Kegiatan‎ > ‎

Renungan Warta

Disalin dari renungan warta yang tercetak pada
halaman muka Warta Jemaat GKI Halimun

Balas Dendam

diposkan pada tanggal 18 Feb 2017 21.07 oleh Admin Situs

Matius 5: 38 - 48

Menyerang total adalah falsafah sepak bola yang diusung Zinedine Zidane saat menukangi Real Madrid. Dia mengubah citra sepakbola Madrid di era pelatih sebelumnya yang gemar bertahan dan mengandalkan serangan balik. Bagi Zidane, pertahanan terbaik adalah ketika menyerang. Jika tim serasa tertekan akibat serangan lawan maka cara tercepat untuk mengatasinya adalah dengan sesegera mungkin mengambil kontrol permainan, dan itu hanya bisa dicapai dengan cara menyerang pertahanan lawan.

Menariknya, sejak zaman Yesus pun cara-cara pertahanan diri dengan menyerang, menuntut atau membalas orang lain pun sudah lazim dilakukan. Dan mereka yang melakukan itu menemukan pembenarannya lewat kitab suci. Yesus hadir memutarbalikkan sikap orang-orang terhadap kitab suci. Bagi Yesus yang penting bukan semata-mata yang tertulis secara harafiah, melainkan memahami jiwa dari apa yang tertulis itu. Yesus membongkar ulang esensi hukum taurat, sehingga orang akan memahami bahwa moralitas kerajaan Allah yang diajarkan Yesus itulah yang mampu memberikan jawaban tuntas terhadap persoalan yang dihadapi manusia. 

Sebagai pengikut Kristus, apa sikap saudara saat berhadapan dengan peristiwa: 
  1. Seseorang menyerang dan menghina saudara 
  2. Seseorang menuntut saudara atas hak miliknya 
  3. Seseorang memaksa saudara melakukan sesuatu 
  4. Seseorang meminta sesuatu terhadap saudara 
  5. Setiap orang akan menjadi segambar dengan Allah, apabila ia di dalam hidupnya memberlakukan kebajikan dan kasih yang serupa dengan kasih-Nya. 
Minggu 19 Februari 2017
Pdt. NS

Kesalehan Kristen Yang Sejati

diposkan pada tanggal 9 Feb 2017 09.18 oleh Admin Situs

Ulangan 30:15-20; Mazmur 119:1–8; 1 Korintus 3:1–9; Matius 5:21–37

Siapa orang yang paling saleh yang pernah Anda kenal? Dapatkah saudara hidup sesaleh dia? Kebanyakan orang akan bilang sulit, sulit sekali hidup saleh. Dalam Matius 5, Tuhan Yesus mengajar bahwa kehidupan murid-murid-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat. Demikian kita dengar di khotbah minggu sebelumnya. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (ayat 20).”

Ajaran ini tentunya sulit. Orang Farisi dan Ahli Taurat barangkali adalah orang yang berperilaku paling saleh di muka bumi pada zamannya. Mereka menaati setiap titik dan koma dari Hukum Taurat. Hidup mereka diatur begitu rupa supaya tidak bisa melanggar isi Hukum Taurat. Bahkan perkakas makan, minum, masak mereka ditempatkan dan diatur sedemikian rupa supaya tidak melanggar aturan kosher, yakni hukum makanan haram-halal seperti yang diatur oleh Hukum Taurat. Dapatkah murid-murid Tuhan Yesus hidup lebih saleh daripada para ahli Taurat dan orang Farisi?

