Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Jika Anda ingin berlangganan isi renungan warta melalui email, silahkan daftarkan email anda di sini.

Bertumbuh dan berproses karena kasih-Nya

diposting pada tanggal 6 Jun 2018 08.56 oleh Admin Situs

Markus 4:26-34; Yehezkiel 17:22-24; Mazmur 92:1-4, 12-15; 2 Kor 5:6-17

Kerajaan Allah adalah sebuah istilah yang sering digunakan Yesus dalam karya pekabaran Injil-Nya. Sederhananya, Kerajaan Allah itu dapat diartikan sebagai sebuah suasana hidup yang dipimpin dan dipelihara oleh Allah. Di dalamnya kuasa kasih Allah sungguh nyata terasa dan mengubahkan kehidupan orang yang percaya menjadi semakin lebih baik dan lebih berguna kian harinya.

Perubahan hidup itu dimulai dari hal-hal yang paling kecil dalam lingkup yang kecil. Tetapi apabila seseorang mau terus dipelihara oleh hikmat Allah maka perubahan hidup yang dimulai dari lingkup kecil itu akan memberi dampak yang lebih besar dalam cakupan yang semakin luas. Tentu dalam proses bentukan Allah itu kita akan tiba pada kesadaran bahwa ternyata ada hal-hal dalam diri yang harus dibuang. Sebaliknya, ada juga hal-hal yang harus dipelajari dan ditambahkan dengan tekun dan tulus.

Tidak ada kata terlambat untuk mengalami perubahan dalam hidup dalam bentukan Allah itu. Mereka yang dengan sukacita berkenan dibentuk Allah akan mengalami damai sejahtera yang dapat dilihat dengan mata iman di sepanjang usia hidup dan dalam berbagai peristiwa yang ada. Usia menjadi usia yang indah, sebab berada dalam bimbingan kasih Allah.

Memang akan ada saatnya proses itu berhenti, manakala Allah menyatakan tugas seseorang selesai di dunia ini. Tetapi dampak karya-karya kehidupan yang telah dimulai, dikerjakan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang mau berproses bersama kasih Allah, akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Jadi sungguh benar apa yang dikatakan Rasul Paulus: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor. 5:17). Lalu, apakah kita mau bertumbuh dan berproses karena dan di dalam kuasa kasih-Nya?
  1. Dalam bentuk dan cara yang seperti apakah Anda mengalami pimpinan dan tuntunan Allah dalam hidup sehari-hari? 
  2. Perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup Anda baik dari segi spiritualitas (kerohanian), jasmani (fisik) dan psikologis (keadaan hati, mental, batin), sejak Anda mengikut Kristus sampai sekarang ini? 
  3. Apakah perubahan dalam hidup Anda itu mempengaruhi keadaan lingkungan di mana Anda berkarya setiap hari? (Keluarga, Gereja, Masyarakat) 
  4. Hal-hal apakah yang telah Anda rencanakan supaya generasi berikut mengalami dampak baik dari karya-karya hidup Anda yang telah dipimpin Allah? 
  5. Kendala apa yang Anda alami saat menempuh proses pertumbuhan spiritualitas saat ini? Apa yang telah Anda lakukan untuk menyiasati hal itu, supaya prosesnya berjalan dengan baik?
Minggu 17 Juni 2018
EE

Menyalahkan orang lain

diposting pada tanggal 6 Jun 2018 08.48 oleh Admin Situs

Kejadian 3: 8 - 15 

Dalam praktek kehidupan setiap orang mengalami pasang surut dalam relasi. Semula kita dikasihi, tetapi kemudian dibenci. Dahulu diperlakukan sebagai sahabat, tetapi kini dianggap sebagai musuh. Umumnya orang akan mengalami kesedihan apabila di lukai orang-orang dekat, entah saudara atau sahabat. Teks hari ini melukiskan sikap anggota keluarga yang menyudutkan anggota keluarga lainnya. Kiranya kita dapat berefleksi dari kisah keluarga Adam dan Hawa.
  1. Pernahkah saudara dipersalahkan orang lain atas sebuah peristiwa yang terjadi? Bagaimana perasaan saudara? 
  2. Bagaimana sikap Adam saat menghadapi kesalahan di hadapan Tuhan? 
  3. Apa yang membuat Adam merasa patut menyalahkan Hawa? 
  4. Bagaimana pandangan saudara tentang kisah keluarga Adam dan Hawa? Apa kisah serupa juga muncul dalam kehidupan kita? 
  5. Menurut saudara, sikap seperti apa yang harus dikembangkan dalam kehidupan keluarga?
Minggu 10 Juni 2018
NS

