Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Kekuatan doa

diposkan pada tanggal 27 Mei 2017 10.00 oleh Admin Situs

Yohanes 17:1-11

Hasil gambar untuk power of praySemua agama dan keyakinan memiliki satu ritual yang sama yaitu doa. Dalam pelaksanaannya patut disayangkan ketika doa hanya menjadi formalitas kegiatan agama. Doa dari sudut pandang Yesus merupakan relasi antara diri-Nya dengan Bapa. 

Dalam injil kita menemukan Yesus yang berdoa bagi para murid-Nya berdoa untuk pemeliharaan iman mereka. Doa menjadi pendorong bagi kita untuk mendapatkan kekuatan melakukan sesuatu. Doa menghadirkan kuasa Tuhan yang menguatkan, memotivasi dan menggerakkan kita untuk berkarya meski berada di tengah tekanan hidup.
  1. Apakah saudara rajin memelihara komunikasi dengan Tuhan melalui doa?
  2. Doa apa yang paling sering saudara panjatkan?
  3. Apakah doa berdampak dalam kehidupan pribadi saudara?
  4. Saat saudara berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa, apa yang Ia kehendaki supaya saudara kerjakan?
Minggu 28 Mei 2017
NS

Siapa bilang Yesus hanya diam?

diposkan pada tanggal 18 Mei 2017 10.44 oleh Admin Situs

Yesus yang diam dan tidak melawan kerap menjadi rujukan kita ketika menghayati pengalaman tidak menyenangkan. Surat 1 Petrus 2:23 pun kita kutip: “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” Dan, meneladani sikap-Nya, kita –para murid– memilih sikap sama: Diam saat dijahati, tidak melawan ketika diperlakukan tidak adil. Biar Tuhan yang bertindak, demikian kita menggerutu sambil mengelus dada.

Tapi, tunggu dulu. Jika cermat membaca Alkitab, kita akan tahu bahwa diam bukanlah satu-satunya pilihan sikap Yesus. Lihat saja ketika kepada-Nya diperhadapkan pelanggaran adat-istiadat oleh murid-murid-Nya, yaitu saat mereka, seperti dituturkan orang Farisi dan ahli Taurat, "… Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." (Matius 15:2) Bukannya diam, Yesus justru berkata: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? … Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu…. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” (ayat 3-6) – Bukan sekedar membela murid-murid-Nya, melainkan Yesus menunjukkan persoalan serius yang terjadi, yaitu: pelanggaran perintah Allah demi adat-istiadat. Tentu saja hal ini tidak boleh dibiarkan!

Selain melalui kata-kata, ke-tidak-diam-an Yesus juga dinyatakan melalui tindakan. Misalnya, dalam kisah Zakheus (Lukas 19:1-10). Sebetulnya, Yesus bisa saja mengabaikan Zakheus yang berada di atas pohon. Tapi, tidak saja berhenti di bawah pohon, Yesus bahkan mengajak Zakheus berbicara. Kata-Nya, "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (ayat 5) Hasilnya, tentu kita tahu, Zakheus bertobat! Kata Yesus dengan senang, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (ayat 9) – Wah, jika Yesus melewati Zakheus begitu saja, apa yang akan terjadi? Syukurlah, Ia memilih untuk tidak berdiam diri!

Mencermati Yesus yang aktif bersuara dan bersikap dalam meresponi berbagai persoalan yang terjadi, sudah waktunya bagi kita –murid-murid-Nya– meneladani Sang Guru secara komplit. Tuhan pun tampaknya mempercayai kita, sehingga kita diperkenankan untuk mengambil bagian dalam keidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Jangan sia-siakan kepercayaan-Nya, mari bersuara dan bersikap demi Indonesia Tercinta!

Soli Deo Gloria! 

Minggu 21 Mei 2017
TCS

Pergi dalam damai

diposkan pada tanggal 12 Mei 2017 06.45 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 7:55-60; Mazmur 31:1-6, 15-16; 1 Petrus 2:2-10; Yohanes 14:1-14

Menghadapi kematian seringkali diwarnai oleh perasaan takut. Tidak ada kedamaian. Namun, batu-batu nisan orang Kristen seringkali ditulisi RIP: Rest in Peace atau Recquiescat in Pace, yang berarti beristirahat dalam damai. Apa yang melandasi keyakinan Kristen bahwa orang yang meninggal dalam Tuhan boleh pergi dalam damai?