Dalam bacaan Injil kita hari ini, Tuhan Yesus memberikan contoh bagaimana kehidupan keagamaan para pengikut-Nya harus lebih baik daripada kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat yang diatur oleh Taurat. Misalnya dalam 21-22, Tuhan Yesus mengutip Taurat tentang jangan membunuh. Lalu Ia menambahkan bahwa membenci orang sebetulnya sama saja dengan membunuh. Di Halimun kita boleh yakin tidak ada anggota jemaat yang pernah membunuh orang lain. Maka kalau kita pakai standar ahli Taurat dan Farisi, kita semua aman dalam hal kesalehan—kita bukan pembunuh. Namun tentang membenci orang, rasanya kita semua pernah sebel atau benci pada orang lain. Menurut Yesus ini pun salah besar. Tidakkah tuntutan Tuhan lebih tinggi daripada tuntutan hidup orang Farisi dan ahli Taurat di sini?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini berulang kali memberikan contoh bagaimana bukan saja perilaku yang harus benar, tetapi juga motivasi dan hati dari pengikut-Nya harus benar. Dan tentunya ini menjadi masalah bagi kita yang mengaku pengikut Dia. Dapatkah kita lepas dari membenci orang lain, misalnya? Dari memiliki motivasi dan hati yang kurang tulus? Lebih sulit lagi, dalam penutup Matius 5, Tuhan Yesus berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (ayat 48). Mustahil bukan? Lebih mudah ikut ahli Taurat dan orang Farisi—cukup buat perilaku yang mengikuti Hukum Taurat, daripada ikut Tuhan Yesus yang menuntut motivasi dan hati yang benar, kalau begitu.

Agaknya ada salah anggapan bahwa Tuhan Yesus menaikkan tuntutan Hukum Taurat dalam bacaan kita. Namun, memang sejak awalnya Hukum Taurat itu bukan sekedar perilaku yang saleh. Sejak awalnya Hukum Taurat menuntut hati dan motivasi yang benar tatkala menaati perintah Allah, yakni kasih kepada Allah (bdk. Ul.30:20 “dengan mengasihi TUHAN, Allahmu”). Maka sejak awalnya, tuntutan Tuhan Allah sudah sedemikian tingginya. Manusia harus menunjukkan perilaku yang benar bersumber dari hati dan motivasi yang benar—mengasihi Tuhan Allah, bukan suatu kepura-puraan supaya terlihat saleh di hadapan sesama manusia.

Dengan jujur saya mengaku tidak dapat memenuhinya. Rasanya saya tidak berlebihan kalau mengklaim bahwa kita semua juga tidak dapat memenuhi tuntutan Taurat dan Tuhan Yesus sebagaimana tertulis dalam Matius 5: 21-37.

Hanya ada satu manusia yang pernah menggenapi semua tuntutan Taurat—Tuhan Yesus. “Aku datang… untuk menggenapinya” (Mat 5: 17). Dia dengan jelas menunjukkan penggenapan tuntutan Taurat dengan mati di atas kayu salib—mengorbankan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah yang tak bercacat untuk menghapus dosa dunia. Karena menerima kebenaran-Nya dan korban-Nya, kita mengenakan kebenaran-Nya, bukan kebenaran kita sendiri karena sanggup memenuhi tuntutan Taurat.

Apa maknanya? Kita bergantung pada kasih karunia Allah untuk menjalani kehidupan yang benar. Setiap kali kita tergoda untuk membenci orang lain, atau melakukan hal lain yang tidak disukai Tuhan, kita diingatkan untuk bertanya dalam hati kita, “Apakah ini perilaku yang bersumber dari kasih karunia Allah yang telah saya terima?” Demikianlah seharusnya cara hidup Kristen. Kita senantiasa diundang untuk menyadari bahwa tingkah laku kita sepatutnya didorong oleh kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

Ini tidak berarti kehidupan saya dan Saudara serta-merta lebih bermoral, lebih saleh daripada orang-orang lain. Ini, sebaliknya, berarti kita harus selalu bersandar kepada Tuhan Yesus—Tuhan dan Guru kita—untuk menjalani kehidupan keagamaan yang lebih benar, yang lebih jujur pada kelemahan manusiawi kita dan kebergantungan kita yang menyeluruh pada kasih karunia-Nya, alih-alih pamer kesalehan.

Puisi yang ditulis oleh Maya Angelou berikut, menurut saya menunjukkan kesalehan Kristen yang sejati—yang jujur pada kelemahan diri sendiri dan bergantung kepada kasih karunia Allah yang nyata dalam Tuhan Yesus Kristus.

