap orang akan menjadi segambar dengan Allah, apabila ia di dalam hidupnya memberlakukan kebajikan dan kasih yang serupa dengan kasih-Nya. 
Minggu 19 Februari 2017
Pdt. NS

Kesalehan Kristen Yang Sejati

diposkan pada tanggal 9 Feb 2017 09.18 oleh Admin Situs

Ulangan 30:15-20; Mazmur 119:1–8; 1 Korintus 3:1–9; Matius 5:21–37

Siapa orang yang paling saleh yang pernah Anda kenal? Dapatkah saudara hidup sesaleh dia? Kebanyakan orang akan bilang sulit, sulit sekali hidup saleh. Dalam Matius 5, Tuhan Yesus mengajar bahwa kehidupan murid-murid-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat. Demikian kita dengar di khotbah minggu sebelumnya. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (ayat 20).”

Ajaran ini tentunya sulit. Orang Farisi dan Ahli Taurat barangkali adalah orang yang berperilaku paling saleh di muka bumi pada zamannya. Mereka menaati setiap titik dan koma dari Hukum Taurat. Hidup mereka diatur begitu rupa supaya tidak bisa melanggar isi Hukum Taurat. Bahkan perkakas makan, minum, masak mereka ditempatkan dan diatur sedemikian rupa supaya tidak melanggar aturan kosher, yakni hukum makanan haram-halal seperti yang diatur oleh Hukum Taurat. Dapatkah murid-murid Tuhan Yesus hidup lebih saleh daripada para ahli Taurat dan orang Farisi?

Dalam bacaan Injil kita hari ini, Tuhan Yesus memberikan contoh bagaimana kehidupan keagamaan para pengikut-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat yang diatur oleh Taurat. Misalnya dalam 21-22, Tuhan Yesus mengutip Taurat tentang jangan membunuh. Lalu Ia menambahkan bahwa membenci orang sebetulnya sama saja dengan membunuh. Di Halimun kita boleh yakin tidak ada anggota jemaat yang pernah membunuh orang lain. Maka kalau kita pakai standar ahli Taurat dan Farisi, kita semua aman dalam hal kesalehan—kita bukan pembunuh. Namun tentang membenci orang, rasanya kita semua pernah sebel atau benci pada orang lain. Menurut Yesus ini pun salah besar. Tidakkah tuntutan Tuhan lebih tinggi daripada tuntutan hidup orang Farisi dan ahli Taurat di sini?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini berulang kali memberikan contoh bagaimana bukan saja perilaku yang harus benar, tetapi juga motivasi dan hati dari pengikut-Nya harus benar. Dan tentunya ini menjadi masalah bagi kita yang mengaku pengikut Dia. Dapatkah kita lepas dari membenci orang lain, misalnya? Dari memiliki motivasi dan hati yang kurang tulus? Lebih sulit lagi, dalam penutup Matius 5, Tuhan Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (ayat 48). Mustahil bukan? Lebih mudah ikut ahli Taurat dan orang Farisi—cukup buat perilaku yang mengikuti Hukum Taurat, daripada ikut Tuhan Yesus yang menuntut motivasi dan hati yang benar, kalau begitu.

Agaknya ada salah anggapan bahwa Tuhan Yesus menaikkan tuntutan Hukum Taurat dalam bacaan kita. Namun, memang sejak awalnya Hukum Taurat itu bukan sekedar perilaku yang saleh. Sejak awalnya Hukum Taurat menuntut hati dan motivasi yang benar tatkala menaati perintah Allah, yakni kasih kepada Allah (bdk. Ul.30:20 “dengan mengasihi TUHAN, Allahmu”). Maka sejak awalnya, tuntutan Tuhan Allah sudah sedemikian tingginya. Manusia harus menunjukkan perilaku yang benar bersumber dari hati dan motivasi yang benar—mengasihi Tuhan Allah, bukan suatu kepura-puraan supaya terlihat saleh di hadapan sesama manusia.