Kisah Para Rasul 7: 55-60
  • Apa yang Saudara ketahui tentang latar belakang Stefanus?
  • Mengapa dia rela mati demi imannya kepada Tuhan Yesus?
  • Apakah yang menjadi penghiburannya dalam menghadapi kematian?
Mazmur 31:1-6, 15-16
  • Mengapa Pemazmur dapat mengatakan nyawanya diserahkannya ke tangan Tuhan Allah?
  • Apa Saudara juga memiliki keyakinan semacam ini?
1 Petrus 2:2-10
  • Mengapa Tuhan Yesus dibandingkan dengan batu penjuru?
  • Apakah Saudara juga mau dipergunakan sebagai batu hidup dalam pembangunan rumah rohani? Apa makna perkataan ini?
  • Apa yang menjadi penghiburan Saudara jika Allah menganggap Saudara bagian dari bangsa terpilih, imamat rajani, dan umat yang kudus?
Yohanes 14:1-14
  • Bagaimanakah pengajaran tentang Rumah Bapa menolong kita mempersiapkan diri untuk kematian?
  • Apakah dalam mempersiapkan diri untuk kematian Saudara juga sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan?
Minggu 14 Mei 2017
AS

Merawat atau merusak kehidupan?

diposkan pada tanggal 3 Mei 2017 14.02 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 2:42-47; Mazmur 23; 1 Petrus 2:19-25; Yohanes 10:1-10

Kebiasaan baik yang saling terkait dan berbuahkan sukacita

Gereja yang sehat ialah gereja yang mau belajar kepada Kristus dan saling peduli satu sama lain. Di dalamnya Allah memberkati gereja itu dengan perubahan hidup anggotanya untuk menyadari betapa berkuasanya kasih Allah itu, sehingga mereka tidak ragu dan takut untuk berbagi kehidupan satu sama lain. Tentu semua itu dilakukan dengan tulus hati dan gembira karena anugerah-Nya. Gereja yang seperti itu pada akhirnya bukan saja menjadi gereja yang memberi kesegaran hidup bagi orang-orang di dalamnya, tetapi juga memberi dampak baik dan menyenangkan di tempat di mana Allah mengutus mereka.
  • Tindakan apa saja yang dilakukan gereja mula-mula sebagaimana dicatat oleh penginjil Lukas dalam Kisah Para Rasul 2:42-47? Apakah yang menyebabkan mereka melakukan hal-hal itu? Apakah tindakan-tindakan itu saling terkait satu sama lain? 

