Jauh di mata, semau-maunya

diposting pada tanggal 14 Jan 2015 13.55 oleh Essy Eisen   [ diperbarui14 Jan 2015 14.05 ]
Dasar perenungan : Hakim-Hakim 2:6-15, 2 Korintus 10:1-11

Setelah Yosua, pemimpin besar pengganti Musa yang memimpin umat menuju kepada apa yang baik di Kanaan mati, umat Israel hidup kembali dalam keangkuhan. Seolah-olah pikiran mereka menjadi tumpul untuk menyadari apa yang sudah Allah perbuat bagi hidup mereka sehingga mereka dapat menjadi ada sebagaimana ada mereka saat itu. Allah dianggap jauh dan tidak memiliki dampak bagi hidup mereka.

Demikian juga terjadi dalam kehidupan gereja di Korintus. Saat surat demi surat Paulus mereka dapatkan, namun hal itu ternyata tidak cukup menggetarkan pikiran dan hati mereka untuk menyimak dengan sungguh pesan Injil dan menghidupinya dengan ketulusan. Gereja Korintus menjadi seperti anak-anak yang menjadi taat jika dekat orang tua dan semau-maunya jika tidak terlihat.

Jauh di mata, dan hidup semau-maunya bukanlah sikap iman yang dewasa. Bukankah cinta sejati itu tampak dalam pendirian yang walaupun jauh di mata, tetapi dekat di hati? 

“Ampunilah kami ya Allah, jika pikiran dan hati kami tidak cukup peka menyadari betapa Engkau dekat dan berkuasa menuntun hidup kami yang fana ini.”
Comments