Dengan jujur saya mengaku tidak dapat memenuhinya. Rasanya saya tidak berlebihan kalau mengklaim bahwa kita semua juga tidak dapat memenuhi tuntutan Taurat dan Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Matius 5: 21-37.

Hanya ada satu manusia yang pernah menggenapi semua tuntutan Taurat—Tuhan Yesus. “Aku datang… untuk menggenapinya” (Mat 5: 17). Dia dengan jelas menunjukkan penggenapan tuntutan Taurat dengan mati di atas kayu salib—mengorbankan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat untuk menghapus dosa dunia. Karena menerima kebenaran-Nya dan korban-Nya, kita mengenakan kebenaran-Nya, bukan kebenaran kita sendiri karena sanggup memenuhi tuntutan Taurat.

Apa maknanya? Kita bergantung pada kasih karunia Allah untuk menjalani kehidupan yang benar. Setiap kali kita tergoda untuk membenci orang lain, atau melakukan hal lain yang tidak disukai Tuhan, kita diingatkan untuk bertanya dalam hati kita, “Apakah ini perilaku yang bersumber dari kasih karunia Allah yang telah saya terima?” Demikianlah seharusnya cara hidup Kristen. Kita senantiasa diundang untuk menyadari bahwa tingkah laku kita sepatutnya didorong oleh kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ini tidak berarti kehidupan saya dan Saudara serta-merta lebih bermoral, lebih saleh daripada orang-orang lain. Ini, sebaliknya, berarti kita harus selalu bersandar kepada Tuhan Yesus—Tuhan dan Guru kita—untuk menjalani kehidupan keagamaan yang lebih benar, yang lebih jujur pada kelemahan manusiawi kita dan kebergantungan kita yang menyeluruh pada kasih karunia-Nya, alih-alih pamer kesalehan.

Puisi yang ditulis oleh Maya Angelou berikut, menurut saya menunjukkan kesalehan Kristen yang sejati—yang jujur pada kelemahan diri sendiri dan bergantung kepada kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

"I Am A Christian" 
“Saya Seorang Kristen” 

When I say ... "I am a Christian"  
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not shouting "I'm clean livin'.
" Saya tidak berseru “Hidup saya benar.”

I'm whispering "I was lost, 
 Saya berbisik, “Saya dahulu terhilang,

Now I'm found and forgiven." 
Sekarang saya ditemukan dan diampuni.”

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I don't speak of this with pride. 
 Saya tidak mengucapkannya dengan kebanggaan.

I'm confessing that I stumble 
 Saya mengaku saya terjatuh

and need Christ to be my guide. 
Dan butuh Kristus sebagai pandu saya.

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not trying to be strong. 
Saya tidak berupaya menjadi kuat.

I'm professing that I'm weak 
Saya menyatakan saya lemah

And need His strength to carry on. 
Dan membutuhkan kekuatan-Nya untuk melanjutkan hidup.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not bragging of success. 
Saya tidak menyombongkan keberhasilan.

I'm admitting I have failed 
Saya mengaku saya telah gagal

And need God to clean my mess 
Dan membutuhkan Allah untuk membereskan kekacauan saya

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not claiming to be perfect, 
Saya tidak mengklaim diri sempurna,

My flaws are far too visible 
Kecacatan saya terlalu kasat mata

But, God believes I am worth it. 
Tetapi, Allah yakin saya layak.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen” 
  
I still feel the sting of pain. 
Saya masih merasakan sengatan sakit.

I have my share of heartaches 
Saya memiliki sakit hati

So I call upon His name. 
Jadi saya memanggil Nama-Nya.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not holier than thou, 
Saya tidak lebih suci dari kamu,

I'm just a simple sinner 
Saya hanya pendosa sederhana

Who received God's good grace, somehow. 
Yang menerima kasih karunia Allah, entah bagaimana. 

Minggu, 12 Februari 2017
Agustian N. Sutrisno

1-10 of 351