  • Kebiasaan-kebiasaan apa yang ada di keluarga/rumah Anda yang menurut Anda akan menjadikan keluarga/rumah Anda dipenuhi dengan ketulusan dan kegembiraan serta menyenangkan bagi setiap orang yang ada di dalamnya? 
Allah Sang pemelihara, pembimbing, penjaga dan penyambut
Gambaran Allah sebagai seorang gembala yang baik tidak asing bagi orang Kristen. Pada mulanya, gambaran ini merupakan perenungan iman dan kehidupan dari Daud (Mazmur 23:1-4). Gambaran itu mengungkapkan betapa tenteramnya hidup yang berangkat dari pengakuan bahwa Allah itu memelihara, memberikan apa yang dibutuhkan dan memberikan pencerahan budi dan nurani. Saat suasana pikiran dan hati dilanda kemelut dan kesedihan sekalipun, iman kepada Allah yang menjaga dan membimbing akan memberikan kekuatan yang baru untuk terus melangkah dalam cinta kasih dan pengharapan. Gambaran lain yang Daud ungkapkan ialah kehadiran-Nya sebagai seorang penjamu di sebuah pesta yang menyenangkan (Mazmur 23:5-6) Gambaran ini menyadarkan setiap orang percaya akan kepedulian dan keramahtamahan Allah yang merangkul dan menyambut semua orang untuk menikmati kebaikan-Nya yang setia.
  • Kuasa kasih Allah bagi Daud digambarkan mirip dengan seorang gembala yang baik dan penjamu di sebuah pesta yang menyenangkan. Bagi Anda sendiri, bagaimanakah Anda menggambarkan tindakan kasih Allah yang telah dinyatakan dalam kehidupan Anda? Seperti apakah Allah bagi hidup Anda? 
Mengikuti teladan Kristus
Perbuatan baik selalu disertai dengan tindakan yang berkurban. Kerelaan berkurban itu datang-Nya dari Allah, yang memampukan seseorang untuk terus mengupayakan apa yang baik walau harus mengalami kesusahan dan penderitaan sekalipun (1 Petrus 2:19-20). Tuhan Yesus Kristus menjadi teladan yang nyata terkait hal ini (1 Petrus 2:21). Kejahatan tidak dikalahkan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan. Ada sebuah pembaruan hidup karena cara pandang yang baru akibat mengimani Kristus yang sudah memberikan kasih yang besar itu (1 Petrus 2:23-25).
  • Apa yang dapat membuat Anda memperbarui cara pandang dalam hidup Anda? Apakah Anda setuju jika dikatakan bahwa perbuatan baik itu selalu disertai dengan tindakan yang berkurban? Mengapa? 
Yang membinasakan dan yang menghidupkan
Kita tidak dapat menutup mata bahwa di dalam kehidupan komunitas beragama pun, dapat dijumpai motivasi yang tidak baik. Hal itu dapat ditemukan dalam sikap-sikap yang lebih mencari keuntungan bagi diri sendiri ketimbang memberikan apa yang terbaik yang dapat diberikan bagi orang lain (Yohanes 10:1,5,8). Sikap mencari keuntungan itu sama saja dengan tindakan pencurian. Yang dicuri adalah sukacita dan kedamaian. Pada akhirnya sikap merusak ini hanya akan melahirkan perpecahan. Sebaliknya, motivasi yang sehat berangkat dari kepedulian akan yang lain dan mengenali apa yang menjadi kebutuhan yang lain serta dengan rela hati memenuhinya, ketimbang menuntut dan mengambilnya (Yohanes 10:9-10).
  • Apa-apa saja yang menurut Anda telah Yesus lakukan dan berikan bagi kehidupan Anda selama ini? Lalu apa-apa saja yang telah Anda lakukan dan berikan bagi kehidupan orang lain selama ini dalam lingkup keluarga, gereja dan masyarakat?
Minggu 7 Mei 2017
EE

Yesus sahabat sejati

diposkan pada tanggal 29 Apr 2017 09.45 oleh Admin Situs   [ diperbarui3 Mei 2017 14.07 ]

Lukas 24:13-35

Persahabatan adalah sebuah relasi yang memberi dukungan di antara orang-orang yang bersahabat. Yang menarik, pola tersebut tidaklah berkembang dengan sendirinya di antara manusia, tetapi di dalam campur tangan Allah. Pada permulaan jaman, Allah memberikan hawa sebagai sahabat bagi Adam. Pada puncaknya, Ia mengutus Yesus Kristus menjadi sahabat bagi manusia.

Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah cara yang dipilih Allah untuk membuka jalan bagi terjalinnya kembali relasi yang intim antara Allah dan manusia; sebuah relasi yang memberi dukungan utuh dalam menjalani hidup di dunia.

Melalui pemahaman, pemaknaan dan pengalaman berelasi dengan Allah itulah, orang percaya mempunyai landasan yang kokoh untuk berelasi dengan sesama. Kisah Emaus pun mengajarkan kepada kita tentang Yesus yang senantiasa menjadi sahabat manusia. 
  1. Apa yang dapat menyebabkan orang menjadi muram, letih atau lesu? 
  2. Kesedihan apa yang saudara lihat dalam kisah Emaus? 
  3. Apa yang Yesus lakukan untuk memulihkan semangat Kleopas? 
  4. Dalam situasi apa saudara merasakan kehadiran Tuhan sebagai sahabat? 
  5. Apa saudara telah menjadi sahabat bagi Kristus? Bagaimana caranya? 
  6. Apa kaitan menjadi sahabat bagi Kristus dengan menjadi sahabat bagi sesama? 
Minggu 30 April 2017
NS

Kristus bangkit, kerjakanlah panggilanmu

diposkan pada tanggal 25 Apr 2017 08.59 oleh Admin Situs

Kisah Para Rasul 2:14,22-32;Mazmur 16;1 Petrus 1:3-9;Yohanes 20:19-31

“Kristus bangkit!”, itulah optimisme pengikut Kristus pada periode awal hingga kini tetap berkumandang. Kebangkitan Kristus merupakan kesaksian iman orang percaya dalam masa awal hadirnya gereja dan bahkan mendorong pelayanan dan kesaksian gereja sepanjang masa.

Iman kepada Kristus yang bangkit menjadi harapan untuk mengobarkan semangat gereja untuk menjalani kehidupan dengan keberanian.