Sabat untuk semua

diposting pada tanggal 31 Mei 2018 00.52 oleh Admin Situs

Markus 2:23-3:6; Mazmur 81:1-10; 2 Korintus 4:5-12; Ulangan 5:12-15

Dari Tuhan Yesus Kristus kita belajar untuk memahami Perjanjian Lama dengan segenap hukum-hukum keagamaan yang ada di dalamnya secara bijaksana. Sejatinya setiap hukum keagamaan bertujuan bukan untuk membebani, tetapi untuk mendidik dan mengajar setiap orang pada kebaikan bagi diri dan sesama. Oleh sebab itu, jika pemberlakuan hukum agama malah membuat orang kehilangan kasih yang nyata bagi Allah, diri sendiri dan sesama, maka ada sesuatu yang mesti diperbaiki.

Kisah Injil hari ini mengungkapkan contoh kasus di mana Tuhan Yesus mengajarkan kita semua untuk memahami hukum ke-4 dari 10 hukum Allah yang terkenal itu, yaitu untuk mengingat dan menguduskan Sabat. Jelas, melalui pengajaran Yesus kita belajar bahwa Sabat bukan semata-mata sebagai sebuah hari di mana orang tidak melakukan apa-apa saja. Tetapi jauh lebih dalam dan penting lagi, yaitu saat kita juga mau berhenti dari segala pementingan diri sendiri dan berani melangkah keluar dari kekakuan diri karena pertolongan Roh Kudus, untuk mengasihi segenap ciptaan Allah, mulai dari diri sendiri, kemudian meluas untuk semakin menjernihkan relasi kasih kita dengan sesama ciptaan lain yang membutuhkan pertolongan.

Sejak Kristus dibangkitkan pada hari Minggu, maka sebagai pengikut-Nya kita tidak lagi merayakan Sabat tepat pada hari keenam (Sabtu). Kita lebih merayakan kebangkitan Kristus di hari Minggu. Sabat pun lebih kita hayati sebagai sebuah momen (suasana yang tidak terikat waktu yang baku) karena memang yang terpenting dari setiap hukum keagamaan adalah prinsip, inti dan tujuan dari hukum itu, bukan tata cara teknisnya. Ada yang merayakan momen Sabat di hari Minggu, ada yang pada momen lain. Kapan pun itu, intinya ialah bagaimana kasih Allah di dalam Kristus disadari, dialami, dan kita terus mengalami pembebasan dari perbudakan kebodohan dosa untuk melakukan tindakan-tindakan kasih yang memuliakan Allah. Momen Sabat membuat kita tersadar bahwa karena pengudusan kita akan setiap waktu anugerah Allah yang boleh kita jalani dengan segala karya hidup, kita pun mesti “berhenti, beristirahat, berefleksi” dari segala pementingan diri, bersyukur kepada Allah dan mau dikuatkan Roh-Nya untuk berbagi segala yang baik kepada sesama ciptaan Allah, demi kemuliaan nama-Nya.
  1. Mengapa orang-orang Farisi mengomentari tindakan murid-murid Yesus saat mereka berjalan di ladang gandum bersama Yesus? Apakah yang dilakukan orang-orang Farisi itu wajar menurut Anda?

  2. Apa yang terjadi di rumah ibadat pada hari yang sama itu? Apa yang Yesus lakukan dengan orang yang mati sebelah tangannya? Bagaimana tanggapan orang-orang yang mendengarkan pertanyaan Yesus dan melihat apa yang Yesus lakukan itu? 

  3. Apakah Anda pernah melanggar peraturan demi melakukan tindakan kebaikan? Bagaimana tanggapan orang-orang yang menyaksikan tindakan Anda itu? 