"I Am A Christian" 
“Saya Seorang Kristen” 

When I say ... "I am a Christian"  
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not shouting "I'm clean livin'.
" Saya tidak berseru “Hidup saya benar.”

I'm whispering "I was lost, 
 Saya berbisik, “Saya dahulu terhilang,

Now I'm found and forgiven." 
Sekarang saya ditemukan dan diampuni.”

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I don't speak of this with pride. 
 Saya tidak mengucapkannya dengan kebanggaan.

I'm confessing that I stumble 
 Saya mengaku saya terjatuh

and need Christ to be my guide. 
Dan butuh Kristus sebagai pandu saya.

When I say ... "I am a Christian" 
 Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not trying to be strong. 
Saya tidak berupaya menjadi kuat.

I'm professing that I'm weak 
Saya menyatakan saya lemah

And need His strength to carry on. 
Dan membutuhkan kekuatan-Nya untuk melanjutkan hidup.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not bragging of success. 
Saya tidak menyombongkan keberhasilan.

I'm admitting I have failed 
Saya mengaku saya telah gagal

And need God to clean my mess 
Dan membutuhkan Allah untuk membereskan kekacauan saya

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not claiming to be perfect, 
Saya tidak mengklaim diri sempurna,

My flaws are far too visible 
Kecacatan saya terlalu kasat mata

But, God believes I am worth it. 
Tetapi, Allah yakin saya layak.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen” 
  
I still feel the sting of pain. 
Saya masih merasakan sengatan sakit.

I have my share of heartaches 
Saya memiliki sakit hati

So I call upon His name. 
Jadi saya memanggil Nama-Nya.

When I say ... "I am a Christian" 
Waktu saya mengatakan… “Saya seorang Kristen”

I'm not holier than thou, 
Saya tidak lebih suci dari kamu,

I'm just a simple sinner 
Saya hanya pendosa sederhana

Who received God's good grace, somehow. 
Yang menerima kasih karunia Allah, entah bagaimana. 

Minggu, 12 Februari 2017
Agustian N. Sutrisno

Hidup Keagamaan = Memberikan Pengaruh Yang Baik

diposkan pada tanggal 31 Jan 2017 11.14 oleh Admin Situs

Yesaya 58:1-12, Mazmur 112:1-10, 1 Korintus 2:1-16, Matius 5:13-20

Semakin bertumbuh dan berbuah kehidupan beriman seseorang, semakin besar juga kasih-Nya kepada sesama ciptaan Allah. Ada pengaruh baik yang ia berikan kepada sesamanya, berangkat dari kekuatan kasih Allah yang sudah ia alami dan terima. Orang seperti itu tentu berbahagia, sebab pikiran dan hatinya dipenuhi kebaikan. Tidak ada pikiran negatif, amarah berkepanjangan dan permusuhan yang berlarut-larut. Sebab bukankah yang menjadi fokus utama dalam hidupnya ialah menerima kebaikan Allah yang memampukannya memberikan pengaruh baik kepada sekitarnya? Bukankah demikianlah sejatinya hidup keagamaan itu seharusnya?
  1. Apa yang harus diserukan kuat-kuat oleh nabi Yesaya? (Yes. 58:1) Apa yang terjadi dengan umat Allah saat itu? (Yes. 58:2-3) Apa yang Allah lihat keliru dari sikap umat-Nya? (Yes. 58:3-5) Tindakan iman yang seperti apa yang seharusnya dihidupi oleh umat-Nya? (Yes. 58:6-7) Apa yang terjadi jika umat melakukan tindakan imannya dengan benar? (Yes. 58:9-12) 

  2. Menurut Anda, apakah hidup beriman itu terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan yang ilahi saja? Mengapa? Apakah pengalaman tindakan umat yang keliru pada zaman nabi Yesaya juga Anda temukan dalam pengalaman umat Allah pada zaman sekarang? Dalam bentuk seperti apakah? 