Dalam suasana sukacita di hari raya Paskah, umat percaya diingatkan ulang bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah kehendak Allah dalam mendamaikan kita dengan diri-Nya, dan dengan demikian telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita (2 Kor. 5:18).

Karya pendamaian tersebut merangkum hubungan Allah dengan manusia dan dengan alam semesta (Kol. 1:20). Artinya, keselamatan itu tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh alam semesta. Semua dilakukan-Nya dalam kasih-Nya yang tidak membiarkan manusia dan seluruh ciptaan-Nya binasa.

Paskah selalu membangkitkan pengharapan, kekuatan dan semangat baru bagi kita untuk memberikan diri kita diperdamaikan oleh Allah, oleh sebab itu kita dimampukan untuk melanjutkan perjalanan hidup secara harmonis bersama Tuhan, maupun dengan sesama dan seluruh makhluk ciptaan.

Tema di atas sangat relevan dengan pergumulan hidup kita saat ini di dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan.

Gereja berada di tengah masyarakat majemuk yang sedang mengalami perubahan yang cepat. Banyak hal menggembirakan yang telah dicapai di tengah perubahan tersebut. Namun tak sedikit juga keprihatinan yang kita hadapi.

Salah satu keprihatinan utama adalah konflik yang semakin merebak di tengah masyarakat, yang pada gilirannya merusak relasi antar manusia dan relasi manusia dengan alam.

Kecenderungan sedemikian juga terjadi di tengah-tengah kehidupan dan pelayanan gereja. Ada gereja-gereja yang mengalami ketidak-harmonisan bahkan perpecahan, karena rusaknya relasi antar jemaat yang satu dengan yang lain.

Gaya hidup yang semakin konsumtif tidak jarang menjauhkan pribadi yang satu dari yang lain dan merusak alam, misalnya membuang sampah sembarangan dan menggunakan air berlebihan. Keadaan inilah menjadikan relasi dengan Allah, sesama manusia dan alam menjadi rusak.

Marilah kita renungkan : Allah adalah Kasih, bagaimana respon nyata kita sebagai pengikut-Nya ?

Minggu 30 April 2017
BM

Kebangkitan-Nya menjawab keraguanku

diposkan pada tanggal 19 Apr 2017 11.39 oleh Admin Situs

Lukas 24:33-45

Ragu terhadap sesuatu adalah hal yang dapat dialami oleh siapapun. Persoalannya adalah apakah yang kemudian kita lakukan di kala berada dalam posisi yang seperti itu? Apakah kita membiarkan keraguan itu terus menguasai hidup, atau kita segera berupaya mencari jawab atas keraguan itu? Keraguan bukanlah hal yang tabu. Bahkan keraguan dapat menuntun seseorang pada kebenaran yang lebih dalam dari sebelumnya. Asalkan keraguan itu tidak dibiarkan berlarut menguasai hidup, melainkan dipakai sebagai jembatan untuk mencari jawab dan kebenaran.
  1. Pernahkah saudara meragukan karya Yesus dalam kehidupan ini? 
  2. Apa dampak keraguan tersebut bagi hidup saudara? 
  3. Bagaimana cara mengatasi keraguan yang timbul dalam hati saudara? 
  4. Langkah-langkah apa yang biasanya saudara lakukan untuk meyakinkan diri kembali? 
  5. Apa kaitan peristiwa kebangkitan Yesus dengan keraguan saudara akan karya Allah di masa kini? 
Minggu 16 April 2017
NS