  4.  Jika Sabat kita rayakan sebagai sebuah “momen” ketimbang sebuah “hari”, bagaimanakah Anda akan merayakannya? Kapan waktunya?
Minggu 3 Juni 2018
EE

Misteri Trinitas yang membebaskan

diposting pada tanggal 26 Mei 2018 02.38 oleh Admin Situs   [ diperbarui26 Mei 2018 09.59 ]


Selalu ada misteri dalam agama. Salah satu misteri pada kekristenan adalah paham tentang Allah Trinitas. Telah banyak hal yang dilakukan untuk menguak misteri itu. Namun, misteri tetap berada dalam selubung karena ketidakmampuan dan 
keterbatasan manusia. 

Agustinus, seorang Bapa Gereja, mengatakan: “si comprehendis, non est Deus” yang berarti jika Anda memahaminya, itu pasti bukan Allah. 
Merayakan misteri makin membawa manusia pada kesadaran keterbatasan dirinya. 

Gambaran tentang misteri Allah juga sedikit terkuat dalam dialog relasional Nikodemus dan Yesus. Bagi Nikodemus, kuasa yang Yesus perlihatkan dalam karya-Nya berasal dari Allah, “Sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya” (Yoh. 3 : 2). Jelas, Nikodemus mempercayai Allah.

Mengamini apa yang dikatakan Nikodemus, Yesus menegaskan perlunya orang dilahirkan kembali atau dalam bahasa populer lahir baru. Tetapi bagaimana mungkin? Begitu lebih lanjut pertanyaan Nikodemus. Yesus menjelaskan pemahaman tentang 2 tahap penciptaan manusia. Tahapan pertama manusia dibentuk dari debu tanah. Tahapan kedua manusia dihembuskan napas kehidupan atau diberi roh sehingga menjadi mahluk hidup. Bagian ini dapat disebut kelahiran dari bawah.

Tahap pertama, memang tidak mungkin dilakukan kembali. Inilah yang menjadi pertanyaan Nikodemus selanjutnya, bagaimana mungkin orang yang sudah tua masuk lagi ke rahim ibunya. Tahap kedua mungkin dilakukan. Karena itu karya Roh Kudus. 

Tahap ini dapat disebut kelahiran dari atas. Dari sini kita menemukan konsep Trinitarian: Allah Bapa mengasihi dunia dan datang dalam rupa manusia, Yesus. Melalui penyaliban Yesus, umat manusia yang percaya diselamatkan. Penyelamatan ini menghasilkan manusia yang dilahirkan kembali oleh karya Roh Kudus. Nampaklah, penuturan Injil Yohanes yang memadukan Allah (Bapa), Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus dalam satu bingkai narasi menunjukkan persekutuan ilahi yang tak terpisahkan. Hal ini membuat kita bisa mengatakan: Di dalam diri Allah Trinitas kita melihat kesatuan dan persekutuan ilahi yang sempurna, di mana masing-masing berada di dalam yang lainnya. Inilah yang disebut perichoresis dalam ugkapan Yunani yang secara harfiah berarti bahwa satu pribadi mengandung dua pribadi yang lain, atau setiap pribadi meresapi yang lain, dan dengan itu saling resap secara timbal balik. 

Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa pembebasan yang dirasakan umat dari belenggu dosa adalah karya Allah Trinitaris. Pembebasan yang dikerjakan oleh Allah Trinitas menjadikan kita, dalam bahasa Paulus, anak-anak Allah. Sebutan anak-anak Allah menjadikan adanya nilai keilahian dalam diri kita. Yaitu persekutuan yang tak terpisahkan, saling mengisi, dan menopang, sebagaimana yang terlihat melalui karya 
Allah Trinitas. 

Di sini, nasihat Leonardo Boff, teolog Amerika Latin menarik untuk diperhatikan. Boff mengatakan: "Kekristenan yang terlampau berfokus pada Bapa tanpa persekutuan dengan Anak dan Roh Kudus dapat menghasilkan gambaran Allah penindas. Sedangkan kekristenan yang terpaku pada Anak tanpa mengacu pada Bapa dan tanpa menyatu dengan Roh Kudus dapat mengantar kepada rasa puas diri dan sikap otoriter dalam diri para pemimpin dan gembala. Kekristenan yang terlampau terkonsentrasi pada Roh Kudus tanpa hubungan dengan Anak dan Bapa, dapat memberi peluang bagi munculnya anarkisme dan hilangnya aturan.” 