  3. Siapa yang disebut berbahagia oleh Pemazmur? (Mzm. 112:1) Apa yang akan dialami oleh orang yang berbahagia menurut Pemazmur itu? (Mzm. 112:2-3) Apa yang akan diterima oleh orang-orang benar? (Mzm. 112:4-9) Apa yang terjadi dengan orang-orang fasik? (Mzm. 112:10) 

  4. Menurut Anda, apakah ada kaitan antara takut kepada Allah dengan berbuat baik kepada sesama? 

  5. Apa yang menurut Paulus penting untuk diketahuinya dalam menjalankan tugas kerasulannya? (1 Kor. 2:1-2) Apa yang menjadi kekuatan bagi Paulus dalam karya penginjilannya? (1 Kor. 2:3-4) Mengapa demikian? (1 Kor. 2:5) Menurut Paulus, apa perbedaan hikmat dunia dengan hikmat Allah? (1 Kor. 2:6-12) Apa manfaat dari hikmat yang diberikan Allah itu? (1 Kor. 2:13-16) 

  6. Menurut Anda apakah ada perbedaan motivasi dari perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Kristus dan orang yang mengikut Kristus? 

  7. Apa simbol-simbol yang digunakan Tuhan Yesus untuk menegaskan bagaimana pengikut-Nya harus berperilaku di dunia? (Mat. 5:13-16) Bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap hukum Taurat dan kitab para nabi? (Mat. 5:17-20) Bagaimana kehidupan keagamaan para pengikut Kristus seharusnya? (Mat. 5:20) 

  8. Pengaruh-pengaruh baik apa yang akan Anda lakukan pada hari-hari ke depan sebagai pengikut Kristus bagi orang-orang lain dan sesama ciptaan Allah dalam hidup Anda? 
Minggu 5 Februari 2017
Pdt. EE

Bahagiakah Kamu

diposkan pada tanggal 27 Jan 2017 14.23 oleh Admin Situs

Matius 5:1-12

Setiap orang mendefinisikan kebahagiaan itu dalam berbagai versi. Beberapa mungkin akan menjawab bahwa kebahagiaan itu adalah “kondisi hati yang disebabkan oleh tercapainya setiap apa yang kita inginkan”. Yang lain akan mengatakan kebahagiaan itu adalah “rasa cukup dan rasa syukur setiap waktu”. Sementara yang lain mengkaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan harta benda. Lalu apa definisi bahagia menurut Yesus?
  1. Apa maksud Yesus mengatakan bahwa orang yang miskin di hadapan Allah (ayat 3) dan orang yang berdukacita (ayat 4) disebut berbahagia? 
  2. Mengapa orang yang lapar dan haus akan kebenaran (ayat 6) disebut berbahagia oleh Yesus? 
  3. Orang yang lembut hatinya (ayat 5), yang murah hatinya (ayat 7) juga disebut berbahagia. Mengapa demikian? 
  4. Paling akhir Yesus menegaskan, bahwa yang suci hatinya adalah orang yang berbahagia (ayat 8). Adakah manusia yang demikian? 
  5. Apakah dalam kehidupan ini, kita termasuk orang-orang yang memiliki kebahagiaan versi Yesus? Apakah refleksi saudara?
Minggu 29 Januari 2017
Pdt. NS

Jadilah Pembawa Kabar Baik

diposkan pada tanggal 27 Jan 2017 14.16 oleh Admin Situs   [ diperbarui27 Jan 2017 14.18 ]

Yesaya 9:1–4; Mazmur 27:1, 4-9; 1 Korintus 1:10-18; Matius 4:12-23

Injil merupakan kabar baik yang diberikan Allah melalui perantaraan Tuhan Yesus yang turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Allah menyelamatkan manusia karena kasih-Nya yang begitu besar. Untuk itu Tuhan menginginkan setiap orang yang percaya menjadi pribadi yang sungguh-sungguh merasakan karya keselamatan Allah dalam hidupnya dan memiliki hati untuk memberitakan karya keselamatan itu kepada sesama. Memberitakan injil merupakan misi dari Tuhan yang tertanam dalam diri setiap orang percaya untuk memancarkan terang-Nya. (Yesaya 9 :1-2)

Kerinduan memberitakan Injil akan terus nampak jika karya keselamatan Allah dirasakan dan meresap dalam kehidupan umat- Nya, yang senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah untuk mampu menghadapi tantangan hidup dan tidak mudah digoyahkan oleh berbagai hal yang tidak sesuai kehendak Tuhan.