Penderitaan yang memerdekakan

diposkan pada tanggal 8 Apr 2017 10.03 oleh Admin Situs

Mazmur 118:1-2, 19-29; Matius 21:1-11

Minggu ini merupakan peringatan Minggu Palmarum, yakni peristiwa masuknya Yesus Kristus ke dalam Kota Yerusalem. Di Kota dan minggu inilah, Tuhan Yesus menjalani penderitaan-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Minggu ini juga memulai Pekan Suci yang berisi hari-hari peringatan paling penting bagi karya Yesus Kristus di dunia: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Mazmur 118: 1-2, 19-29
  1. Apakah gambaran yang terdapat di Mazmur ini bisa digolongkan sebagai nubuat dari peristiwa masuknya Yesus ke Kota Yerusalem? 
  2. Siapakah yang dimaksud dengan “Batu yang dibuang oleh tukang tukang bangunan”? 
  3. Mengapakah Pemazmur membuat ajakan untuk bersorak-sorak dan bersukacita? 
Matius 21: 1-11 
  1. Apa persiapan yang Yesus lakukan sebelum masuk ke Yerusalem? Apa peran murid-murid-Nya dalam persiapan itu? 
  2. Mengapa Ia perlu membuat persiapan itu? 
  3. Apa makna sambutan orang banyak kepada Yesus (ayat 9)? 
  4. Bagaimanakah sikap Yesus dalam menghadapi penderitaan yang pasti akan menimpa-Nya di Yerusalem? 
  5. Persiapan apa yang kita, sebagai murid-murid Yesus, perlu buat dalam rangka menyambut Pekan Suci? 
  6. Bagaimanakah sikap kita menghadapi penderitaan yang mungkin muncul dalam rangka menjadi murid Yesus Kristus? 
Minggu 9 April 2017
AS

Hidup dalam kasih-Nya

diposkan pada tanggal 29 Mar 2017 12.46 oleh Admin Situs

Yehezkiel 37:1-14, Mazmur 130, Roma 8:6-11, Yohanes 11:1-45

Kasih Allah itu berkuasa memulihkan kehidupan yang rusak karena kebodohan dosa. Karena kuasa kasih Kristus yang nyata melalui kehadiran Roh-Nya, setiap orang yang percaya tetap memiliki pengharapan untuk bangkit dari keterpurukan hidup. Bukan hanya itu. Roh Kristus memampukan orang yang percaya untuk cakap memilah dan memilih segenap tindakan yang berujung pada kehidupan. Orang yang mau hidup dalam kasih-Nya itu akan dianugerahkan Allah kekuatan untuk tangguh menghadapi segenap penderitaan yang datang dan tetap setia melakukan kasih. Tidak ada yang dapat menghentikan kasih Allah dinyatakan. Bahkan maut sekalipun tidak dapat menghentikan kasih Allah yang memulihkan itu.
  1. Pada waktu umat Israel berada negeri lain karena dibuang penjajah, jauh dari kampung halaman, berpotensi kehilangan pengharapan, berlarut-larut dalam kesedihan, nabi Yehezkiel mendapatkan penglihatan. Apa yang diperlihatkan Allah kepadanya? (Yeh. 37:1-10) Apa arti dari penglihatan itu? (Yeh. 37:11-14) 

  2. Saat Anda kehilangan semangat karena melihat keadaan yang menjengkelkan atau mengalami situasi yang tidak Anda harapkan, hal apa yang membuat semangat Anda bangkit kembali? Apakah Firman Allah memiliki andil dalam membangkitkan semangat Anda? Dengan cara seperti apa? 

  3. Ada yang diserukan Pemazmur saat ia mengalami kesusahan. Apa yang menjadi penyebab kesusahannya? (Mzm. 130:3-4) Apa yang akan dilakukan Pemazmur seiring permohonannya kepada Allah? (Mzm. 130:5-6) Apa pesannya kepada saudara-saudaranya saat mengalami kesusahan? (Mzm. 130:7-8) 

  4. Menurut Anda apa manfaat yang didapat dari seseorang yang memiliki pengharapan? Apa yang membedakan pengharapan dengan khayalan? 

  5. Paulus menasihatkan gereja Tuhan untuk mewaspadai tabiat manusia yang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menolak bimbingan Roh Allah (Rm. 8:6-9) Bagi Paulus, gereja Tuhan harus memilih kehidupan. Bagaimana caranya? (Rm. 8:10-11) 

  6. Apakah Anda cukup peka untuk mengendalikan keinginan yang buruk dan jahat dalam diri Anda selama ini? Bagaimana caranya? 

  7. Walaupun banyak orang yang keras hati di Yudea berhasrat untuk melenyapkan Yesus, Ia tetap datang ke sana untuk menjenguk Lazarus yang sakit. (Yoh. 11:8, Yoh. 11:1-4) 

    Karena kasih-Nya, Yesus selalu memberikan apa yang baik menurut kehendak Bapa bukan hanya untuk Lazarus dan keluarga, tetapi bagi banyak orang yang mau diajar-Nya. (Yoh. 11:9-16)