Semoga gereja tak hanya mempercayai Allah Trinitas, tetapi menghidupi Allah Trinitas melalui persekutuan yang membebaskan. Tuhan mencintai kita. Amin.

Minggu 27 Mei 2018
NS

Pewarta kasih Allah

diposting pada tanggal 19 Mei 2018 10.38 oleh Admin Situs

Yohanes 15:26-27; Yoh 16:4-15

Dalam ikatan kasih Allah Bapa dengan Yesus Kristus Anak-Nya, Roh Kudus telah diutus hadir dalam kehidupan Gereja. Itulah yang kita ingat dalam Pentakosta. Roh Kudus membuat orang menjadi sadar dan semangat untuk keluar dari kebodohan dosa serta mengikuti Firman yang diajarkan Kristus sewaktu menghadapi masa mendatang. Roh Kudus menolong orang percaya untuk berurusan dengan kelemahan hidupnya dan mengelolanya menjadi kekuatan yang berdampak bagi segenap ciptaan.

Saat merayakan Pentakosta, kita tahu bahwa kita diperlengkapi untuk mengabarkan kasih Allah. Kasih yang nampak dalam persahabatan yang mengubahkan. Acap kali Gereja terlalu sibuk, tetapi sibuk yang tidak jelas. Kita bersyukur bahwa Roh Kudus akan mengubahkan hati kita. Dalam pembaruan itu, pikiran kita menjadi jernih untuk mengupayakan dengan nyata apa yang harus dikerjakan sebagai Gereja di tengah keadaan zaman yang putus asa, kehilangan makna hidup dan suka yang instan dan cepat tanpa relasi yang hangat. Kita mewartakan kasih Allah. Kasih yang membebaskan. Kasih yang berujung pada keramahan hidup di tengah keberagaman. Kasih yang adil dan mau memahami. Kasih yang mau membangun kerja sama yang sehat. Semoga citra diri kita sebagai Gereja, semakin menampakkan citra Allah yang menyapa dan membawa kabar baik bagi Dunia.
  1. Apa yang akan dikerjakan Roh Kudus bagi dunia ini? Apa yang akan dikerjakan murid-murid juga?
  2. Apa yang membuat orang insaf akan dosa-dosanya? Apa yang harus dilakukan oleh orang itu setelah ia insaf
  3. Dosa-dosa apa yang Anda cermati nampak jelas di dalam kehidupan sehari-hari kita saat ini?
  4. Bagaimana peran Gereja, termasuk Anda di dalamnya untuk menjadi pewarta kasih Allah di tengah kenyataan dosa-dosa yang ada itu? 
  5. Bagaimana dan dalam bentuk apakah Anda mengalami peran Roh Kudus di dalam kehidupan Anda pada masa yang silam? Pada masa yang akan datang?
Minggu 20 Mei 2018
EE

Dikuduskan dan diutus

diposting pada tanggal 19 Mei 2018 10.32 oleh Admin Situs

Yohanes 17: 1 - 26

Dalam rangka berkarya di tengah dunia inilah orang kristen diperlengkapi, dikuduskan dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Upaya itu dilakukan melalui persekutuan, seperti gereja Tuhan. Orang kristen tidak bisa hidup sendiri. Ia hidup bersama dengan sesama orang percaya dalam gereja-Nya. Yohanes 17: 1 - 26 adalah bagian dari doa syafaat yang Yesus panjatkan. Doa ini boleh dikatakan menyerupai Doa Bapa Kami dalam Injil sinoptik. Hanya isinya luas
dan berada sebelum peristiwa salib.
  1. Relasi apa yang Yesus bicarakan dalam ay. 1 - 5?
  2. Relasi apa yang Yesus bicarakan dalam ay. 6 - 19?
  3. Apa yang digambarkan dalam ay. 20 - 26?
  4. Apa tujuan keberadaan murid Kristus di dunia?
  5. Tugas perutusan apa yang sudah saudara kerjakan bagi dunia?
Minggu 13 Mei 2018
NS