Sehingga pengalaman hidup kita bersama Tuhan menjadi daya tarik orang lain yang ingin merasakannya juga. Memberitakan Injil menjadi bagian dari sikap dan tindakan orang percaya di sepanjang hidupnya. Apakah Saudara rindu menjadi pembawa kabar baik dari Allah?
  1. Tuhan senantiasa mengerjakan karya keselamatan bagi umat-Nya, apakah Saudara merasakannya? 
  2. Daud begitu merasakan penyertaan Tuhan sebagai Terang, Keselamatan dan Benteng Hidup. (Mazmur 27:1). Apa arti penyertaan Tuhan dalam kehidupan Saudara? 
  3. Rasul Paulus menegaskan bahwa karya keselamatan Allah merupakan sumber kekuatan bagi pemberitaan Injil. (1 Korintus 1 : 18). Allah senantiasa melakukan karya yang terbaik bagi kehidupan Saudara, apa tanggapan Saudara? Apakah Saudara ingin melakukan seperti yang Allah kerjakan? Jika ya, apa motivasi Saudara? 
  4. Kedatangan Tuhan Yesus ke Galilea memberitakan Injil dan membawa pemulihan bagi banyak orang. (Matius 4 : 12 – 23). Di samping itu Tuhan Yesus memanggil Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk menjadi murid-Nya memberitakan Injil. Jika Tuhan Yesus berkenan memanggil Saudara untuk menjadi murid-Nya untuk memberitakan Injil pada masa kini, sudah siapkah Saudara ? Apa respon Saudara terhadap panggilan tersebut?
Minggu 22 Januari 2017
Pnt. BVM

Setia Ikut Tuhan

diposkan pada tanggal 14 Jan 2017 10.26 oleh Admin Situs

Yesaya 49:1-7, Mazmur 40:1-11, 1 Korintus 1:1-9, Yohanes 1:29-42

Sejatinya Tuhan selalu setia melayani manusia dengan kasih yang penuh rahmat dan pengorbanan. Ia tidak ingin manusia dan segenap ciptaan mengalami kehancuran karena kuasa dosa. Kasih Tuhan adalah kasih yang berkorban. Kuasa kasih Tuhan itu diberikan kepada kita dengan rela. Kepada mereka yang menyambut kasih itu dan dengan tulus menghidupinya, akan mengalami pembaruan hidup. Bahkan bukan hanya pembaruan hidup diri sendiri saja, tetapi akan dikuatkan dan diperlengkapi Tuhan untuk membaharui kehidupan banyak orang dan segenap ciptaan. Pertanyaannya, apakah kita cukup peka untuk menyimak panggilan-Nya dan setia mengikuti-Nya?
  1. Israel sering disebut sebagai Hamba Tuhan. Begitu juga para Raja, Nabi, Imam, pada Perjanjian Lama. Pada bacaan ini, sebutan “Hamba” ditujukan baik kepada Nabi maupun Israel sebagai sebuah bangsa. Kapan Sang Hamba ini menerima panggilan dari Tuhan? (Yes. 49:1) Apa yang Tuhan berikan kepada Sang Hamba itu? (Yes. 49:2-3) Apa tanggapan Nabi menerima janji Tuhan itu? (Yes. 49:4) Apa jawaban Tuhan kemudian? (Yes. 49:5-7) 

  2. Kapan Anda memutuskan untuk mengikut Tuhan? Apa penyebabnya? Bagaimana keadaan waktu itu jika dibandingkan dengan keadaan yang Anda alami saat ini? Apa yang menguatkan Anda untuk terus setia mengikut Tuhan? 