  8. Dalam duka cita yang dialami keluarga Lazarus, kepedulian Yesus nyata. Ia menghadirkan pengharapan dan kasih yang memulihkan. (Yoh. 11:17-36) Apa yang Yesus lakukan untuk memulihkan kehidupan Lazarus, Marta dan Maria? (Yoh. 11:37-44). Apa dampak dari karya Yesus bagi orang yang menyaksikan pemulihan hidup itu? (Yoh. 11:45) 

  9. Kabar baik apa yang Anda dapatkan dari kisah ini? Apa yang menjadi bekal hidup bagi Anda saat menghadapi peristiwa duka cita? Hikmat apa yang Anda dapat saat menyimak kisah ini terkait tentang bagaimana seseorang bangkit dari keterpurukan hidup? 
Minggu, 2 April 2017
EE

Melihat tetapi buta

diposkan pada tanggal 24 Mar 2017 09.54 oleh Admin Situs

1 Samuel 16:1–13; Mazmur 23; Efesus 5:8–14; Yohanes 9:1–41

Pendeta Jeremiah Steepek, mengisahkan pengalamannya pada saat dia diperkenalkan pada satu jemaat dimana dia nanti menjadi gembala jemaat di gereja itu. Satu jam lebih awal, ia datang ke gereja dengan berpura-pura berpenampilan sebagai seorang gelandangan. Ia berjalan keliling mencari tempat duduk dan mendekati umat yang mulai berdatangan, tetapi sayang hanya tiga orang yang menyapa “Hello“ kepadanya. Tidak lama setelah itu, iapun maju ke depan dan duduk dikursi paling depan, iapun segera diusir dan duduk di barisan belakang. Banyak mata yang menatapnya dengan pandangan yang sangat merendahkan dan menghakiminya.

Tiba saatnya diumumkan Gembala baru yang akan bertugas di gereja tersebut, dan hal ini sangat dinanti-nantikan oleh umat yang hadir, mereka berdiri dan bertepuk tangan. Seorang yang berpenampilan gelandangan berdiri dan berjalan menuju mimbar. Semua mata terbelalak dan kaget. Orang yang maju ke depan itu tidak lain adalah seorang pendeta senior “Jerimiah Steepek“. Mereka semua tertunduk malu.

Nabi Samuel hampir terperangkap pada penampilan fisik anak-anak Isai yang lain karena tampak gagah dan berperawakan tinggi dibanding Daud yang masih muda belia. Allah menegur nabi Samuel “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”. Allah mengajak Samuel untuk tidak menggunakan cara pandangnya sendiri, tetapi Allah ingin Samuel menggunakan cara pandang Allah.

Orang Farisi gagal melihat karya Yesus sebagai anak Allah yang datang dari sorga atas penyembuhan orang yang buta sejak lahir, sebaliknya orang yang buta matanya melihat Yesus yang sesungguhnya dan mengakuinya sebagai Tuhannya (Yohanes 9 : 38).

Kenyataannya, kita kadang bersikap dan bertindak seperti Samuel dan orang Farisi. Dalam mengambil keputusan, kita acapkali menggunakan cara pandang kita. Benarkah demikian?

Pertanyaan :
  1. Kemana Samuel diutus oleh Allah? misinya untuk apa? 
  2. Mengapa hanya Daud, anak bungsu yang disuruh diurapi oleh Tuhan dan bukan salah seorang dari saudaranya Daud?
  3. Daud menulis pengalamannya sendiri karena dia telah menjalani tahun-tahun awalnya dengan menggembalakan domba. Mengapa Daud menggambarkan Tuhan itu sebagai gembala? 
  4. Bagaimana kita menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang baik (Yohanes 10 : 11) dan Gembala Agung (Ibrani 13 : 20), dan kita adalah domba-domba-Nya?
  5. Mengapa Tuhan menyuruh setiap orang yang percaya harus hidup sebagai anak- anak terang ? (Efesus 5 : 8) 
  6. Ketika Yesus mengoleskan tanah yang telah diaduk di mata orang buta itu dan disuruh pergi membasuh dirinya dalam kolam Siloam, kesembuhan belum terjadi (Yohanes 9 : 6). Dan setelah membasuhkan dirinya dalam kolam, baru terjadi penyembuhan, melek matanya (Yohanes 9 : 7). Bagaimana kita memaknai peristiwa itu di dalam kehidupan kita? 
  7. Mengapa orang Farisi selalu gagal melihat Tuhan Yesus dalam karya-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan oleh segenap umat Israel? 
Minggu 26 Maret 2017
JMW

1-10 of 357