Allah tidak pernah salah pilih

diposting pada tanggal 5 Mei 2018 10.56 oleh Admin Situs   [ diperbarui5 Mei 2018 10.57 ]

Yohanes 15:9-17

Cinta kasih dan kehidupan adalah alasan mendasar mengapa Allah menciptakan manusia dan segenap isi semesta. Walaupun manusia memutuskan untuk menjauhi kasih-Nya, karena kasih karunia yang besar, Allah terus merengkuh manusia untuk kembali dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Pilihan untuk tetap mengasihi manusia bukan tanpa alasan. Selain untuk menyelamatkan, Allah di dalam kasih Kristus berkenan menjadikan manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya yang ikut serta dalam melakukan karya-karya kasih bagi segenap ciptaan. Hanya kasih yang dapat memperbarui relasi yang rusak, dan Allah melalui Yesus Kristus telah memulai-Nya dengan memberikan segenap hidup-Nya. Kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa kuasa kasih-Nya akan tetap menyertai setiap orang-orang yang mau berjalan bersama-Nya.

Saat hidup kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan, baik pilihan yang menurut kita sepele maupun pilihan yang terkait dengan apa-apa yang penting di dalam hidup, ingatlah bahwa Allah telah memilih kita untuk selalu dikasihi-Nya. Jangan tolak kasih-Nya. Allah tidak pernah salah pilih, jadi kita pun jangan sampai salah pilih dalam hidup ini. Pilihlah untuk tetap mau dikasihi-Nya dan melanjutkan kasih-Nya melalui buah karya hidup yang nyata.
  1. Apa tanda dari orang yang tetap tinggal dalam kasih Yesus? 
  2. Apa akibat dari orang yang tetap tinggal di dalam kasih Yesus? 
  3. Apa perbedaan antara kasih seorang hamba kepada tuannya dengan kasih seorang sahabat sejati kepada sahabatnya? 
  4. Menurut Yesus, siapakah murid-murid di mata-Nya? Apa alasannya? 
  5. Apakah Anda yakin bahwa Allah telah memilih dan menetapkan Anda untuk menghasilkan buah? Apa alasannya?
Minggu 6 Mei 2018
EE

Tinggal dalam Yesus

diposting pada tanggal 26 Apr 2018 20.03 oleh Admin Situs

Yohanes 15:1-8

Apa yang melekat dengan diri kita, yang setiap hari kita jumpai, kita dengarkan, kita berelasi dengannya, secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi kita. Sungguh berbahagialah kita jika yang melekat dengan diri itu bukan apa-apa yang memberi dampak merusak, membenci, mengkhawatirkan. Sebab melaluinya karya hidup kita pun berjalan dengan baik dan memberi manfaat bagi kita dan orang lain.

Kasih pemeliharaan Allah, Bapa sangat jelas hadir dalam Yesus Kristus. Kasih itu adalah kasih yang membentuk, memperbaiki, mengusahakan yang terbaik bagi setiap orang yang percaya pada firman-Nya. Sebagaimana sumber air memberikan kebaikan bagi setiap makhluk hidup, hubungan kita dengan Kristus akan memberikan kekuatan yang baru bagi kita saat kita bukan saja mendengar firman, tetapi menjadikan firman Kristus itu mengubah pola pikir, perasaan dan tindakan kita.

Kehidupan yang diperbarui Kristus adalah kehidupan yang memberikan dampak baik dan berguna bagi sesama ciptaan Allah yang lain. Tentu bukan sekadar kehidupan yang dijalani dengan kekuatan sendiri, tetapi kehidupan yang terjadi karena bimbingan Roh Kudus dan firman-Nya. Kehidupan sebagai seorang murid. Kehidupan yang tinggal dalam Yesus.
  1. Kapan terakhir kali Anda mengalami koreksi (perbaikan diri, teguran, nasihat) dari Allah di dalam firman Kristus? Apa yang Anda lakukan sesudahnya? 
  2. Apa saja yang akan Anda lakukan sebagai tindakan iman Anda untuk tetap tinggal di dalam Yesus setiap hari? Apa hambatan-hambatannya? 
  3. Kapan terakhir kali Anda menghasilkan “buah-buah” yang baik dan berguna bagi sesama ciptaan Allah? Apakah ada peran Yesus di dalamnya? 
  4. Apakah Anda yakin bahwa Yesus Kristus adalah sumber dari segala sumber yang baik bagi hidup Anda? Apa alasannya? 
  5. Pernahkah Anda berada di dalam situasi di luar Yesus Kristus? Apa yang terjadi? 
Minggu 29 April 2018
EE