  3. Daud menaikan syukur dan doanya. Apa yang menjadi kerinduan Daud? (Mzm. 40:2) Apa jawaban Tuhan? (Mzm. 40:3-4) Bagaimana nasihat Daud kepada pembaca Mazmur kemudian? (Mzm. 40:5) Bagaimana pengalaman Daud bersama dengan Tuhan? (Mzm. 40:6-7) Apa yang menjadi komitmen Daud kemudian? (Mzm. 40:8-11) 

  4. Apa yang menjadi isi doa-doa Anda selama ini? Apa komitmen yang Anda buat setelah berdoa?

  5. Sebagai apa Paulus memperkenalkan dirinya kepada Gereja Korintus? (1 Kor. 1:1) Bagaimana Paulus menggambarkan Gereja Korintus itu? (1 Kor. 1:2) Apa saja yang sudah diberikan Allah kepada Gereja Korintus? (1 Kor. 1:4-9) 

  6. Kapan terakhir kali Anda berbagi pengalaman iman Anda kepada orang lain? Apa saja yang sudah Anda terima dari Allah selama ini? Menurut Anda, apakah ada maksud dari Allah saat Ia memberikan itu semua kepada Anda? 

  7. Apa yang dipahami Yohanes mengenai Yesus? Bagaimana Yohanes menggambarkan Yesus dan karya-Nya? Sebuatan apa yang digunakan Yohanes kepada Yesus? (Yoh. 1:29-34) Apa yang terjadi dengan kedua murid Yohanes setelah menjumpai Yesus? (Yoh. 1:35-37) Bagaimana tanggapan Yesus kepada dua murid Yohanes itu? Bagaimana juga tanggapan mereka kepada Yesus? (Yoh. 1:38-39) Siapa yang pada akhirnya mengikut Yesus? (Yoh. 1:40) Apa yang kemudian dilakukannya? (Yoh. 1:41-42) 

  8. Siapakah Yesus menurut Anda? Apa yang terjadi sehingga Anda mengenal Yesus dan karya-Nya? Apakah ada perubahan yang terjadi dalam diri orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Anda akibat Anda mengikut Yesus? Perubahan seperti apakah? 
Minggu 15 Januari 2017
Pdt. EE

Baptisan

diposkan pada tanggal 14 Jan 2017 10.19 oleh Admin Situs


Baptisan merupakan tanda dan meterai bahwa seseorang dengan hidup lamanya "diselamkan" ke dalam kematian Kristus dan dibangkitkan bersama kebangkitan Kristus sebagai manusia baru (Rm. 6:4). Artinya, baptisan itu menyatukan setiap orang percaya yang menerimanya dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 
6:3-5). Air baptisan merupakan lambang (tanda) darah Kristus yang menyucikan manusia dari dosa (I Ptr. 3:21). 
  1. Apakah yang membuat Yohanes terkejut saat Yesus datang dan meminta dibaptis? 
  2. Apakah dengan dibaptisnya Yesus, menunjukkan bahwa Ia juga manusia berdosa? 
  3. Apa tanda yang muncul setelah pembaptisan Yesus? 
  4. Jika saudara sudah dibaptis, apakah ada perubahan dalam kehidupan saudara?
  5. Jika saudara belum dibaptis, apakah ada hal yang menjadi ganjalan untuk menerima baptisan?
Minggu 8 Januari 2017
Pdt. NS

Berkarya Kebaikan Bagi Masa Depan

diposkan pada tanggal 3 Jan 2017 11.12 oleh Admin Situs

Pengkhotbah 3:1-13, Mazmur 8, Wahyu 21:1-6, Matius 25:31-46

Jika Allah memberikan kekuatan, kesehatan, kemampuan dan banyak lagi hal yang baik lainnya untuk kita, maka itu semua harus dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan disia-siakan, apalagi diabaikan, semuanya harus terkelola semaksimal mungkin.

Tetapi seiring dengan itu, ada yang perlu diingat dengan seksama juga bahwa, segala yang baik dan sempurna yang telah kita dapatkan dan kelola itu, jangan hanya digunakan untuk diri sendiri saja. Kebaikan Allah yang kita alami itu harus berlanjut kepada sesama ciptaan Allah yang lain. Demikian nasihat Tuhan melalui pembacaan Kitab Suci Minggu ini.