Mengasihi dalam tindakan

diposting pada tanggal 21 Apr 2018 10.44 oleh Admin Situs

Yohanes 10: 11-18

Pembicaraan tentang kasih bukanlah hal yang baru dalam kehidupan orang percaya. Perihal kasih ini tak akan pernah berhenti untuk disampaikan dan digemakan karena kasih adalah ciri mutlak yang harus dimiliki dan melekat dalam diri seorang pengikut Kristus. Adalah mudah jika hanya berbicara tentang kasih atau membuat slogan-slogan yang bertemakan tentang kasih, tapi mempraktekkan kasih dalam sebuah tindakan nyata tidak semua orang mau melakukannya, apalagi mengasihi seperti cara Tuhan mengasihi kita yaitu mengasihi tanpa pamrih.
  1. Menurut Yoh 10:11-18, dengan apakah Yesus menggambarkan diri-Nya? 
  2. Apakah dua aspek penting dari gembala menurut Yesus? 
  3. Yesus mau berkorban untuk saudara! Apa wujud pengorbanan saudara bagi Yesus? 
  4. Apa yang membuat saudara sulit mempraktekkan kasih? 
  5. Bagaimana seharusnya GKI Halimun mewujudkan kasih dalam tindakan? 
“Berbagi dengan orang lain adalah bentuk terbaik mensyukuri apa yang telah kita dapatkan dari Tuhan.” 

Minggu 22 April 2018
NS

Komunitas yang bersaksi

diposting pada tanggal 13 Apr 2018 11.00 oleh Admin Situs

Lukas 24: 36 - 48

Gereja adalah komunitas yang seharusnya dapat bersaksi (menghayati dan menyatakan Firman Tuhan) baik di dalam komunitas maupun di luar komunitas. Mengapa? Itu semua berdasarkan kepada penghayatan bahwa bersaksi adalah salah satu tugas panggilan gereja yang seharusnya dihayati dan dilakukan setiap umat. Bersaksi pun membutuhkan semangat yang dapat menguatkan setiap umat untuk mampu menyampaikan kepada siapa saja dan dimana saja. Ketika gereja siap bersaksi di tengah-tengah komunitas dan masyarakat maka siap juga untuk menerima segala risiko yang mungkin akan dialami. Akan tetapi, kita dapat menghayati bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan menolong kesaksian yang kita lakukan.
  1. Bagaimana respon murid-murid saat Yesus hadir di tengah tengah mereka? 
  2. Bagaimana Yesus meyakinkan mereka? 
  3. Apa tugas para murid yang disampaikan Yesus? 
  4. Bagaimana Yesus memperlengkapi mereka? 
  5. Bagaimana dengan kita, sudahkah GKI Halimun bersaksi di tengah-tengah kehidupan komunitas?
  6. Bagaimana dengan kita, sudahkah GKI Halimun bersaksi di tengah-tengah kehidupan masyarakat? 
Ketika kita sudah melakukan kesaksian, maka kata “sudah” belumlah cukup karena bersaksi menjadi pangilan yang akan terus dilakukan, direfleksikan, dan kemudian dilakukan. Itu adalah siklus yang seharusnya terus berputar karena jika kita hanya bersaksi tanpa berfleksi, kita akan terjebak dalam “rutinitas semata”. Padahal, bersaksi bukan hanya sekedar tugas yang rutin saja melainkan kita dapat menghayati keberadaan Tuhan, diri, dan komunitas. Dengan begitu, saat kita sama-sama bersaksi berarti kita mengalami semangat untuk terus bertumbuh dalam komunitas baik dari segi iman, relasi, kerjasama, dsb. Mari, bersaksi!

Minggu 15 April 2018
RC

1-10 of 412