Berbahagialah kita yang mau ikut serta berkarya bersama Allah memberikan kebaikan di tahun ini, sebab pada akhirnya segala yang baik dan indah tidak jauh dari hidup kita. Selamat Tahun Baru!
  1. Penulis kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa untuk segala sesuatu ada masa dan waktunya. Kegiatan apa saja yang disebutkannya? (Pkh. 3:1-8) Apa yang sudah dilihat penulis kitab Pengkhotbah dalam hidupnya, siapa yang memberikan? Apa yang Allah buat indah? (Pkh. 3:9-13) 
  2. Apa saja yang sudah Anda lakukan di tahun lalu? Bagaimanakah Allah membuat indah kehidupan Anda? 
  3. Siapakah yang dipuji oleh Pemazmur dalam Mazmur 8:1-3? Apa saja karya Allah yang dimaknakan oleh Pemazmur? (Mzm. 8:4-5) Bagaimana Pemazmur menggambarkan dan memaknakan kehadiran manusia? (Mzm. 8:5-9) 
  4. Kapan terakhir kali Anda mengagumi karya Allah di dalam hidup Anda? Jika ada yang meminta Anda untuk menggambarkan diri Anda, bagaimanakah Anda menggambarkan dan memaknakan kehadiran Anda bagi dunia ini? 
  5. Apa yang dilihat dan didengar oleh Yohanes? (Why. 21:1-4) Perintah apa yang diberikan kepada Yohanes? (Why. 21:5-6) 
  6. Apa yang menjadi cita-cita, rencana dan harapan Anda di tahun ini? Apakah cita-cita, rencana dan harapan itu ada kaitannya dengan orang lain dan sesama ciptaan Allah lainnya? 
  7. Dengan menggunakan perumpamaan apa Tuhan Yesus menggambarkan saat Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya? (Mat. 25:31-33) Apa yang dikatakan “Sang Raja” kepada orang-orang yang disebut “domba-domba” pada sisi sebelah kanan? (Mat. 25:34-36) Apa tanggapan mereka saat mendengar perkataan “Sang Raja”? (Mat. 25:37-39) Bagaimana penjelasan “Sang Raja”? (Mat. 25:40) Lalu apa yang dikatakan “Sang Raja” kepada yang di sebelah kiri-Nya? (Mat. 25:41-43) Apa jawaban “kambing-kambing” pada sisi sebelah kiri? (Mat. 25:44) Apa tanggapan “Sang Raja” terhadap pandangan mereka? (Mat. 25:45-46) 
  8. Apa yang menghambat seseorang untuk melakukan kebaikan bagi sesama ciptaan Allah menurut Anda? Siapakah di dalam hidup Anda yang dapat dikategorikan sebagai Saudara dari Tuhan Yesus yang paling hina? Apa yang akan Anda lakukan untuknya atau untuk mereka? 
Minggu 1 Januari 2017
Pdt. EE

Damai itu telah datang

diposkan pada tanggal 3 Jan 2017 11.05 oleh Admin Situs   [ diperbarui3 Jan 2017 11.06 ]

Lukas 2:8-20

Hari ini umat Kristen merayakan Natal. Saat Natal tiba kita menjadi sibuk untuk menyiapkan ini dan itu. Namun, apakah makna dibalik tiap kesibukan yang kita lakukan itu? Bukankah acapkali Natal yang kita rayakan tak ubahnya seperti sebuah rutinitas tahunan tanpa makna?

Natal bukanlah sekedar peringatan tanggal kelahiran Yesus yang menelan biaya besar, namun hanya menyisakan rasa penat dan lelah sesudahnya. Natal adalah peringatan dan perayaan hadirnya damai di bumi melalui sang sumber damai yakni Yesus Kristus. Hal ini tergambar dalam Lukas 2:8-20. Lukas menggunakan kata eirene untuk menyebut damai sejahtera, yang bermakna keadaan jiwa yang tenang. Jadi, kedamaian yang dirayakan saat Natal adalah kedamaian yang bersumber dari Yesus Kristus sendiri, bukan ditentukan lewat hal-hal yang bersifat fana di dunia ini.

Bagaimana dengan perayaan Natal yang selama ini kita selenggarakan?
  1. Sudahkah perayaan natal kita menjadi perayaan hadirnya damai di bumi? 
  2. Apakah Natal yang kita rayakan membawa kelegaan bagi mereka yang selama ini hidup ketakutan? 
  3. Apakah Natal yang kita rayakan memberi ruang bagi setiap orang untuk hidup bersama dengan sukacita? 
  4. Apakah Natal yang kita rayakan membawa semangat baru bagi mereka yang mendengar dan mengalaminya? 
Selamat Hari Natal 
Selamat merayakan hadirnya damai di bumi.

Minggu 25 Desember 2016
Pdt. NS

Tuhan Hadir Beserta Kita

diposkan pada tanggal 16 Des 2016 20.22 oleh Admin Situs

Yesaya 7:10-16, Mazmur 80:1-7, 17-19; Roma 1:1-7; Matius 1:18-25

Tuhan tidak jauh. Iman kita menegaskan bahwa Ia sungguh menghargai apa yang sudah diciptakan-Nya ini dan mau terlibat dengan sepenuh cinta kasih sayang untuk terus menjadikannya baik. Melalui kehadiran Tuhan Yesus Kristus, yang Roh dan Firman-Nya sungguh sangat dekat dengan kita, penyertaan Tuhan memberikan kepada kita kekuatan yang baru setiap hari.

Kepada Raja Ahas yang ragu, Ia menyatakan kepedulian-Nya. Ia tidak enggan mendengar doa setiap orang yang berpengharapan. Ia mengubahkan Saulus yang bengis dan keras kepala menjadi pembaru kehidupan banyak orang. Ia hadir menopang Yusuf dan Maria untuk terus melangkah dalam tindakan iman dan pada saat-Nya menegaskan Injil, kabar baik bagi dunia yang Ia kasihi ini.
  1. Raja Ahas yang sedang kebingungan menghadapi gempuran Damsyik dan Syria, mencari perlindungan kepada Asyur. Dalam kebimbangan itu, Allah memberi pertanda rencana penyelamatan-Nya. Apa yang Allah lakukan? (Yes. 7:10-11) Bagaimana respons Ahas? (Yes. 7:12) Apa tanggapan Allah kemudian (Yes. 7:13-16)? 

  2. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini tentang sikap Allah kepada umat yang sedang khawatir, bingung dan mengalami kesusahan? Apakah yang menjadi tanda-tanda dari Allah bahwa Anda sekarang ini aman dalam penyertaan-Nya? 

  3. Tentang apakah doa dalam Mazmur 80:1-7? Apa saja permohonan sang pendoa? (Mzm. 80:4-8, 18-20) Kapan terakhir kali doa Anda mirip dengan apa yang didoakan oleh Pemazmur ini? 

  4. Paulus menjelaskan tentang Injil kepada jemaat di Roma. Bagaimana penjelasannya? (Rm. 1:2-4) Apa dampak Injil itu bagi dirinya? (Rm. 1:5) Bagi jemaat Roma? (Rm. 1:6-7) 

  5. Apa dampak Injil bagi diri Anda? Bagi orang-orang di sekitar kehidupan Anda? 

  6. Apa yang terjadi dengan Maria sebagai tunangan Yusuf sebelum mereka hidup sebagai suami isteri? (Mat. 1:18) Apa yang direncanakan Yusuf kemudian? (Mat. 1:19) Apa yang dilakukan Tuhan kemudian? (Mat. 1:20-21) Bagaimana penginjil Matius mengaitkan ini dengan nubuat nabi Yesaya? (Mat. 1:22-23) Apa yang dilakukan Yusuf kemudian? (Mat. 1:24-25) 

  7. Ada perubahan dalam hidup Yusuf saat ia mendapat penegasan bahwa Allah menyertai kehidupan-Nya dan ia menjadi rekan kerja Allah dalam menciptakan kebaikan bagi dunia ini. Perubahan-perubahan apa saja dalam hidup Anda saat mengimani bahwa Tuhan hadir beserta kita? Apa akibat perubahan-perubahan itu bagi hidup Anda dan orang-orang di sekitar Anda? 

Minggu 18 Desember 2016
Pdt. EE

1-10 of 343